Kontributor: Zulfa Nurdina Fitri

31 Januari kemarin, salah satu organisasi besar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama melangsungkan hari kelahirannya yang ke-95. Lahir pada 31 Januari 1926 dengan dimotori oleh KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Chasbullah, sejumlah kiai dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Madura berkumpul di kediaman Kiai Wahab di Surabaya, menyepakati perkumpulan yang sebenarnya sudah memiliki embrio jauh sebelum itu. Beberapa tahun sebelumnya, sejumlah kiai yang kelak mendirikan NU telah mendirikan organisasi pergerakan Nahdlatul Waton atau Kebangkitan Tanah Air (1916) serta Nahdlatut Tujjar atau Kebangkitan Saudagar (1918). Kiai Wahab Chasbullah sebelumnya (1914) juga mendirikan kelompok diskusi yang ia namai Taswirul Afkar atau kawah candradimuka pemikiran (Ali, 2017). Nahdlatul Ulama tak lain adalah lanjutan dari komunitas dan organisasi-organisasi yang telah berdiri sebelumnya tersebut, namun dengan cakupan yang lebih luas. Bersamaan dengan timbulnya gerakan perlawanan yang menyertai keresahan sosial di berbagai daerah pada tahun 1900-an timbul juga gerakan kebangkitan kembali agama yang menampakkan diri dalam bentuk sekolah-sekolah dan perkumpulan tarekat di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Para pemuka Islam mulai menghimpun kekuatan melalui dunia pesantren atau mendirikan organisasi-organisasi sosial keagamaan hingga kemudian timbul berbagai gerakan sosial dan keagamaan yang terorganisir seperti Serekat Islam tahun 1905, Muhammadiyah tahun 1912, Al Irsyadidah tahun 1914, Nahdlatul Ulama tahun 1926, dan Pergerakan Tarbiyah Islamiyah (Anam, 1985: 18-23).

Pendiri Nahdlatul Ulama
Sumber: alif.id

Pringgodigdo (1949: 108-109) menguraikan bahwa perkumpulan Nahdlatul Ulama yang didirikan di Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926 sebagai (a) reaksi terhadap kebangsaan dan hasil baik dari golongan modernis dan teristimewa dan (b) karena kaum ulama orthodox takut, bahwa niat Sarekat Islam dan Muhammadiyah tentang Kongres Dunia Kaum Islam yang ada di bawah pengaruh Raja Ibn Saud, akan mendatangkan pengaruh Wahabi di Indonesia. Dalam bulan September tahun 1926 Nahdlatul Ulama pun mengadakan kongres di Surabaya sebagai aksi menentang kongres P.S.I – M.A.I.H.S. (Muktamar al-Alam al-Islam Far’al Hind as-Sjarqyah) bersama.

Nahdlatul Ulama menekankan kegiatannya dalam lapangan perluasan pendidikan berdasarkan Islam. Pusatnya adalah Jombang Jawa Timur dengan tokoh utamanya adalah KH. Hasyim Asy’ari. Di samping kegiatannya dalam lapangan sosial, seperti mendirikan masdrasah-madrasah, kemudian ikut juga terjun dalam dunia politik. Pada waktu itu Nahdlatul Ulama ikut menyokongnya dengan ikut sertanya KH. A. Wahid Hasyim tokoh Nahdlatul Ulama di dalamnya. Keterlibatannya terlihat pada masa penjajahan Belanda yang partisipasi politik Nahdlatul Ulamanya diarahkan untuk menentang kekuasaan kolonial Belanda sekaligus untuk menggalang kekuatan ummat Islam dalam menghadapi kolonialisme tersebut (Dekker, 1975 : 102). Anam (1985, 18-37) juga menjelaskan bahwa selain motif agama dan motif mempertahankan Ahlussunnah wal jama’ah, Nahdlatul Ulama lahir karena dorongan untuk kemerdekaan Indonesia. Nahdlatul Ulama berusaha membangun semangat nasionalisme melalui kegiatan keagamaan dan pendidikan. Nahdlatul Ulama yang awalnya berdiri bergerak dalam bidang sosial agama juga bergerak dalam bidang politik karena tidak mungkin Nahdlatul Ulama melepaskan diri dalam persoalan dan kondisi bangsa yang mengalami tekanan dari bangsa penjajah. Karena lahirnya Nahdlatul Ulama untuk memberdayakan dan membantu memecahkan masalah- masalah sosial yang dihadapi banga Indonesia, maka Nahdlatul Ulama memasuki ranah politik demi memperjuangkan kebebasan masyarakat.

Anggaran Dasar Nahdlatul Ulama 1926
Sumber: Museum Nahdlatul Ulama

Pada masa awal pergerakan nasional, Nahdlatul Ulama sudah mengambil sikap bersebarangan dan menerapkan politik non coorporation (tidak mau kerjasama) dengan Belanda, hingga NU menolak mendudukkan wakilnya dalam Volksraad. Hal ini menjadi komitmen NU untuk mengecam aksi imperalisme dan menunjukkan sikap nasionalisme yang tinggi. Selanjutnya, pada bidang pendidikan saat itu pemerintah Belanda mendirikan sekolah hanya untuk para priyayi dan nantinya setelah lulus akan dipekerjakan sebagai pegawai rendahan di kantor pemerintah Belanda dan mengeluarkan kebijakan Guru Ordonantie atau Ordonansi Guru, dimana hal tersebut sangat merugikan umat Islam. Ordonansi yang pertama pada tahun 1905 dikeluarkan oleh pemerintah kolonial Belanda yang mewajibkan setiap guru agama Islam untuk meminta dan memperoleh izin terlebih dahulu, sebelum melaksanakan tugasnya sebagai guru agama Islam. Ordonansi kedua dikeluarkan pada tahun 1925, yaitu hanya  mewajibkan guru agama untuk melaporkan diri. Pada tahun 1925 ini pula pemerintah mengeluarkan peraturan yang lebih ketat lagi terhadap pendidikan agama Islam yaitu bahwa tidak semua orang (kyai) boleh memberikan pelajaran mengaji. Ordonansi guru tersebut tidak hanya berlaku bagi pembatasan tugas para guru agama atau muballigh saja, akan tetapi juga berlaku bagi penempatan Bupati beserta bawahannya di Jawa, dan kepala adat dimana saja berwenang mengatur urusan agama Islam.  Melihat hal tersebut, NU melawan dengan mendirikan pesantren dan madrasah.

KH Abdul Wahab Chasbullah dalam sebuah rapat akbar pergerakan nasional
Sumber: nu.or.id

Pada pekembangan selanjutnya, tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama mulai terlibat secara aktif dalam dunia politik. Hal ini terlihat pada saat tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama ikut memprakarsai lahirnya Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) pada tahun 1937, yang kemudian dipimpin oleh KH. A. Wahid Hasyim. Ide mendirikan MIAI tidak bisa lepas dari kerangka usaha pengembangan Nahdlatul Ulama dalam perjuangan bangsa Indonesia sebelum kemerdekaan.

Sejak awal kelahirannya hingga saat ini, Nahdlatul Ulama tetap berperan besar mencerdaskan kehidupan bangsa, menggerakkan semangat nasionalisme dan semangat toleransi. Nahdlatul Ulama telah berhasil memberikan sumbangsih terhadap kehidupan beragama yang ramah di tengah kemajemukan bangsa Indonesia.

Sumber:
Ali, M, S. 2017. Sejarah Singkat Nahdlatul Ulama. https://islami.co/sejarah-singkat-nahdlatul-ulama/. Diakses 31 Januari 2021.
Anam, C. 1985. Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama Surabaya: Jatayu Natala.
Dekker, N.1975. Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Malang: Almamater YPTP IKIP Malang.
Pringgodigdo, A.K. 1949. Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia. Jakarta: PT Dian Rakyat.

Kategori: Artikel

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Buka Chat
Hubungi Kami