Hari Musik Nasional di diperingati Indonesia setiap tanggal 9 Maret, bertepatan dengan hari lahir salah satu pahlawan nasional, Wage Rudolf Soepratman, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya. Terlepas dari perdebatan tanggal lahir WR Supratman yang jelas sebagai generasi muda kita harus berterima kasih kepada musisi sekelas beliau. Dengan kejeniusan beliau dalam menciptakan lagu, kita bisa merasakan atmosfer semangat persatuan dalam lantunan lirik dan nada dalam Indonesia Raya. Adanya Hari Musik Nasional ini diharapkan masyarakat bisa ikut membantu untuk mengapresiasi karya musisi tanah air.

Museum Kebangkitan Nasional menyimpan berbagai macam koleksi, baik itu seputar perjalanan organisasi Boedi Oetomo dan sejarah lahirnya pendidikan nasional. Salah satu koleksi yang menarik perhatian pengunjung ialah koleksi peninggalan pelajar School Tot Opleiding Van Indische Artsen (Sekolah Pendidikan Dokter Hindia) atau STOVIA, yaitu biola milik Raden Maryono (Raden  Mardjono). Beliau merupakan salah satu lulusan STOVIA dan juga seorang Asisten Guru yang bertugas dari 1920 sampai dengan 1921 yang sangat gemar memainkan biola ketika waktu luang. Biasanya, R. Maryono memainkan biola tesebut di halaman gedung STOVIA di bawah pohon Jawi-Jawi, memang Biola merupakan alat musik yang sangat populer pada masyarakat Hindia Belanda dari pengaruh kesenian dari Eropa. Kini, koleksi biola tersebut berada di Ruang Asrama Museum Kebangkitan Nasional. 

Koleksi biola R. Mardjono yang berada di Ruang Asrama Museum Kebangkitan Nasional

Ada banyak cara yang digunakan para siswa untuk mengisi waktu istirahat di halaman gedung STOVIA. Para pelajar yang tinggal di asrama dan jarang sekali keluar dari lingkungan STOVIA apalagi menyempatkan waktu untuk pulang bertemu dengan keluarganya di kampung halaman, mereka para pelajar STOVIA mengisi waktu luang serta mengusir kejenuhan dengan berbagai kegiatan seperti hal nya R. Maryono memainkan biolanya di tengah taman. Serta ada berbagai macam kegiatan antara lain membaca buku di ruang rekreasi (kini menjadi aula Museum Kebangkitan Nasional), berlatih kesenian Jawa (wayang orang dan gamelan) serta berdiskusi di tengah taman.

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *