Nama koleksi ini Miniatur Kapal VOC dengan nomor registrasi 0385. Memiliki ukuran 210 x 95 cm dan berbahan kayu, kain, dan tali. Koleksi ini berada di Ruang Ekspedisi Rempah Bangsa Eropa Museum Kebangkitan Nasional.

Kontributor: Juniawan Dahlan

Miniatur Kapal VOC
Merupakan salah satu bentuk kapal yang digunakan oleh penjelejah bangsa Belanda untuk berlayar menuju benua dan pulau lainnya diluar wilayah Eropa. Kapal layar dengan model seperti ini diperkirakan dipergunakan semasa awal kejayaan VOC yaitu sekitar awal abad 17 hingga 18. VOC menggunakan kapal-kapal tersebut sebagai sarana dalam perdagangan internasional mereka. Kapal umumnya dimuati dengan berbagai barang dagangan berharga yang didapat dari berbagai tempat dimana mereka singgah dan melakukan perdagangan. Komoditas perdagangan yang terkenal pada masa itu antara lain seperti rempah-rempah, hasil bumi dan alam yang bernilai tinggi hingga benda berharga seperti emas, perak dan barang kerajinan bernilai tinggi lainnya.

VOC sebagai salah satu kongsi dagang terbesar pada masa itu bergantung pada pelayaran sebagai jalur utama mereka dalam melakukan perdagangan, dan tentunya dukungan kapal yang kuat, mampu berlayar jauh, dan berukuran besar sehingga dapat memuat banyak barang sangat dibutuhkan. Era pembuatan kapal di Belanda meningkat pada abad 17, hal ini salah satunya didorong oleh kebutuhan VOC akan transportasi kapal dagang yang dipergunakan untuk berlayar ke wilayah-wilayah jalur perdagangan mereka. Saat itu permintaan akan produksi kapal yang lebih cepat dan bermuatan banyak menjadi tuntutan, sehingga mendorong para pembuat kapal untuk bereksperimen dalam merancang kapal buatannya. Akan tetapi tidak semua kapal yang dibuat dapat berlayar dengan sukses dan kembali dengan selamat, banyak pula yang karam dan tenggelam dalam perjalanannya. Faktor cuaca, laut, dan bahkan pertempuran dengan kapal lainnya dapat menjadi penyebab karamnya kapal. Untuk itu kapal biasanya dilengkapi dengan persenjataan seperti meriam dan senapan untuk mempertahankan diri dari serangan perompak atau kapal dagang pesaing lainnya, tidak jarang juga kapal dengan persenjataan yang banyak ini digunakan sebagai alat perang di wilayah perairan dan menjaga wilayah koloni, benteng, atau kanor dan gudang perdagangan.

Pelayaran Bangsa Eropa
Era pelayaran dan penjelajahan bangsa Eropa yang telah dimulai pada abad 15 bukan tanpa sebab ataupun keinginan mereka sendiri. Faktor geopolitik yang terjadi menjadi salah satu pemicu gerakan penjelajah bangsa Eropa ini untuk mencari dunia baru diluar dari wilayah yang mereka telah kenal saat itu. Jatuhnya Konstatinopel pada 1453 menjadi pemicu kuat awal penjelajahan bangsa Eropa, karena dengan kejadian tersebut terjadi perubahan politik yang cukup besar dalam dunia perekonomian di Eropa. Perlintasan dagang di perairan Laut Tengah yang biasanya menjadi jalur perdagangan penting dimana barang yang berasal dari Asia bisa masuk ke Eropa menjadi terputus sehingga menyulitkan barang-barang untuk dapat masuk ataupun keluar. Hal ini mendorong bangsa Eropa untuk melakukan penjelajahan dan menemukan rute baru untuk dapat memulihkan ekonomi dengan jalan perdagangan. Didukung dengan penemuan-penemuan terbaru pada saat itu seperti kompas, teropong, peta, dan lainnya dalam hal navigasi memberanikan para penjelajah Eropa ini untuk bertualang keluar dari negerinya. Ambisi penjelajahan Eropa ini dikenal dengan sebutan 3G, yaitu Gold, Glory, dan Gospel. Gold, dimana penjelajahan bertujuan untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dengan perdagangan komoditas berharga. Salah satu komoditas berharga tersebut adalah rempah-rempah yang telah lama dikenal di benua Eropa sebagai bahan penting dalam kehidupan sehari-hari mulai dari makanan hingga pengobatan. Glory, dimana penjelajahan bertujuan untuk mendapatkan koloni ataupun wilayah baru sebanyak-banyaknya sehingga negara akan menjadi semakin besar dan berkuasa di dunia. Gospel, dimana penjelajahan bertujuan untuk menyebarkan paham agama ke seluruh tempat yang didatangi, agama yang disebarkan para penjelajah Eropa ini adalah agama mayoritas yang mereka anut di negaranya yaitu agama Kristen.

Ilustrasi peta penjelajahan bangsa Eropa
Sumber: vaniadishalsa.wordpress.com

Penjelajahan Belanda ke Nusantara
Belanda merupakan salah satu bangsa Eropa yang melakukan pelayaran dan penjelajahan hingga ke kepulauan Nusantara. Kedatangan mereka ke Nusantara tidak lain adalah karena tergiur dengan perdagangan rempah-rempah yang melimpah yang ada di Nusantara. Keberhasilan Belanda menuju kepulauan Nusantara didukung dengan didapatnya peta jalur menuju kepulauan penghasil rempah yang diambil dari pedagang Portugis di Lisbon. Sebelum kedatangan bangsa Belanda, bangsa Portugis merupakan bangsa Eropa pertama yang berhasil berlayar dan menemukan rute perdagangan ke kepulauan Nusantara. Berbekal hal tersebut pelayaran pertama Belanda menuju Nusantara dimulai dan pelayaran ini dipimpin oleh Cornelis de Houtman yang telah mempelajari peta rute tersebut selama berbulan-bulan sebelum berangkat. Pelayaran dimulai pada April 1595 dengan empat buah kapal yang berangkat dari Amsterdam.

Cornelis de Houtman
Sumber: Wikipedia

Dalam perjalanan ini banyak masalah yang terjadi, kekurangan bahan makanan, perselisihan antara awak kapal, hingga penyakit yang menyebabkan kematian beberapa awak kapal. Setelah perjalanan panjang tersebut pada Juni 1596 Cornelis de Houtman berhasil tiba di Pulau Jawa tepatnya di pelabuhan Banten. Keberadaan kapal-kapal dagang Belanda ini awalnya disambut baik, namun tidak lama kemudian meraka diusir dari Banten karena sikap dan perilaku mereka yang kasar dan tidak baik. Perjalanan  kemudian berlanjut melalui pantai utara Jawa dan mereka diserang perompak di sekitar Tuban. Sesampainya di Madura, lagi-lagi sikap kasar dan tidak baik ditunjukkan oleh de Houtman dan awak kapalnya dengan menyerang penduduk sekitar yang padahal telah menolong mereka memperbaiki kapal dan menolong awak yang sebelumnya diserang perompak, sehingga beberapa awak kapal ditangkap dan ditahan penguasa setempat. Pada 1597 Cornelis de Houtman dan awaknya berhasil kembali ke Belanda dengan membawa rempah-rempah, namun dari sekitar 249 awak kapal yang berangkat hanya tersisa 87 yang berhasil kembali. Walaupun perjalanan ini memakan banyak korban dan kerugian, akan tetapi tidak sepenuhnya dianggap kegagalan oleh Belanda, karena dengan terbukanya jalur menuju sumber rempah maka dalam beberapa tahun kemudian mulai banyak kapal dagang Belanda yang berlayar menuju Nusantara. Ekspedisi dagang dalam jumlah besar ini kemudian didukung dengan terbentuknya kongsi dagang Belanda yang dikenal dengan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) pada Maret 1602. Awalnya kedatangan VOC ke Nusantara memang dilatarbelakangi oleh keinginan berdagang dan mendapatkan keuntungan yang besar dari sumber rempah, akan tetapi lambat laun sikap VOC mulai menunjukkan tabiat yang sebenarnya yaitu ingin menguasai rempah dan jalurnya yang ada di Nusantara. Strategi dagang dan diplomasi yang awalnya dijalankan VOC lambat laun berubah ke kekerasan, peperangan, dan penaklukan wilayah-wilayah yang ada di Nusantara. Kolonialisme Belanda pun semakin kuat dengan jatuhnya pusat-pusat dagang di Nusantara ke dalam monopoli VOC, bahkan hingga keruntuhannya pada 1799 kolonialimse Belanda belum berakhir karena seluruh hak VOC diberikan kepada negeri Belanda sehingga Nusantara yang menjadi koloni Belanda saat itu kini dibawah pemerintahan Hindia Belanda.

Lukisan kapal-kapal Belanda yang kembali dari Nusantara, koleksi Rijkmuseum. Sumber: kompas.com
Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *