Koleksi ini dinamakan Maket Kepulauan Indonesia Penghasil Rempah-rempah Abad XVII-XVIII, berada di Ruang Indonesia Kaya. Dengan nomor registrasi/inventaris: 0387/08.0387, memiliki ukuran : 560 x 244 cm. Koleksi ini sebagai permulaan storyline tata pamer Museum Kebangkitan Nasional yang membahas tentang awal mula kolonialisme di Indonesia.

Kontributor: Juniawan Dahlan

Petualangan Bangsa Eropa ke Negeri Rempah

Kepulauan Indonesia (Nusantara, untuk penyebutan sebelum hingga masa Hindia Belanda, dan berdirinya Negara Indonesia) sejak dahulu merupakan salah satu jalur pelayaran dan perdagangan penting di Asia Tenggara, pemikatnya tidak lain adalah perdagangan rempah-rempah yang ada di beberapa pusat pelabuhan dagang penting yang ada di Nusantara. Pada saat itu bandar-bandar dagang besar yang ada di Nusantara selalu ramai dikunjungi pedagang asing dari berbagai negara dengan kapal-kapal dagangnya, tidak terkecuali saat itu bangsa Eropa yang menjelajahi lautan demi komoditas rempah yang berharga ini.

Penjelajahan bangsa Eropa untuk mencari rempah bukan tanpa sebab, karena pada masa tersebut rempah-rempah merupakan komoditas penting perdagangan yang sangat berharga. Faktor politik kekuasaan perdagangan dunia saat itu juga menjadi pendorong bangsa Eropa untuk menemukan rute baru perdagangan dan sumber rempah tersebut. Hal ini mendorong mereka untuk mecoba berlayar dan menemukan dunia baru dimana sumber rempah dapat mereka dapatkan dalam jumlah banyak dan dengan harga yang lebih murah dibandingkan pasaran di Eropa saat itu. Penjelajahan tersebut membawa mereka ke kepulauan Nusantara dimana rempah-rempah tersedia dalam jumlah yang sangat melimpah.

Bermula dari penaklukan Portugis atas Malaka oleh Alfonso d’Alburqueque pada 1511 menandai terbukanya jalur perdagangan rempah di Nusantara. Semenjak itu banyak bangsa Eropa lain mecoba peruntungannnya di negeri rempah nusantara, antara lain seperti kedatangan bangsa Belanda di Banten oleh Cornelis de houtman pada 1596. Perlombaan dagang bangsa Eropa ini mendorong terbentuknya maskapai dagang yang berusaha mendapatkan hegemoni dan kejayaan di Nusantara. EIC (East India Company) yang didirikan Inggris pada 1600, dan VOC (Vereenigde Oostindische Company) yang didirikan Belanda pada 1602 merupakan dua kongsi dagang besar yang berpengaruh pada pasar perdagangan rempah di Nusantara.

Gambar: Pelayaran Kapal Dagang

Jalan Panjang Rempah di Nusantara

Tanaman rempah yang banyak diminati bangsa Eropa yang ada di Nusantara antara lain seperti cengkih, pala (myristica fragrans)dan bunga pala, kayu cendana. Kepulauan Maluku merupakan salah satu lokasi di Nusantara yang menjadi pemasok utama ketersediaan perdagangan rempah saat itu. Pulau Banda sebagai lokasi utama penghasil rempah pala menjadi incaran para pedagang Eropa, karena saat itu harga pala yang mahal di pasaran Eropa. Selain itu lada (piper nigrum) juga menjadi komoditas rempah yang diminati saat itu yang dapat ditemukan di Pulau Sumatera dan Jawa.

Dalam perjalanannya bangsa-bangsa Eropa yang datang ke Nusantara saling bersaing memperebutkan komoditas rempah. Perang antar maskapai dagang di kalangan bangsa Eropa ini tidak terelakkan. Namun kerugian terbesar yang sebenarnya adalah pada negeri penghasil rempah itu sendiri. Keinginan untuk menguasai dan memonopoli perdagangan rempah demi mengeruk keuntungan yang besar menjadikan negeri rempah di nusantara menjadi incaran kekuasaan maskapai dagang Eropa. Kekerasan dan peperangan akhirnya menjadi jalan untuk memuluskan keinginan menguasai sumber rempah tersebut. VOC akhirnya tampil dan memonopoli perdagangan rempah setelah mengalahkan penguasa setempat dengan kekuatan militer dan persenjataan yang mereka miliki.

Saking berharganya pulau penghasil rempah ini bahkan tercatat dalam sejarah pertikaian antara Belanda dan Inggris dami memperebutkan Pulau Run, salah satu pulau yang ada dalam gugusan Pulau Banda. Pertikaian ini berakhir dengan perjanjian petukaran wilayah dimana Pulau Run diberikan penguasaannya kepada Belanda dan ditukar dengan Manhattan (sekarang New York, AS) yang diberikan penguasaannya kepada Inggris pada 1667.

Gambar: Peta Pulau Banda

Kejayaan perdagangan rempah di Nusantara mulai pudar pada akhir abad 18, salah satunya ditandai dengan bangkrutnya VOC dan diambil alihnya kekuasaan monopoli perdagangan oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Semenjak itu orientasi ekonomi politik terhadap rempah mulai berubah dan lebih mengutamakan kepada tanaman komoditas seperti tembakau, teh, kopi, tebu, dan lainnya yang membuka babak baru eksploitasi terhadap bumi Nusantara ini.

Kategori: Artikel

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buka Chat
Hubungi Kami