Saat ini, pemerintah sudah menghimbau masyarakat untuk melakukan karantina diri terkait pencegahan virus corona.  Siswa diliburkan dengan belajar dari rumah, para pekerja yang dapat tidak beraktivitas di luar jugar dihimbau untuk bekerja dari rumah. Namun, kenyataannya tidak semua masyarakat dapat melaksanakan kerja dari rumah seperti himbauan pemerintah. Kemudian, pemerintah juga sudah melakukan karantina wilayah dengan melarang Warga Negara Asing untuk masuk ke Indonesia.  Upaya karantina ini cukup efektif untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus corona. Jauh sebelum ini, proses karantina juga pernah dilakukan pada zaman Hindia Belanda.

Saat wabah pes melanda Jawa pada 1911, pemerintah melakukan isolasi pada Kota Malang, sebagai kota pertama kemunculan pes. Seluruh penduduk pribumi dan Tionghoa yang tinggal di sepanjang Lawang hingga Pohgajih dikarantina selama 5-10 hari meski pada praktiknya ada yang dikarantina hingga 30 hari.  Sementara, karantina tidak diberlakukan pada seluruh orang Eropa yang tinggal di wilayah tersebut. Orang Eropa cukup memeriksakan diri ke dokter yang akan memutuskan perlu tidaknya dikarantina.

Namun, ketika wabah pes semakin meluas hingga ke luar Malang, tindakan karantina hanya berlaku pada penderita pes dan keluarganya. Penduduk yang berjarak 100 meter dari rumah pasien terdampak tidak lagi ikut dikarantina.

Desa yang terjangkit pes diisolasi dengan diberi dinding pembatas antar-desa. Setiap daerah perbatasan di perkampungan dijaga oleh pihak militer. Proses penjagaan sangat ketat selama masa karantina. Di mana masyarakat tak bisa keluar atau masuk perkampungan dengan bebas. Barak isolasi juga dibangun tak jauh dari desa tersebut. Secara rutin, dokter dan mantri pes mengontrol tiap barak dan memantau kondisi desa terjangkit. Pemerintah kolonial lewat Dienst der Pestbestijding (Dinas Pemberantasan Pes) mengeluarkan larangan menjenguk orang sakit. Warga juga diwajibkan untuk melapor kepada mantri pes jika ada anggota keluarga yang sakit atau meninggal. Orang-orang dilarang keluar-masuk daerah terjangkit dan akan mendapat sanksi pidana bila melanggar. Ada beberapa juga rumah-rumah warga yang sengaja dihanguskan untuk membunuh tikus.

Rumah Warga yang Dihanguskan

Sebelum tahun 1915, rumah yang terkena pes akan dilakukan disinfeksi dengan menggunakan layar besar yang menutupi seluruh rumah. Namun, upaya tersebut tidak efektif dan menghabiskan biaya yang mahal. Cara tersebut kemudian diganti dengan memprioritaskan perbaikan struktur dan bentuk rumah anti tikus. Dinding anyaman bambu diganti dengan bata, tiang bambu diganti dengan kayu agar tak ada lagi tempat untuk tikus membuat sarang.

Penggantian Rumah Warga dari Anyaman Bambu menjadi Bata

Di Hindia Belanda, upaya pembatasan mobilisasi massa dilakukan pada kapal-kapal. Pemerintah kolonial pesimis untuk mengendalikan semua kapal yang masuk lantaran jumlahnya amat banyak. Pemerintah juga tak bisa melarang orang Muslim pergi ke Mekah. Oleh karena itu untuk menyiasatinya, pada Mei 1911 pemerintah mengeluarkan ordonansi karantina khusus untuk orang-orang yang baru pulang haji. Semua jemaah, menurut ordonansi, harus tinggal selama 5-10 hari di karantina dekat pelabuhan. Layanan karantina di Pulau Onrust kemudian diperbesar untuk menyediakan tempat bagi 3000 orang dalam 40 barak.

Selain itu, jamaah haji juga diharuskan mendisinfeksi pakaian dan barang-barang yang dibawa selama berhaji sebelum kembali ke desa masing-masing. Pasalnya, pes berasal dari kutu tikus yang bisa jadi menyelinap dalam barang-barang para jemaah selama di kapal. Pendisinfeksian merupakan langkah preventif agar para jamaah tak membawa penyakit tersebut ke kampung halaman mereka.

Apabila terdapat penderita pes yang meninggal, tubuhnya tidak boleh dikubur melainkan harus segera dibakar. Keluarga penderita pes pun harus dikarantina untuk mencari kemungkinan penularan.

 

Sumber: 

https://historia.id/

https://www.jatimtimes.com/

Foto-foto dari Neville Keasberry

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *