Boentaran Martoatmodjo lahir di Purworejo pada 11 Januari 1895 dari pasangan Raden Boekardjo Martoatmodjo dan Bardjijah. Ayah Boentaran adalah priyayi dan guru di lingkungan Keraton Mangkunegaran, Solo. Ketika Boentaran berusia 4 tahun, ayahnya meninggal karena sakit tifus. Keluarganya berpindah dari Solo ke Purworejo. Berdasarkan buku berjudul Mr. R. S. Budhyarto Martoatmodjo: Pejuang Kemerdekaan dan Pendidik Tiga Zaman (2015) karangan Ibnu Mufti dan Muhtar Said, Boentaran Martoatmodjo menempuh pendidikan dasar di ELS Purworejo , karena termasuk golongan priyayi. Setelah itu, beliau meneruskan pendidikan di STOVIA dan mendapatkan gelar Indish Arts. Beliau kemudian bertugas di kantor inspeksi Semarang yang berada di bawah pengelolaan pemerintah Hindia Belanda. Beliau juga pernah ke Kalimantan untuk membasmi penyakit kolera. Dalam buku Orang Indonesia yang Terkemuka di Jawa (1986) karya Gunseikanbu dijelaskan bahwa Boentaran pernah menjadi dokter kerja di Pulau Laut, Kalimantan Selatan, dan dokter di Kraksan, Kabupaten Jember, Jawa Timur, serta ikut membasmi penyakit lepra di Semarang Jawa Tengah. Boentaran disebut-sebut tertarik menjadi dokter lantaran ayahnya meninggal karena sakit. Beliau dikenal sebagai dokter yang murah hati, klinik Boentaran yang berada di Jalan Raden Saleh, Menteng, Jakarta Pusat memperbolehkan masyarakat tidak membayar jasa dan obat.

Boentaran juga menempuh pendidikan dokter di Universiteit Leiden, Belanda pada 1928-1931 dan tercatat sebagai pengurus Indische Vereeniging atau Perhimpunan Indonesia. Boentaran semakin tertarik masuk ke dunia politik ketika beliau kembali ke Indonesia pada 1931. Beliau bergabung dengan Perserikatan Nasional Indonesia dan juga menjadi pemimpin Komite Pembantu Rakyat serta Ketua Ikatan Dokter Indonesia. Puncaknya, beliau bergabung dalam BPUPKI dan PPKI pada 1945. Dalam rapat besar BPUPKI pada 15 Juli 1945, Boentaran mengemukakan pendapatnya mengenai kesehatan.  Setelah Indonesia merdeka, Presiden Sukarno menjadikan Boentaran sebagai Menteri Kesehatan. Beliau diperintahkan untuk membentuk badan palang merah. Melalui buku Mengenal Palang Merah Indonesia dan Badan SAR Nasional, disebutkan bahwa Boentaran mengumpulkan sejawatnya yang juga aktif dalam gerakan kemerdekaan dan membentuk Panitia Lima dengan ketua Raden Mochtar, dikenal sebagai pendiri Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dan sekretaris Bahder Djohan – menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 1950-1951. Sedangkan anggotanya adalah Djoehana Wiradikarta, guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bandung, serta Marzuki dan Sitanala. Selama dua pekan, Panitia Lima menggodok pembentukan palang merah. Pada 17 September 1945, terbentuklah Palang Merah Indonesia. Wakil Presiden Mohammad Hatta meresmikan PMI dan menjadi ketuanya. Sedangkan Boentaran menjabat sebagai ketua harian hingga 1949.   

Para anggota Kabinet RI Pertama, berdiri dibaris depan, mulai nomor empat paling kiri : Menteri Kesehatan Dr. Boentaran Martoatmodjo, Menteri Penerangan Mr. Amir Sjarifuddin, Menteri Luar Negeri Mr. Achmad Soebardjo, Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, Menteri Dalam Negeri R.A.A Wiranata Kusumah, Menteri Kemakmuran Ir. Surachman Tjokroadisurjo.

Usia jabatan Boentaran sebagai Menteri Kesehatan tidak panjang, beliau hanya menjabat hingga November 1945. Setelah melepas jabatannya, Boentaran bergabung dalam kelompok oposisi Persatuan Perjuangan yang didirikan Tan Malaka. Bersama sejumlah anggota kelompok tersebut yaitu, Iwa Kusumasumantri, Mohammad Yamin, dan adiknya Raden Sundoro Budhyarto Martoatmodjo, beliau mementang kabinet yang dibentuk Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Pada 26 Juni 1946, organisasi itu menculik Sjahrir di Solo, karena Sjahrir dianggap terlalu mudah bernegosiasi dengan Belanda yang ingin kembali menguasai Belanda. Dianggap menentang pemerintah, Boentaran akhirnya dipenjara pada 1948-1950. Namun, beliau tidak berhenti dalam kegiatan politik. Boentaran tercatat pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sementara. Sambil praktek sebagai dokter di Jakarta dan Yogyakarta, Boentaran juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Partai Indonesia (Partindo) pada 1960.

Boentaran Martoatmodjo meninggal pada 30 Oktober 1972. Beliau dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Presiden Soeharto memberikan anugerah tanda kehormatan kepada 37 anggota BPUPKI dan PPKI pada November 1992. Boentaran menerima Bintang Mahaputra Adiprana.

Kontributor: Zulfa Nurdina Fitri
Sumber:
Gunseikanbu. 1986. Orang Indonesia yang Terkemuka di Jawa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Laporan Khusus “Pembangkang di Dewan Politik” Majalah Tempo Edisi 15 Agustus 2020.
Mufti, Ibnu & Muhtar Said. 2015. Mr. R. S. Budhyarto Martoatmodjo: Pejuang Kemerdekaan dan Pendidik Tiga Zaman. Yogyakarta: Thafa Media.

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *