Sikap diskriminatif yang dilaksanakan kolonial Belanda terhadap pribumi akhirnya menimbulkan pergolakan dalam masyakat. Ketidakadilan yang diterima oleh pribumi telah membangkitkan kesadaran yang akhirnya menimbulkan pergerakan nasional. Salah satu pergerakan nasional itu dipelopori oleh Sarekat Dagang Islam.

Sarekat Dagang Islam didirikan untuk menghadapi persaingan dagang dengan orang Cina dan sikap superioritas mereka terhadap orang pribumi sehubungan dengan berhasilnya Revolusi Cina di kota-kota besar. Para pedagang Cina mendidirikan Sianghwee (kamar dagang), yang didukung oleh ordonansi pemerintah pemerintah kolonial Belanda yang menyatakan, bahwa orang Cina diberi kebebasan bergerak lebih besar demi perubahan dan kepentingan perdagangan.

Dengan demikian, mereka dapat membeli bahan-bahan langsung dari bahan importir. Sebaliknya, dalam kasus usaha batik, misalnya, para pengusaha batik pribumi harus membeli bahan dari pedagang Timur Asing(vreemde Oosterligen) yakni Cina dan Arab, tetapi sebagian besar pedagang-pedagang perantara ini adalah orang-orang Cina.. Akibatnya, harga batik dari perusahaan Jawa lebih tinggi dibanding harga batik dari perusahaan Timur Asing, Sehingga dengan sendirinya pedagang Cina dapat menekan harga batik milik perusahan-perusahaan pribumi.

Ternyata memang sebagian besar perusahaan batik Indonesia telah banyak yang jatuh ke tangan-tangan orang-orang Cina. Di kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta dan Semarang tidak lagi dikerjakan batik halus atau batik tulis tetapi batik cap atau batik kasar. Melihat kondisi yang tidak menguntungkan ini, maka Haji Samanhudi seorang pengusaha dan pedagang batik dari Surakarta, menyadari bahaya yang semakin mengacam yaitu semakin besarnya pengaruh Cina di bidang perekonomian ditambah dengan besarnya peluang-peluang yang diberikan pemerintah Belanda kepada pedagang Cina berupa keringanan-keringanan, dibanding kepada pedagang-pedagang Indonesia sendiri. Hal ini dirasa sangat tidak adil, dan menghambat kemajuan perdagangan pribumi khususnya pedagang batik.

Haji Samanhudi berusaha memperbaiki keadaan untuk itu ia mendirikan sebuah organisasi yang dinamakan Sarekat Dagang Islam (SDI). Mengenai pendirian SDI, banyak pendapat tentang tahun pendiriannya, dalam wawancara Tamar Jaya di Jakarta pada tahun 1955, Haji Samanhudi memberikan keterangan sebagai berikut:

“Dengan ikhlas, untuk kemurnian sejarah pergerakan Indonesia, dengan ini saya terangkan bahwa Sarekat Dagang Islam di lahirkan pada tanggal 16 Oktober 1905, di rumah saya di kampong Sandokan, Solo dengan delapan orang teman yaitu: saudara Sumawardoyo, Wiryotirto, Suwandi, Suropranoto, Jarmani, Hardjo Sumarto, Sukir, Martodikoro. Inilah panitia pertama pendirian tersebut. Kemudian setelah didapat kata sepakat mendirikan Sarekat Dagang Islam, maka dibentuklah pengurus baru.”

Haji Samanhudi

Sarekat Dagang Islam dikembangkan di Jakarta pada tahun 1909 oleh R. M. Tirtoadisoerjo kemudian di Bogor pada tahun 1911. Haji Samanhudi dan R. M. Tirtoadisoerjo menjalin kerja sama dalam persuratkabaran, kerja sama ini tidak berlangsung lama karena terjadi pertikaian, yang menyebabkan aktivitas SDI menurun. Pertikaian ini terjadi akibat penyalahgunaan dana dan ketidaksesuaian harga surat kabar yang terlalu mahal dari persetujuan semula. Pertikaian antara R. M. Tirtoadisuryo dengan Haji Samanhudi menyebabkan hubungan mereka mulai renggang, sehingga mempengaruhi keberadaan organisasi yang akhirnya hubungan tersebut benar-benar pecah.

Untuk melanjutkan jalannya organisasi agar disahkan oleh pemerintah Belanda, maka Haji Samanhudi mencari orang yang dapat mengorganisir organisasi dagang tersebut. Haji Samanhudi meminta agar H.O.S. Tjokroaminoto untuk bertindak sebagai penyusun organisasi kelompok dagangnya. H.O.S. Tjokroaminoto pun menyetujui, kemudian ia membuat akta hukum organisasi baru yang dinamakan Sarekat Islam.

Kontributor: Zulfa Nurdina Fitri
Sumber:
Amin, M. Mansyur. 1996. Sarikat Islam Obor Kebangkitan Nasional (1905-1942). Yogyakarta: Al Amin Press.
Mulyana, Slamet. 1968. Nasionalisme Sebagai Modal Perjuangan Bangsa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Neil, Robert van. 1984. Munculnya Elit Politik Modern Indonesia. Jakarta: Pustaka Jaya.
Noer. Deliar. 1988. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3ES.
Poespoprodjo, W. 1986. Jejak-jejak Sejarah 1908-1928: Terbentuknya Suatu Pola. Bandung: Remaja Karya.
Ricklefs, M. C. 1992. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada University.

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *