Kontributor: Swa S. Adinegoro untuk muskitnas.net

Kalian yang sudah pernah mengunjungi gedung Museum Kebangkitan Nasional (eks-STOVIA) pasti sudah tahu betapa besarnya gedung tersebut. Memang hanya terdiri dari satu lantai, tapi sangat luas dengan gerbang masuk yang tidak kalah megah. Dapat kita bayangkan, pada waktu didirikan gedung ini pasti nampak cukup mentereng dibandingkan dengan pemukiman di sekitarnya, sungguh sesuai jika disandingkan dengan komplek Rumah Sakit Militer Weltevreden yang berdiri tidak jauh dari gedung tersebut. Apalagi dengan fungsinya sebagai sekolah kedokteran, tidak mengherankan jika gedung eks-STOVIA menjadi sebuah landmark yang cukup penting di kawasan Weltevreden.

Pamor STOVIA di lingkungan tersebut dapat dibuktikan dengan penggunaan namanya sebagai nama salah satu jalan yang menuju ke gedung tersebut. Coba deh perhatikan peta berikut ini.

Itu adalah bagian dari peta Batavia pada tahun 1939, yang dokumennya dapat kita temukan di situs KITLV. Rupanya, salah satu ruas jalan yang menghubungkan STOVIA ke arah Senen dituliskan namanya sebagai STOVIA-weg. Dalam bahasa Belanda, “weg” memiliki arti “jalan”. Dengan demikian, STOVIA-weg dapat kita artikan sebagai Jalan STOVIA.

Lantas apakah sejak awal nama jalan ini diresmikan sebagai STOVIA-weg? Rupanya tidak, pada peta tahun 1904 (2 tahun setelah gedung STOVIA diresmikan) jalan tersebut masih memakai nama “G. Kwini”. Kemungkinan “G.” disini merupakan singkatan dari “Gang”, sebuah istilah untuk menyebut jalan pintas kecil yang diserap dalam Bahasa Indonesia dan masih kita gunakan sampai sekarang. Sementara nama STOVIA-weg muncul pada peta di atas yang berangka tahun 1939, atau 37 tahun setelah peresmian gedung. Sayangnya, belum ada data lebih lanjut yang memberi petunjuk jelas kapan nama jalan tersebut diubah dari G. Kwini menjadi STOVIA-weg.Untuk saat ini kita baru bisa menyimpulkan bahwa perubahan nama dari G. Kwini menjadi STOVIA-weg terjadi sebelum tahun 1939.

Penamaan Jalan STOVIA menjadi bukti pengaruh STOVIA di kawasan tersebut. Sebagai sekolah kedokteran pertama di Hindia Belanda yang dikhususkan bagi kaum bumiputra, STOVIA merupakan salah satu institusi yang termasyhur, meskipun barangkali tidak sepopuler OSVIA (sekolah pamongpraja). Jalan tersebut juga menjadi penghubung antara gedung sekolah dengan kawasan Senen, pusat perbelanjaan dan hiburan yang sering pula dikunjungi oleh siswa STOVIA.

Saat ini, STOVIA-weg sudah menghilang dari peta. Nama jalan STOVIA kembali ke nama lamanya menjadi Jalan Kwini. Mungkin saja sejak STOVIA dipindahkan ke Salemba dan gedungnya kemudian  beralih fungsi, nama Jalan STOVIA menjadi tidak relevan lagi.

Omong-omong, kamu tahu tidak, gedung lama STOVIA pernah difungsikan menjadi apa saja selepas sekolahnya dipindahkan? Kalian bisa tonton sejarahnya di video ini, ya! Sampai jumpa di lain kesempatan!

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *