Kisah heroik dokter lulusan STOVIA ini akan terus terabadikan dalam sejarah kedokteran Indonesia. Pasalnya, beliau merupakan salah satu dokter yang sangat berjasa dalam bidang penelitian. Beliau adalah Prof. dr. Achmad Mochtar, seorang direktur berkebangsaan Indonesia pertama Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Beliau mengorbankan dirinya demi menyelamatkan ilmuwan-ilmuwan lembaga Eijkman yang ditahan Kempeitei (polisi rahasia Jepang) atas tuduhan sabotase vaksin TCD (Typhus Cholera Dysentery) buatan Eijkman dengan kuman tetanus.

Prof. dr. Achmad Mochtar lahir di Ganggo Hilia, Bonjol, Pasaman, Sumatera Barat pada 1892. Berkat kecerdasannya beliau diterima bersekolah di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) pada 25 November 1908 bersamaan dengan tokoh Satiman Wiriosandjojo dan berhasil lulus delapan tahun kemudian pada 21 Juni 1916. Setelah menjadi dokter, beliau ditugaskan di Panyabungan, Sumatera Utara. Pendidikan kedokterannya dilanjutkan ke  Universitas Amsterdam pada 1927 hingga mendapat gelar doktor. Tahun 1927, Achmad Mochtar kembali ke Hindia Belanda melanjutkan penelitiannya tentang leptospirosis. Dirinya selama rentang itu berpindah-pindah tempat tinggal. Bengkulu, Sumatera Barat, hingga Semarang. Berbagai karya ilmiahnya dalam rentang waktu pengabdian tersebut terbit di berbagai jurnal kedokteran ternama.

Rumah Kelahiran dr. Achmad Mochtar di Bonjol Sumatera Barat

Prof. dr. Achmad Mochtar kemudian memutuskan untuk bergabung dengan Lembaga Eijkman. Beliau menjadi orang Indonesia pertama yang menjabat Direktur Laboratorium Eijkman, mengepalai bagian bakteriologi. Beliau juga peraih Hadiah Nobel Kedokteran pada 1929 atas penemuannya berupa vitamin pencegah neuritis (antineuritis), yakni tiamin alias vitamin B1 (antiberi-beri).

Kisah heroik dokter Achmad Mochtar bermula saat tahun 1942. Di tahun tersebut, Jepang memerintahkan pembuatan vaksin untuk obat para romusha yang diduga terserang penyakit tetanus. Lembaga Pasteur di Bandung pun diperintahkan untuk memproduksi vaksin tersebut. Setelah vaksin terselesaikan, Jepang mengujicobakannya kepada 90 orang romusha yang kondisinya sehat.

Pasteur Institut, Bandung, 1943

Hasilnya, setelah mendapat vaksin tersebut seluruh orang tersebut meninggal semuanya. Kasus kematian 90 romusha setelah mendapat suntik vaksin tersebut, membuat lembaga Eijkman yang dipimpin Mochtar menganalisis sampel jaringan hasil otopsi. Ternyata, vaksin yang diberikan tersebut telah tercemar toksin tetanus.

Selang 2 tahun dari tragedi tersebut, staf Mochtar dan para tenaga kesehatan yang bergerilya memberikan vaksinasi kepada masyarakat di tangkap tentara Jepang. Oktober 1944, adalah awal petaka mengerikan bagi seluruh staf Eijkman. Mereka dituduh telah melakukan sabotase terhadap vaksin yang diberikan kepada romusha. Mereka pun dijebloskan dalam penjara dan disiksa dengan berbagai macam metode mengerikan. Dari dipukuli, dibakar sampai dengan metode mencelupkan kepala dalam air. Beberapa dokter tewas dalam tahanan Jepang penuh penyiksaan tersebut.

Hal ini membuat Mochtar seperti dalam catatan berjudul Achmad Mochtar Scientiest Heroic Sacrifice The Guardian (2010) menyerahkan diri. Dirinya melakukan negosiasi untuk menyelamatkan para stafnya yang merupakan para dokter dan peneliti. Mochtar bersedia mengaku bahwa dirinya melakukan sabotase vaksin seperti yang dituduhkan Jepang. Pada bulan Januari 1945, mereka yang selamat dari siksaan tentara Jepang dibebaskan. Mochtar mempertaruhkan nyawanya untuk kepentingan panjang, yakni agar proses penelitian di lembaganya terus berjalan. Dalam upaya membantu masyarakat Indonesia yang tidak mempunyai akses kesehatan di tengah wabah penyakit yang tidak bisa terobati.

Buku War Crimes in Japan: A Case of Murder by Medicine

Dokter Achmad Mochtar pun ditangkap tentara Jepang. Dipancung kepalanya dan jasadnya dihancurkan dengan mesin giling uap. Jasadnya dikubur massal dan baru ditemukan tahun 2010. Melalui investigasi yang dilakukan oleh penerusnya, Sangkot Marzuki, dan Kevin Baird. Lubang kubur massal tersebut terletak di Ereveld, Ancol. Dimana jasad Mochtar ditemukan bersama 9 jasad lainnya dalam satu liang lahat.

Makam dr. Achmad Mochtar

Sebagai manusia yang mengabdi pada kedokteran dan penelitian bagi kesehatan masyarakat Indonesia saat itu. Pemerintah Indonesia di tahun 1968 memberikan penghargaan Satya Lencana Kebaktian Sosial dan tanda kehormatan Bintang Jasa Klas III. Namanya juga digunakan menjadi nama rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, yaitu Rumah Sakit Umum Daerah Dr Achmad Mochtar Bukittinggi.

 

Sumber:

https://investigasi.tempo.co/

https://historia.id/

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *