111 tahun yang lalu di Weltevreden, Batavia. Ibukota koloni Belanda di Hindia. Di sebuah sekolah  untuk kaum bumiputra, agar dapat membantu dokter Belanda. Berkumpul sembilan orang pemuda.

 

111 tahun yang lalu, di ruang anatomi. Dahulu, pelajar STOVIA sempat berkirim surat dengan Kartini. Berbicara tentang pendidikan dan harga diri. Lalu datanglah Dokter Wahidin, bercerita tentang pendidikan dan keutamaan budi. Mereka terinspirasi.

 

Maka lahirlah sebuah organisasi, yang berdasar pada keutamaan budi. Dengan semangat yang berkembang dan menyebar laksana api. Para guru STOVIA berpikir, apa jadinya jika mereka hendak membelot pada gubernemen kami? “Keluarkan Soetomo!” pinta mereka dengan cemas di hati.

 

“Tuan-tuan”, kata pimpinan mereka. “Siapakah dari anda, yang tidak segarang Soetomo ketika muda?” begitu ujarnya. Para siswa berkerumun di luar ruangan mereka. Jika Soetomo dikeluarkan, mereka pun turut serta. Soetomo pun terbela.

 

111 tahun yang lalu, inspirasi melahirkan organisasi. Organisasi melahirkan inspirasi. Muncullah sarekat, muncullah partai. Muncullah kesadaran yang lebih mengenai pendidikan dan harga diri. Bangkit, karena menggugah hati. Nasional, karena semangatnya menyebar ke penjuru ibu pertiwi.

 

111 tahun yang lalu, kebangkitan nasional telah bertunas. 111 tahun kemudian, adalah tugas kita untuk bergegas. Membangkitkan nasionalisme di negeri yang kian hari kian terik dan panas. Tunas itu pasti berkembang, berkilau bagaikan emas.

 

Kontributor: Swa Setyawan Adinegoro

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *