Halo Sobat Muskitnas!
Pada kesempatan kali ini, kami akan membawa kalian memasuki lorong waktu untuk mengingat kembali perjuangan salah satu tokoh berdedikasi tinggi dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan. Seperti kutipan dari tokoh Tjipto Mangunkusumo “Kartini ingin melihat rakyatnya bangun, bangkit dari keadaan tidur pulas yang telah beratus-ratus tahun mencekam mereka”. Yuk kita simak penjelasan berikut ini!

Kontributor: Zulfa Nurdina Fitri

Kartini lahir pada 21 April 1879 di Mayong, Jepara dari pasangan Raden Mas (R.M.) Sosroningrat dan Mas Ajeng Ngasirah. Kartini lahir dalam lingkungan keluarga bangsawan, karena itu berhak menyandang gelar Raden Ajeng. Kartini sering mengabaikan gelar tersebut, dalam salah satu suratnya ia menulis “panggil aku Kartini saja”.

Pada 1885 Kartini dimasukan ke sekolah dasar eropa atau Europesche Lagere School(ELS). Keberadaannya di sekolah menarik perhatian, karena mampu menguasai bahasa Belanda dengan baik secara lisan dan tulisan. Kartini termasuk siswa cerdas, karena itu pada awal 1892 dinyatakan lulus dari ELS dengan nilai baik.

Kartini Kecil

Kartini berharap bisa melanjutkan pendidikan ke Hogere Burgere School atau sekolah menengah umum di Semarang, tetapi ayahnya tidak mengizinkan. Kartini dipaksa tunduk pada aturan adat yang mengharuskannya dipingit sampai datangnya lamaran dari seorang pria. Rumah besar berhalaman luas dengan tembok tinggi dan tebal menjadi kurungan yang memutuskan hubungan Kartini dengan dunia luar.

Masa pingitan menjadi masa yang penuh dengan kesedihan dan kesunyian, karena tidak ada yang mendukung gagasannya dalam membela kaum perempuan. Kartini sadar menangisi nasib tidak akan menyelesaikan masalah, karena yang diperlukan sekarang berusaha dan berjuang.

Tempat Tidur Kartini

Kartini memanfaatkan ruang pingitan untuk memuaskan kegemarannya membaca, karena itu R.M. Sosroningrat berlangganan kotak bacaan (leestrommel) yang berisi buku, koran, dan majalah dari dalam dan luar negeri yang ditukar setiap minggu. Bacaan yang belum dipahami akan dicatat dan ditanyakan kepada kakak kesayangannya, R.M. Sosrokartono yang sedang melanjutkan pendidikan HBS di Semarang.

Pada 1896 kedudukan Kartini berubah menjadi puteri tertua, yang berhak mengatur urusan adik-adiknya. Kartini mengajak R.A. Roekmini dan R.A. Kardinah tinggal satu kamar, sehingga tercipta kesetaraan dan kebersamaan di antara mereka. Kebersamaan tiga saudara dalam menjalani pingitan menjadikan beban yang berat terasa ringan,  menggambar, melukis, membatik dan main piano menjadi aktivitas yang dijalani setiap hari.

Potret Tiga Saudara Membatik

Pada 2 Mei 1898 R.M. Sosroningrat memutuskan untuk membebaskan tiga saudara dari pingitan. Mereka diikutsertakan dalam perayaan penobatan Ratu Wilhelmina di Semarang. Kehadiran tiga saudara di Semarang mendapat cibiran dari bangsawan yang masih berpikiran kolot.

Kartini memendam cita-cita menjadi seorang guru, ia berkeinginan melanjutkan pendidikan ke Belanda. Kartini berusaha keras mendapatkan beasiswa, tapi usahanya tidak diizinkan oleh orang tuanya. Pada 8 Agustus 1900 Direktur Depertemen Pendidikan, Kerajinan, dan Agama, J.H. Abendanon, berkunjung ke Jepara untuk mendiskusikan rencana pendirian Kostschool atau sekolah berasrama gadis-gadis bangsawan.

J.H. Abendanon menyarankan Kartini masuk sekolah dokter, karena tidak memerlukan biaya dan letaknya di Batavia. Harapan tersebut kembali pupus karena ayahnya tidak setuju, alasannya murid sekolah tersebut semuanya laki-laki. Pada 19 Maret 1901 Gubernur Jenderal setuju mengirim guru wanita ke Jepara untuk mendidik Kartini dan adik-adiknya. Harapan untuk mendapatkan pendidikan kembali pupus, karena R.M. Sosroningrat menolak kehadiran guru yang akan mendidik anak-anaknya.

Pada 20 April 1902 anggota parlemen Belanda, Van Kol, berkunjung ke Jepara, ia berjanji akan membantu memperjuangkan pendidikan Kartini. Kartini dan Roekmini disarankan untuk mengajukan permohonan beasiswa kepada pemerintah. Perjuangan Van Kol mendapatkan dukungan dan persetujuan dari parlemen dan pemerintah Belanda.

Keberhasilan Van Kol memperjuangkan bea siswa untuk Kartini membuat J.H. Abendanon resah. Nyonya Abendanon berusaha memengaruhi Kartini untuk membatalkan niatnya, bahkan pada 24 januari 1903 J. H. Abendanon datang ke Jepara menemui Kartini melanjutkan usaha isterinya. Keputusan yang sangat aneh dan misterius lahir, Kartini membatalkan niatnya melanjutkan pendidikan ke Belanda.

Pada Juni 1903 Kartini membuka sekolah untuk anak gadis di pendopo Kabupaten Jepara. Sekolah ini menekankan pembinaan budi pekerti dan pembinaan karakter. Proses pendidikan berlangsung seperti dalam suatu rumah, dimana anggotanya dituntut saling mencintai dan saling mengajar. Pertengahan Juli 1903 perhatian Kartini dalam mengelola sekolah mulai terpecah, karena datang surat lamaran dari Bupati Rembang, R. A. Djojo Adiningrat. Kartini untuk menerima lamaran tersebut, karena ingin membahagiakan orang tuanya.

Kartini dan Roekmini Mengajar di Sekolahnya

Pada 24 Juli 1903, Kartini menerima Surat Keputusan Gubernur Jenderal yang memberikan izin kepada Kartini dan Roekmini untuk melanjutkan pendidikan ke Batavia. Surat keputusan tersebut menjadi tidak berarti, karena Kartini sudah memutuskan untuk menikah, sementara Roekmini tidak mungkin pergi sendiri belajar di Batavia. Kartini berusaha mengalihkan beasiswa yang sudah didapatkannya untuk Agus Salim, pelajar dari Sumatera yang menjadi lulusan terbaik seluruh HBS.

Kartini sadar perjuangan memperbaiki nasib bangsa harus terus berjalan, karena itu ia menjalin korespondensi dengan pelajar School Tot Opleiding Van Inlandsche (STOVIA) atau sekolah kedokteran bumiputra. Kartini berhasil menggugah rasa kebangsaan pelajar STOVIA, karena itu pelajar STOVIA memanggilnya dengan sebutan mbak yu atau kakak.

Pelajar STOVIA

Pada Februari 1903 Kartini menulis nota untuk Menteri Jajahan, Idenburg, dengan judul “Berilah Jawa Pendidikan”. Nota tersebut menjadi rujukan pemerintah Belanda dalam menyiapkan undang-undang pendidikan bagi negeri jajahan. Nota Kartini merupakan akumulasi pemikiran Kartini yang mendasar, aspiratif, dan visioner untuk menuju emansipasi bangsa yaitu kebangkitan kembali Jawa sebagai bangsa, yang hidup berdampingan bersama Belanda dengan tidak saling menindas.

Pada 19 April 1903 Kartini kembali menulis nota yang ditujukan kepada Gubernur Jenderal Rooseboom.  Nota yang berisi tentang pendirian sekolah untuk gadis Jawa tersebut ditulis dengan nada geram, Kartini prihatin dengan kondisi masyarakat yang masih jauh dari sejahtera sementara kekayaan alamnya sangat melimpah. Kartini menuntut pemerintah untuk memberikan pendidikan kepada wanita, karena mereka menjadi pemegang peradaban.

Pada 8 November 1903 bertempat di pendopo Kebupaten Jepara dilaksanakan pernikahan Kartini dengan R.A Djojo Adiningrat. Pernikahan ini tidak disertai dengan upacara cium kaki mempelai laki-laki oleh mempelai perempuan sesuai dengan permintaan Kartini. Tiga hari setelah pernikahan Kartini pindah ke Rembang untuk memulai hidup baru sebagai seorang istri.

Kartini Mendampingi Dinas Suami

Aktivitas keseharian Kartini mulai terhambat setelah mengandung anak pertama. Kondisi fisiknya menurun sehingga beberapa kali menderita sakit. Pada 13 September 1904 Kartini melahirkan anak laki-laki dengan selamat dan sehat, tapi tanpa sebab yang jelas kondisi tubuh Kartini melemah, dokter tidak bisa mengembalikan kesehatan tubuhnya. Pada 17 September 1904 akhirnya Kartini wafat dalam usia yang masih sangat muda 25 tahun.

Makam RA. Kartini

Raden Ajeng Kartini sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita – cita, tekad, dan perbuatannya. Ide – ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaum perempuan dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, beliau mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi. Selamat Hari Kartini. Semoga semangat juang Kartini akan selalu tertanam rapi dalam jiwa-jiwa perempuan Indonesia.

Untuk lebih mengenal sosok RA. Kartini, kalian juga bisa mengunduh e-book Sisi Lain Kartini di muskitnas.net atau menonton video edukasi singkat melalui kanal Youtube Museum Kebangkitan Nasional ya!

https://www.youtube.com/watch?v=kEXgRFk9YMs

Sumber:
Marihandono, D., Khozin, N., Arbaningsih, D., & Tangkilisan, Y. 2016. Sisi Lain Kartini. Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional
Materi Pameran Temporer Sisi Lain Kartini Museum Kebangkitan Nasional 2016

Kategori: Artikel

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buka Chat
Hubungi Kami