Hari HIV AIDS Sedunia diperingati setiap tanggal 1 Desember di mana peringatannya dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat soal virus HIV/AIDS.  Virus ini ditularkan melalui perilaku seksual yang tidak sehat dan tidak aman. Jauh sebelum HIV/AIDS menggegerkan dunia, Dr. Soetomo sudah pernah membahas tentang penularan penyakit kelamin melalui buku “Sesalan Kawin Roesak Keloearga dan Sengsara Doenia”. Buku ini diterbitkan ketika beliau sedang menjadi Gouv. Arts 1ste Klasse atau dokter pemerintah dan pengajar di sekolah kedokteran Nederlandsche-Indische Artsen School (NIAS).

Secara diam-diam, ternyata pemerintah kolonial memberikan perhatian tentang apa yang sudah dilakukan oleh Dr. Soetomo terhadap bangsanya. Prestasi yang dicapainya selama berkarya di masyarakat, khususnya dalam menangani penyakit tropis menjadi suatu keahlian tersendiri bagi dirinya, yang akhirnya disadari oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Melihat karya nyata yang telah dilakukannya, khususnya selama pengabdiannya kepada masyarakat baik di Jawa maupun di Sumatera, pemerintah Hindia Belanda memberikan beasiswa kepadanya untuk memperdalam pendidikannya, khususnya untuk mempelajari penyakit kulit dan kelamin di Belanda, berdasarkan usul yang diajukannya.

Waktu studi yang cepat, memungkinkan bagi dr. Soetomo untuk membuka praktek dokter bersama-sama dengan Profesor S. Mendes da Costa, seorang ahli dermatologi (penyakit kulit dan kelamin). Setelah menerima ijazah dari Universitas Amsterdam, ia melanjutnya studi spesialis dermatologi di Universitas Hamburg, di bawah bimbingan dua orang guru besar Jerman terkenal, yakni Prof. PG Unna dan Prof. HC Plaut. Pengalaman praktek bersama dokter da Costa dan pendalaman spesialisasi dermatologi di Jerman nantinya akan sangat berguna untuk memajukan kesehatan masyarakat di tanah air.

Pada Juni 1923, dr. Soetomo kembali ke tanah air. Sekembalinya dari Belanda, ia memperoleh tugas baru untuk bekerja di rumah sakit Simpang di Surabaya (CBZ). Selain bekerja sebagai dokter di rumah sakit itu, ia juga memperoleh tugas tambahan untuk menjadi pengajar di Sekolah Kedokteran di Surabaya NIAS (Nederlandsche-Indische Artsen School). Ia menerima tugas dari pemerintah melalui surat yang ditujukan kepada Kepala Sekolah kedokteran Hindia Belanda, bahwa terhitung mulai tanggal 31 Juli 1923, dr. Soetomo, dokter pemerintah di Rumah Sakit Umum pusat di Surabaya diserahi tugas untuk memberikan kuliah dua kali per minggu dalam bidang penyakit kulit dan kelamin.

Dr. Soetomo bersama asisten, mahasiswa dan para medik di afdeling dermatologie CBZ Simpang 1933
Sumber: https://surabayastory.com/

Penyakit kelamin memang bukan sesuatu yang baru, sebelum AIDS muncul pada masa kolonial Belanda pemberantasan penyakit menular seksual gencar dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Literatur-literatur tradisional Jawa juga menyebutkan bagaimana penyakit ini menyerang para priyayi bangsawan yang sering melakukan aktivitas seksual dengan para pekerja seks komersial atau disebut soendal, hal ini dapat kita temui semisal dalam Babad Jaka Tingkir dan Serat Centhini. Begitu juga Pramoedya Ananta Toer yang menggambarkan ganasnya penyakit ini dalam Tetralogi Bumi Manusia-nya. Penyakit yang sering disebut “Raja Singa” (Syphilis) ini juga banyak menyerang masyarakat Hindia Belanda terutama para serdadu Belanda yang sering pergi ke tempat prostitusi. Pada mulanya, pemerintah kolonial menganggap bahwa penyebaran penyakit kelamin ini berasal dari orang-orang pribumi. Namun pada perkembangannya, hal tersebut terbantahkan. Seorang dokter di Batavia, van der Burg mengatakan bahwa sifilis banyak menyebar pada masyarakat yang sudah diinfiltrasi oleh orang Eropa. Sifilis sedikit berkembang di daerah-daerah yang tidak banyak ditinggali oleh orang Eropa dan di tempat yang tidak banyak praktik perempuan gundik. Lebih jauh van der Burg mengatakan bahwa sifils merupakan kado pertama yang dibawa oleh peradaan Barat. Sehingga ada istilah civilisation sama dengan syphilisation, peradaban sama dengan penyebaran sifilis.

Ilustrasi Interaksi Militer dan Gadis Pribumi

Menurut Gani A. Jaelani dalam buku Penyakit Kelamin di Jawa 1812-1942, dijelakan bahwa 90 persen dari yang terinfeksi penyakit kelamin berasal dari kalangan tentara beserta pejabatnya. Setelah terdeteksi terkena sifilis, mereka harus membuat penyataan dengan perempuan mana dia berhubungan, dan dianjurkan rutin melakukan perawatan. Serdadu yang positif sifilis dibebaskan dari tugas berat atau tidak dimasukkan dalam sebuah ekspedisi.

Karena sifilis merebak kalangan militer, pemerintah pun mencari cara memeranginya. Pada 15 Juli 1852, Gubernur Jenderal Albertus Jacobus Duymaer van Twist mengeluarkan peraturan untuk mengatasi berbagai akibat pelacuran yang merugikan. Peraturan itu memuat tiga hal penting. Pertama, anggaran tahunan dari direktur jenderal keuangan sebesar f20.000 untuk menanggulangi penyakit sifilis. Kedua, memerinci aturan prostitusi untuk menangkal aspek berbahayanya. Ketiga, peraturan ini hanya berlaku di beberapa daerah tertentu. Selain regulasi, pemerintah juga mendirikan rumah sakit khusus penyakit kelamin, seperti di Kudus (Semarang), Madiun dan Bogor pada 1858, serta di Cianjur (Priangan) pada 1854. Demikian pula dengan penyediaan personil medis, baik dokter Eropa atau dokter pribumi.

Kontributor: Zulfa Nurdina F.
Sumber:
Jaelani, Gani A. Penyakit Kelamin di Jawa1812-1942. Bandung: Syabas Books.
Kasenda, Peter, Tangkilisan, Yudha dan Djoko Marihandono. 2013. Dokter Soetomo. Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional.
R. Soetomo. 1928. Sesalan Kawin Roesak Keloearga dan Sengsara Doenia. Weltevreden: Balai Pustaka.

Kategori: Artikel

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buka Chat
Hubungi Kami