“Sudah seharusnya diadakan pendidikan Universitas di Hindia Belanda (Indonesia).” Ungkap salah seorang anggota Volksraad dengan mantap. Sontak ia mencuri perhatian semua orang yang berada di ruangan.

“Melawan Bangsa Barat yang sudah maju, kaum muda di Hindia Belanda (Indonesia) harus melawan dengan kepandaian yang diperoleh melalui pendidikan.” Lanjutnya dengan meyakinkan. Nampaknya, seorang dokter lulusan Universitas di Belanda tersebut berhasil meyakinkan anggota yang lain, sehingga tahun 1927 oleh Pemerintah Hindia Belanda didirikan Perguruan Tinggi Kedokteran yang disebut Geneeskundige Hoge School (GHS). GHS merupakan Perguruan Tinggi pertama dan Lembaga Pendidikan Tinggi ketiga di Hindia Belanda. GHS didirikan di Batavia (sekarang Universitas Indonesia, Salemba), merupakan kelanjutan dari STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische School).

Suasana sidang Volksraad

Dokter inipun sempat membuat geger orang-orang pada tahun 1900, dengan menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu di Belanda. Pewarta Wolanda menjadi surat kabar berbahasa melayu yang pertama kali diterbitkan di Belanda, oleh seorang dokter lulusan STOVIA bernama Abdul Rivai. Pewarta Wolanda menjadi gebrakan yang tak biasa, membuktikan nasionalisme seorang Abdul Rivai. Selain menjadi penggagas dan pengurus Pewarta Wolanda, Abdul Rivai juga aktif mengirimkan tulisan-tulisannya yang tajam ke berbagai surat kabar yang terbit di Belanda dan Tanah Air.

Surat Kabar Bandera Wolanda (perkembangan dari Pewarta Wolanda)

Abdul Rivai lahir di Palembayan, Agam, Sumatera Barat, pada tanggal 13 Agustus 1871 dari pasangan Abdul Karim dan Siti Kemala Ria. Abdul Rivai merupakan salah satu anak bumiputera yang dinilai paling cemerlang di akhir abad ke-19. Selain ulung sebagai jurnalis, ia juga mempunyai catatan mengagumkan di ranah akademis. Abdul Rivai menjadi orang pertama yang menempuh pendidikan tinggi kedokteran di Eropa, yaitu di Universitas Utrecht. Tak cukup sampai disitu, ia juga menjadi orang Indonesia pertama yang memperoleh gelar doktoral di Universitas Gent, Belgia pada tahun 1911. Ia juga sempat berkelana ke berbagai negara dari Amerika hingga Eropa.

Di panggung pergerakan nasional, Abdul Rivai merupakan perintis pembentukan cabang Indische Partij (IP) di wilayah Sumtera. Indische Partij merupakan organisasi pergerakan yang didirikan oleh Tiga Serangkai, yakni Tjipto Mangoenkoeseoemo, Soewardi Soerjaningrat/Ki Hajar Dewantara, dan Ernest Douwes Dekker/ Danudirja Setia Budi, pada 1912. Indische Partij merupakan partai yang keanggotaannya terbuka bagi semua orang di Hindia Belanda dan program perjuangannya mengusung nasionalisme Hindia.

Indische partij (IP) merupakan partai politik yang dikenal cukup berani dalam melontarkan kritikannya. Salah satunya merupakan tulisan Suwardi Surjaningrat yang berjudul “Als Ik een Nederlander was” (Andai Aku Seorang Belanda) dalam rangka menganggapi perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis yang ke-100 dengan mengambil dana dari rakyat Hindia. Akibatnya Tiga Serangkai di tangkap dan diasingkan ke negeri Belanda. Setelah IP dibubarkan pada tahun 1913, Abdul Rivai melanjutkan perjuangannya di Insulinde. Ia kemudian terpilih menjadi anggota Volksraad sebagai perwakilan dari Insulinde.

Sebagai seorang dokter, Abdul Rivai dikenal sebagai orang yang cerdas, ia menjadi perintis ahli mikrobiologi yang diperolehnya dari Institut Pasteur di Negeri Belanda kemudian dikembangkan di Indonesia. Tahun 1932, Abdul Rivai membuka klinik pengobatan di Tanah Abang, Batavia, tanpa lupa untuk terus menciptakan tulisan-tulisannya yang tajam. Pada usia 66 tahun, tepatnya pada 16 Oktober 1937, Abdul Rivai menghembuskan nafas terakhir akibat penyakit yang dideritanya.

 

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *