Hermanus Frederik Roll lahir di Gouda, Belanda, pada tanggal 27 Mei 1867. Beliau menyelesaikan studi kedokterannya diAmsterdam pada tahun 1893, kemudian meniti karir dengan bergabung ke dalam angkatan perang Hindia Belanda atau KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger) sebagai dokter militer. Pada tahun 1894, dr. Roll turut berpartisipasi dalam ekspedisi militer Belanda ke Lombok.  

Nampaknya karir dr. Roll sebagai dokter militer tidak bertahan lama, karena pada tahun 1895 beliau sudah bekerja di Geneeskundig Laboratorium (Laboratorium Medis) yang terletak di bilangan Weltevreden, Batavia. Laboratorium tersebut dikepalai oleh dr. Christiaan Eijkman, yang juga merangkap sebagai direktur Sekolah Dokter Djawa di kompleks rumah sakit militer Weltevreden (sekarang RSPAD Gatot Soebroto). Jabatan sebagai kepala dua institusi tersebut kemudian diwariskan pada dr. Roll setelah kepulangan dr. Eijkman ke Belanda pada tahun 1896.

Sebagai direktur Sekolah Dokter Djawa yang baru, dr. Roll berusaha keras untuk dapat memperbaiki  kualitas dan kuantitas Dokter Djawa yang lulus dari institusinya. Beliau kemudian mengusulkan reorganisasi sekolah pada pemerintah Hindia Belanda pada bulan Mei 1898. Banyak poin yang dibahas dalam usulan tersebut, namun salah satu poin yang terpenting adalah perlunya perluasan lembaga agar sekolah dapat menampung lebih banyak murid. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan pembangunan gedung sekolah baru.

Lahan yang kemudian dipilih sebagai lokasi gedung sekolah baru tersebut terletak di samping rumah sakit militer, tepatnya di hospitaalweg (sekarang Jl. Dr. Abdul Rahman Saleh). Arsitektur bangunan dirancang oleh pasukan zeni militer, sehingga bentuknya nampak seperti tangsi yang lengkap dengan ruang rekreasi dan asrama. Pembangunan bangunan tersebut sempat mengalami masa ketidakpastian ketika bantuan dana dari pemerintah ternyata tidak sebesar yang diharapkan, namun dengan bantuan dana dari tiga orang pengusaha Belanda dari Deli penyelesaian bangunan sekolah baru tersebut dapat diwujudkan. Bangunan itulah yang kemudian dikenal sebagai Gedung STOVIA dan saat ini menjadi gedung Museum Kebangkitan Nasional.

Di lingkungan STOVIA sendiri dr. Roll dikenal sebagai pribadi disiplin dan tegas, namun dihormati. Para siswa mengenangnya sebagai “Bapa Roll” yang dianggap sangat peduli dengan isu kesehatan di Hindia. Ketika Menteri Koloni meminta nasehat dari serikat dokter Hindia terkait kemungkinan dimasukannya dokter bumiputra ke institusi pendidikan yang lebih tinggi di Belanda, hampir semua dokter Belanda tidak setuju kecuali tiga orang saja, dan dr. Roll adalah salah seorang di antaranya. Beliau jugalah yang, atas pengaruhnya sebagai direktur, “menyelamatkan” dr. Soetomo yang hampir dikeluarkan dari sekolah karena para pengajar merasa terusik dengan munculnya Boedi Oetomo. Kepada para staf pengajar, beliau berkata, “Siapakah di antara tuan-tuan disini yang tidak seradikal Soetomo ketika muda?”.

Sayangnya, tidak banyak informasi yang dapat digali mengenai kehidupan dr. Roll setelah jabatannya berakhir pada tahun 1908. Yang kita ketahui, beliau sempat ikut menulis sambutan dalam buku yang dibuat  untuk memperingati 75 tahun berdirinya STOVIA (1926). Dokter Roll meninggal pada tanggal 20 September 1935 di Batavia. Hingga saat ini batu nisannya masih dapat kita temui di Museum Taman Prasasti. Selamat ulang tahun, Bapak Roll!

 

Kontributor Artikel:

Swa Setyawan Adinegoro

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *