Hari Pers Nasional diperingati pada 9 Februari setiap tahunnya dan peringatan ini bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Hari Pers Nasional 2021 mengangkat tema “Bangkit dari Pandemi, Jakarta Gerbang Pemulihan Ekonomi, Pers sebagai Akselerator Perubahan”.

Kontributor: Zulfa Nurdina Fitri

Di kalangan wartawan Indonesia, nama Adinegoro dikenal sebagai nama sebuah penghargaan jurnalistik yang diberikan kepada para wartawan Indonesia sejak pertengahan tahun 1970-an. Mungkin tak banyak yang tahu bahwa Adinegoro – dianugerahi gelar Perintis Pers Indonesia pada tahun 1974 – adalah orang Indonesia pertama yang menempuh kuliah jurnalistik di Jerman pada tahun 1926.

Adinegoro adalah nama samaran pengarang Djamaluddin dengan gelar Datuk Maradjo Sutan yang lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatra Barat pada tanggal 14 Agustus 1904. Landjumin Tumenggung, pengasuh majalah Tjahaja Hinia, adalah orang yang menyarankan kepada Djamaluddin memakai nama samaran Adinegoro tersebut. Maksudnya adalah agar karangannya dapat menarik pembaca dari Jawa. Ternyata kemudian nama samaran ini jauh lebih populer daripada nama sebenarnya. Oleh karena itulah, ia kemudian dikenal dengan nama Djamaluddin Adinegoro.

Potret Djamaluddin Adinegoro
Sumber: sastra.perpusnas.go.id

Ayahnya yang bernama Usman Bagindo Chatib menjabat sebagai kepala laras atau demang. Sebagai anak seorang demang, ia dapat diterima di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah rendah yang sebenarnya hanya diperuntukkan bagi anak-anak Belanda. Selanjutnya, ia meneruskan pendidikan ke Hollandsch Inlandsche School (HIS). Atas persetujuan ayahnya, ia meneruskan pendidikan ke School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) sekolah kedokteran di Batavia. Pada saat di STOVIA ini, Adinegoro menunjukkan minatnya yang besar pada dunia tulis menulis dan ia pun menjadi pembantu tetap dari koran Tjahaja Hindia. Selain itu, ia juga beberapa kali menulis di harian Neratja. Ia lalu keluar dari sekolah kedokteran tersebut (sedikit mirip dengan kisah Tirto Adhisoerjo yang juga sempat sekolah kedokteran di STOVIA namun lebih tertarik dengan dunia tulis menulis) dan memutuskan untuk sekolah ke Eropa mendalami jurnalistik.

Kiri ke kanan: Parada Harahap, Mohammad Amir, dan Djamaludin Adinegoro
Sumber: Perpusnas RI

Pada saat perjalanan menuju Eropa tersebut, sekitar tahun 1926, di situlah Adinegoro menuliskan catatan yang kemudian dibukukan menjadi buku Melawat ke Barat. Naskah Melawat ke Barat sebenarnya adalah kumpulan dari tulisan yang dikirimkan oleh Adinegoro ke majalah Pandji Poestaka, milik Balai Poestaka. Selain itu, Adinegoro juga mengirimkan karangannya ke koran Pewarta Deli (Medan) dan Bintang Timoer (Jakarta). Itulah tulisan perjalanan yang selalu ditunggu pembaca Indonesia. Mata mereka dibukakan bagaimana Eropa pada waktu itu. Adinegoro pun dikenal sebagai penulis muda yang mempunyai banyak penggemar. Setelah Melawat ke Barat, Adinegoro juga dikenal dengan buku lain yang dia tulis berjudul, Falsafah Ratu Dunia. “Ratu Dunia” di sini adalah istilah Adinegoro untuk menyebut tentang “Pers”. Kemudian pada dunia sastra nama Adinegoro tertuang dalam dua karyanya, yaitu Darah Moeda dan Asmara Djaja, yang diterbitkan tahun 1926 dan tahun 1927. Dengan kedua karyanya tersebut, Adinegoro dipandang sebagai pengarang novel masa awal Angkatan Balai Pustaka.

Novel Darah Muda Karya Adinegoro
Sumber: linimasa.net

Pada saat di Eropa, Adinegoro juga belajar tentang geografi dan kartografi di Wuerzburg dan geopolitik di Munchen, Jerman. Ilmunya soal perpetaan ini berguna ketika pecah Perang Dunia II, Adinegoro sendiri yang menggambarkan peta pergerakan perang itu, dan hal ini ternyata sangat disukai oleh para pembaca. Ketika Jepang masuk, Pewarta Deli dihentikan penerbitannya, namun kemudian didirikan koran Sumatera Shimbun, dan Adinegoro ditunjuk menjadi pemimpinnya.

Setelah Indonesia merdeka, pada 1948 Adinegoro lalu pindah ke Jawa dan di Jakarta ia mendirikan majalah Mimbar Indonesia bersama dengan Prof. Soepomo, Prof. Moh. Noor, Soekardjo Wirjopranoto, dan Mr. Yusuf Wibisono. Setelah proklamasi, Adinegoro juga sempat ditunjuk oleh Sukarno, Presiden Republik Indonesia pertama untuk menjadi Ketua Komite Nasional Sumatera, untuk mengambil-alih administrasi pemerintahan dari tangan Jepang. Dia pun sempat memimpin kepala penerangan Republik Indonesia di wilayah Sumatera, dan di Bukit Tinggi, Adinegoro juga sempat mendirikan koran Kedaulatan Rakyat (tak ada kaitannya dengan koran Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta yang juga terbit tak lama setelah kemerdekaan Indonesia) yang berhenti terbit ketika terjadi clash kedua akibat serangan tentara Sekutu pada 1948.

Adinegoro Bersama Presiden Sukarno
Sumber: satupena.id

Ketika Adinegoro pindah ke Jakarta setelah masa revolusi itu, pada tahun 1951 ia mendirikan Yayasan Pers Biro Indonesia dan mendirikan Perguruan Tinggi Publisistik (kemudian berubah nama menjadi Sekolah Tinggi Publisistik dan kemudian diperluas menjadi Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik –sekarang bertempat di Lenteng Agung, Jakarta Selatan) dan juga Fakultas Publisistik di Universitas Padjajaran, Bandung. Terakhir, ia bekerja di Kantor Berita Nasional (kemudian menjadi LKBN Antara). Sampai akhir hayatnya Adinegoro mengabdi di kantor berita tersebut. Ia meninggal di Jakarta, 7 Januari 1967. Rupanya pilihan hidupnya untuk terjun total dalam dunia persuratkabaran merupakan pilihan yang tepat. Ia menjadi tokoh yang amat disegani dan berhasil menciptakan karya besar yang menjadikannya sebagai pelopor pers Indonesia. Berkat kerja kerasnya itulah, namanya diabadikan dalam “Anugerah Jurnalistik Adinegoro” sejak tahun 1974.

Sumber:
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Adinegoro (1904-1967). http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Adinegoro. Diakses 8 Februari 2021.
Haryanto, I. 2017. Adinegoro, Penulis Buku Perjalanan Wartawan Pertama. https://historia.id/kultur/articles/adinegoro-penulis-buku-perjalanan-wartawan-pertama-P1B9l/page/3. Diakses 8 Februari 2021.
Soebagijo I.N. 1976. Sebelas Perintis Pers Indonesia. Jakarta: Djambatan.
Soebagio I.N. 1987. Adinegoro: Pelopor Jurnalistik Indonesia. Jakarta: CV Haji Masagung.
Sudrajat, D. 2018. Menghidupkan Adinegoro. https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1140-menghidupkan-adinegoro. Diakses 8 Februari 2021.
Taufik Rahzen et.al. 2007. Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia. Yogyakarta: I:Boekoe.

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *