Nama koleksi ini Miniatur Kapal Portugis dengan nomor registrasi 0386. Memiliki ukuran 210 x 60 cm, berbahan dasar kayu, kain, dan tali. Koleksi ini berada di Ruang Ekspedisi Rempah Bangsa Eropa Museum Kebangkitan Nasional.

Kontributor: Juniawan Dahlan

Miniatur Kapal Portugis
Merupakan salah satu bentuk kapal yang digunakan oleh penjelajah bangsa Portugis untuk berlayar menuju benua dan pulau lainnya di luar wilayah Eropa. Kapal layar dengan model seperti ini diperkirakan dipergunakan sekitar abad 16 hingga 17. Portugis menggunakan kapal-kapal tersebut sebagai sarana dalam perdagangan internasional mereka. Kapal umumnya dimuati dengan berbagai barang dagangan berharga yang didapat dari berbagai tempat dimana mereka singgah dan melakukan perdagangan. Komoditas perdagangan yang terkenal pada masa itu antara lain seperti rempah-rempah, hasil bumi dan alam yang bernilai tinggi hingga benda berharga seperti emas, perak dan barang kerajinan bernilai tinggi lainnya.

Kapal layar seperti ini dikenal dengan nama cerraca tau nau dalam bahasa Portugis dan digunakan sebagai kapal dagang pelayaran antar benua. Secara umum kapal tersebut merupakan kapal dengan layar persegi dan layar sabang pada tiangnya, bentuk lambung kapal yang rata dan besar, serta buritan yang cembung dan tinggi. Pada masanya kapal layar Portugis merupakan salah satu rancangan kapal terbaik Eropa karen ukurannya yang tergolong besar saat itu serta kekuatan dan kemampuannya berlayar jauh. Dengan kemampuan teknologi perkapalan ini, maka Portugis menjadi salah satu pionir penjelajahan bangsa Eropa ke benua lainnya, terutama semenjak jalur pelayaran rempah terputus.

Pelayaran Bangsa Eropa
Era pelayaran dan penjelajahan bangsa Eropa yang telah dimulai pada abad 15 bukan tanpa sebab ataupun keinginan mereka sendiri. Faktor geopolitik yang terjadi menjadi salah satu pemicu gerakan penjelajah bangsa Eropa ini untuk mencari dunia baru diluar dari wilayah yang mereka telah kenal saat itu. Jatuhnya Konstatinopel pada 1453 menjadi pemicu kuat awal penjelajahan bangsa Eropa, karena dengan kejadian tersebut terjadi perubahan politik yang cukup besar dalam dunia perekonomian di Eropa. Perlintasan dagang di perairan Laut Tengah yang biasanya menjadi jalur perdagangan penting dimana barang yang berasal dari Asia bisa masuk ke Eropa menjadi terputus sehingga menyulitkan barang-barang untuk dapat masuk ataupun keluar. Hal ini mendorong bangsa Eropa untuk melakukan penjelajahan dan menemukan rute baru untuk dapat memulihkan ekonomi dengan jalan perdagangan. Didukung dengan penemuan-penemuan terbaru pada saat itu seperti kompas, teropong, peta, dan lainnya dalam hal navigasi memberanikan para penjelajah Eropa ini untuk bertualang keluar dari negerinya. Ambisi penjelajahan Eropa ini dikenal dengan sebutan 3G, yaitu Gold, Glory, dan Gospel. Gold, dimana penjelajahan bertujuan untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dengan perdagangan komoditas berharga. Salah satu komoditas berharga tersebut adalah rempah-rempah yang telah lama dikenal di benua Eropa sebagai bahan penting dalam kehidupan sehari-hari mulai dari makanan hingga pengobatan. Glory, dimana penjelajahan bertujuan untuk mendapatkan koloni ataupun wilayah baru sebanyak-banyaknya sehingga negara akan menjadi semakin besar dan berkuasa di dunia. Gospel, dimana penjelajahan bertujuan untuk menyebarkan paham agama ke seluruh tempat yang didatangi, agama yang disebarkan para penjelajah Eropa ini adalah agama mayoritas yang mereka anut di negaranya yaitu agama Kristen.

Penjelajahan Portugis ke Nusantara
Portugis merupakan bangsa Eropa pertama yang berhasil mencapai Nusantara sebelum kedatangan bangsa Eropa lainnya seperti Belanda dan Inggris. Sebelum melakukan kontak dagang langsung di kepulauan Nusantara, Portugis sebelumnya mendapatkan hasil rempah-rempah dari perdagangannya dengan bangsa Arab dengan harga yang cukup tinggi, sehingga hal ini mendorong mereka untuk mendapatkan rempah ke sumber perdagangannya langsung. Rempah-rempah sendiri merupakan komoditas dagang berharga yang ada di pasaran Eropa, rempah banyak dimanfaatkan mulai dari bahan makanan, pengawetan, hingga obat-obatan. Kiprah Portugis dalam penguasaan jalur perdagangan rempah mulai mencuat ketika berhasil menaklukkan Selat Malaka pada 1511 dibawah pimpinan Alfonso d’Albuquerque. Dengan penaklukan tersebut maka jalan Portugis untuk mencapai wilayah timur Nusantara menjadi lebih terbuka dimana wilayah tersebut merupakan sumber utama penghasil rempah-rempah saat itu yang memasok hampir sebagian besar pasar di Eropa. Seperti halnya bangsa Eropa lainnya, Portugis juga bersemboyan dalam setiap penjelajahannya yang dikenal dengan : Feitoria yang berarti emas, Fortaleza yang berarti kejayaan, dan Igreja yang berarti gereja.

Alfonso d’Albuquerque
Sumber: Wikipedia

Ekspedisi Portugis ke wilayah timur Nusantara berhasil mencapai kepulauan Maluku dan Ambon pada 1512, mereka diterima baik dengan penguasa setempat karena melakukan perdagangan rempah-rempah dan membelinya dengan harga yang tinggi. Portugis melakukan politik dagang nya dengan jalan diplomasi dengan penguasa setempat agar dapat mendirikan pos-pos dagang dan benteng, namun tidak jarang juga kekerasan dan kekuatan militer digunakan sebagai jalan untuk mendapatkan kekuasaan demi kepentingan dagang yang menguntungkan mereka. Pada 1522, Portugis bersekutu dengan Ternate yang pada saat itu sedang berselisih dengan Tidore, sehingga Portugis diizinkan untuk membangun benteng di daerah Ternate dan dengan adanya izin tersebut maka pengaruh dagang Portugis atas rempah-rempah semakin menguat. Lambat laun hubungan tersebut menjadi renggang karena Portugis dianggap terlalu turut campur atas urusan internal kerajaan, selain itu sikap yang kurang menyenangkan di masyarakat serta monopopli dagang rempah, dan adanya tujuan kristenisasi di wilayah kerajaan Islam tersebut menjadikan konflik dalam hubungan tersebut. Kedatangan bangsa Spanyol ke Maluku juga semakin membuat posisi Portugis semakin sempit, Tidore melihat kesempatan ini untuk bersekutu dengan Spanyol karena Portugis yang sebelumnya bersekutu dengan Ternate. Peperangan antar kedua bangsa Eropa tersebut berlangsung lama di Maluku,  persaingan Portugis-Spanyol ini bahkan sampai diselesaikan campur tangan Paus oleh perjanjian Saragossa yang isinya pada intinya membagi kekuasaan Portugis dan Spanyol kearah timur dan barat, dimana wilayah timur sampai dengan Maluku dikuasai Portugis, dan wilayah barat dikuasai Spanyol, hingga akhirnya Spanyol harus meninggalkan Nusantara dan Portugis tetap berkuasa. Hingga 1605, Portugis masih bertahan di wilayah Kepulauan Maluku sampai akhirnya kedatangan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) atau kongsi dagang Belanda di sana berhasil mengusir kedudukan Portugis. VOC pada awalnya juga bertujuan sama dengan Portugis, yaitu berdagang dan mencari rempah-rempah, namun niat awal tersebut lagi-lagi berubah menjadi keserakahan, sehingga pulau rempah kembali menderita dan dieksploitasi habis-habisan baik sumber alamnya maupun rakyatnya.

Peperangan di Maluku. Sumber: historia.id
Kategori: Artikel

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Buka Chat
Hubungi Kami