Hari ini, 17 Februari pada tampilan awal Google terdapat gambar salah satu tokoh berpengaruh di bidang kedokteran Indonesia. Beliau adalah Marie Thomas. Dokter perempuan pertama yang merupakan lulusan dari STOVIA.

Kontributor: Zulfa Nurdina Fitri

Marie Thomas lahir di Likopang, Minahasa, Sulawesi Utara pada 17 Februari 1896 dari pasangan Adrian Thomas dan Nicolina Maramis. Ayahnya adalah seorang tentara, sehingga kerap berpindah-pindah dari satu kota ke kota yang lainnya. Hal ini membuat Marie dan adiknya sering berpindah-pindah sekolah. Ia menyelesaikan pendidikannya di Europeesche Lagere School (ELS), sebuah sekolah khusus anak-anak Eropa dan bumiputera beragama Kristen di Manado. Marie Thomas lulus dari ELS pada tahun 1911. Cita-citanya menjadi dokter hampir tidak bisa terwujud karena STOVIA hanya menerima pelajar laki-laki.

Diskriminasi terhadap perempuan di STOVIA berhasil dihilangkan berkat perjuangan Aletta Jacobs, yang pada 18 April 1912 menemui Gubernur Jenderal A.W.F Idenburg. Ia mengusulkan agar perempuan diberi kesempatan menjadi dokter, karena keberadaannya dibutuhkan oleh rumah sakit untuk menangani pasien perempuan yang membutuhkan penanganan tenaga medis perempuan. Pemerintah menyetujui usulan tersebut, sehingga perempuan diizinkan mendaftar menjadi pelajar STOVIA.

Potret Aletta Jacobs
Sumber: europeana.eu

STOVIA dan NIAS (de Nederlandsch Indische Artsenschool) – Sekolah kedokteran di Surabaya yang berdiri pada 1912 – akhirnya membuka kesempatan bagi pelajar perempuan untuk mendaftarkan dirinya di sekolah pendidikan dokter. Namun sayang, kaum perempuan masih dipersulit dengan beberapa hal seperti membayar biaya pendaftaran dan menanggung biaya hidup mereka sendiri, berbeda dengan pelajar laki-laki yang sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah.

Melihat keadaan itu, beberapa perempuan Belanda di Batavia mendirikan sebuah yayasan yang bertujuan untuk memberikan bantuan pendidikan bagi perempuan bumiputera yang ingin melanjutkan sekolah di bidang kedokteran. Dengan nama Studiefonds voor Opleiding van Vrouwelijke Inlandsche Artsen (SOVIA), yayasan ini didirikan oleh oleh Charlotte Jacobs (saudara perempuan Aletta Jacobs) bersama Marie Kooij – van Zeggelen dan Elisabeth van Deventer – Maas. Mereka menyediakan beasiswa bukan hanya bagi dokter perempuan, namun juga kepada para siswa sekolah keperawatan.

Marie Thomas berhasil mendapatkan beasiswa dari SOVIA yang kemudian menghantarkannya masuk ke STOVIA di Batavia pada 22 September 1912. Waktu itu, Marie adalah satu-satunya siswa perempuan diantara 180 siswa laki-laki dalam sekolah kedokteran tersebut. Keberadaan Marie Thomas di STOVIA mendapat perhatian tersendiri, ia diizinkan tinggal di rumah warga sekitar, padahal pelajar baru harus tinggal dalam asrama STOVIA. Perlakuan istimewa tersebut tidak merubah pribadinya yang disiplin dan bertanggungjawab, peraturan di asrama STOVIA diterapkan juga dalam kehidupannya sehari-hari.

Marie Thomas di antara para pelajar STOVIA
Sumber: Dokumentasi Keluarga Anna Warouw

Pada 26 April 1922 STOVIA menyatakan Marie Thomas lulus dengan nilai yang memuaskan, sehingga berhak menyandang gelar Indische Arts. Kelulusannya menjadi bahan berita di Hindia Belanda, karena Marie Thomas menjadi dokter perempuan pertama di tanah air. Pemerintah menugaskannya berdinas sebagai dokter pemerintah di Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ) – sekarang RS Cipto Mangunkusumo. Marie adalah sosok yang penuh talenta dengan berbagai pencapaian yang ia terima dalam kariernya sebagai dokter, termasuk spesialisasinya dalam bidang ginekologi dan kebidanan. Selain itu, Marie merupakan salah satu dokter yang pertama kali terlibat dalam kebijakan mengontrol kelahiran bayi lewat metode kontrasepsi Intrauterine Device (IUD).

Marie Thomas menikah dengan Mohammad Yusuf, teman kelasnya selama bersekolah di STOVIA. Setelah menikah, Marie dan Yusuf pindah ke Padang, kampung halaman Yusuf dan bekerja di sana sebagai dokter. Marie dan Yusuf memiliki dua orang anak bernama Sonya dan Eri. Selain kariernya sebagai dokter, Marie pernah tergabung dalam Persatoean Minahasa, sebuah organisasi yang didirikan pada 1927. Ia bergabung selama tiga tahun di organisasi tersebut. Tahun 1940, ia menjadi bendahara sebuah organisasi lokal di Padang bernama Vereeniging van Indonesische Geneeskundigen. Di tahun 1950, ia mendirikan sekolah kebidanan di Bukittinggi. Sekolah kebidanan tersebut merupakan yang pertama kali berdiri di Sumatera, dan kedua di Indonesia.

Dokter Marie Thomas ketika sedang praktek
Sumber: javapost.nl

Marie meninggal pada tahun 1966 di usianya yang ke-70 tahun karena pendarahan otak secara tiba-tiba. Hingga akhir hayatnya, ia tetap mendedikasikan dirinya dalam dunia kedokteran dan pendidikan kebidanan. Meski tidak banyak yang mengenal namanya sebagai perempuan Indonesia yang pertama kali menjadi dokter, jasa-jasanya dan kontribusinya dalam dunia kesehatan kala itu menjadi inspirasi banyak orang.

Sumber:
Gunseinkanbu. 1986. Orang Indonesia Jang Terkemoeka di Djawa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
https://javapost.nl/2012/09/06/marie-thomas-1896-1966-de-eerste-vrouwelijke-arts-in-nederlands-indie/ diakses pada 10 November 2020
http://resources.huygens.knaw.nl/vrouwenlexicon/lemmata/data/Thomas diakses pada 10 November 2020

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *