Berbicara soal tinggalan masa lampau, kita mungkin sudah cukup familiar dengan istilah Cagar Budaya. Tapi tahukah kamu, apa artinya? Dan apa kaitannya dengan Museum Kebangkitan Nasional? Mari kita bahas!

 

Kontributor: Swa S. Adinegoro untuk muskitnas.net

____________________________________________________________________________________

 

Hari ini, tanggal 14 Juni diperingati sebagai Hari Purbakala. Meskipun barangkali tidak sepopuler hari-hari peringatan lainnya, Hari Purbakala menjadi salah satu wujud upaya untuk memperkenalkan masyarakat terhadap warisan budaya yang dimilikinya, baik benda maupun non-benda. Karena bangsa kita punya sejarah yang panjang, dan itu terbukti dari beragam tinggalan hasil kebudayaan yang kita miliki sekarang.

Cagar Budaya adalah sebuah istilah yang sudah paten secara hukum, merujuk pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Dalam undang-undang tersebut, cagar budaya didefinisikan sebagai:

“… warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.”

Wah ternyata ada banyak sekali macamnya ya! Tenang jangan pusing dulu, meskipun jenisnya ada banyak, sebenarnya mereka punya kesamaan yaitu sebagai sebuah tinggalan budaya bersifat kebendaan (sesuatu yang bisa disentuh, bukan non-benda seperti tarian, upacara adat dan warisan berupa gagasan yang lain), memiliki nilai penting, dan sudah ditetapkan oleh pemerintah baik itu di tingkat daerah maupun nasional. Kriteria lain adalah minimal berusia 50 tahun, atau mewakili gaya dari 50 tahun yang lampau. Semua kriteria tadi akan dikaji oleh tim khusus yang disebut Tim Ahli Cagar Budaya (TACB), yang kemudian merekomendasikan kepada kepala daerah/ /menteri untuk menetapkan objek tadi sebagai Cagar Budaya.

 

Nah sekarang, perbedaannya adalah:

  • Benda Cagar Budaya: Berbentuk benda, misalnya guci, umpak batu, arca, keris, dll.
  • Bangunan Cagar Budaya: Berbentuk bangunan, misalnya rumah tinggal, bangunan publik, istana, dsb.
  • Struktur Cagar Budaya: Sesuatu yang dibangun tapi bukan bangunan (tidak memiliki ruang), misalnya pagar, jaringan kanal, tugu, gapura, dll.
  • Situs Cagar Budaya: Kumpulan dari beberapa benda/bangunan/struktur dalam satu lokasi. Misal: kompleks candi yang di dalamnya ada beberapa bangunan candi, pagar keliling, gapura, dan arca serta temuan lain.
  • Kawasan Cagar Budaya: Kumpulan dari beberapa situs dalam satu wilayah yang lebih luas.

 

Tidak serumit kelihatannya kan? Sekarang kita kembali ke Museum Kebangkitan Nasional. Awal mulanya, gedung Kebangkitan Nasional didirikan sebagai kelanjutan dari Sekolah Dokter Djawa, dan bangunannya diresmikan tahun 1902. Selain menjadi bangunan sekolah yang cukup elit pada masanya, bangunan ini juga menjadi saksi bisu kebangkitan nasional. Masih ingat peringatan hari kebangkitan nasional yang jatuh pada tanggal 20 Mei kemarin kan? Pada tanggal itulah tepatnya pada tahun 1908, R. Soetomo beserta rekan-rekannya mendirikan organisasi Boedi Oetomo di Ruang Anatomi STOVIA. Jelaslah bahwa bangunan keren yang ditempati Museum Kebangkitan Nasional punya nilai penting secara historis, bahkan mungkin lebih.

Gedung Museum Kebangkitan Nasional sendiri telah dua kali ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya berperingkat nasional. Yang pertama melalui Surat Keputusan (SK) Menteri Pendidikan dan kebudayaan Nomor 0578/U/1983, sedangkan yang kedua dan terbaru melalui SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 252/M/2013. Kenapa ditetapkan sampai dua kali? Karena pada waktu pembuatan SK yang pertama (tahun 1983) belum terdapat undang-undang yang secara khusus membahas mengenai Cagar Budaya. Alih-alih, pemerintah pada masa itu masih menggunakan peraturan warisan era kolonial yaitu Monumenten Ordonantie (MO) Staatsblad Nomor 238 Tahun 1931. Dengan diberlakukannya Undang-Undang Cagar Budaya Nomor 11 Tahun 2010 tadi, maka MO dianggap sudah tidak relevan lagi sehingga Cagar Budaya ditetapkan kembali dengan menyesuaikan pada peraturan perundang-undangan yang baru.

Lantas, apa pentingnya sebuah status Cagar Budaya? Penting, karena dengan adanya status Cagar Budaya maka objek Cagar Budaya tersebut menjadi lebih terlindungi secara hukum. Konsekuensinya tidak main-main, perusakan bahkan sekedar pemindahan suatu objek Cagar Budaya tanpa autorisasi yang legal dapat berujung pada kasus pidana dengan hukuman penjara dan/atau denda. Sembarangan memindahkan Cagar Budaya? Penjara maksimal 2 tahun dan/atau denda minimal 100 juta rupiah. Kalau merusak? Penjara maksimal 15 tahun dan/atau denda minimal 500 juta rupiah. Silahkan cek UU Cagar Budaya deh untuk lebih lengkapnya (link tersedia di referensi artikel, ya!).

Tentunya pemilik Cagar Budaya juga berkewajiban untuk menjaga kelestarian Cagar Budaya yang dimilikinya. Kalau berwujud bangunan, sebisa mungkin fasad atau bagian muka bangunan dipertahankan sesuai aslinya. Kalau ada kerusakan, diperbaiki dengan menggunakan bahan hingga warna cat yang sama. Hal tersebut bertujuan agar generasi yang akan datang tetap bisa melihat bentuk asli dari bangunan, meskipun usianya sudah lebih dari 100 tahun seperti bangunan Museum Kebangkitan Nasional.

Jadi, sekarang kamu sudah paham kan apa itu Cagar Budaya? Lain kali jika kamu berkesempatan untuk mengunjungi objek Cagar Budaya, termasuk Museum Kebangkitan Nasional, jangan sampai dikotori apalagi dirusak ya! Mari kita lestarikan peninggalan masa lampau bersama-sama, supaya anak keturunan kamu kelak juga bisa melihat betapa kerennya sejarah bangsa kita.

Selamat Hari Purbakala!

(Penulis adalah lulusan arkeologi yang saat ini bekerja sebagai edukator di Museum Kebangkitan Nasional, dengan pengalaman mendampingi proses pembuatan Rekomendasi Penetapan Cagar Budaya di Kabupaten Bantul tahun 2017-2018).

 

Referensi:

  • Pemerintah Indonesia. 2010. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Lembaran Negara Republik Indonesia  Tahun 2010 Nomor 30. Jakarta: Sekretariat Negara. (dapat diakses secara online disini)
  • Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. 2013. Keputusan Mendikbud RI Nomor 252/M/2013 tentang Penetapan Gedung Kebangkitan Nasional Sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Nasional. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *