Bandung Plan adalah konsep kesejahteraan masyarakat Indonesia di bidang kesehatan yang muncul pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Konsep Bandung Plan sendiri memiliki tujuan bahwa pelayanan kesehatan tak melulu soal aspek kuratif yang fokus pada penyembuhan, namun juga harus dikombinasikan dengan aspek promotif yang bisa mempromosikan kesehatan dan aspek preventif yang bisa mencegah masalah kesehatan. Program tersebut dirumuskan oleh dua dokter yaitu Johannes Leimena dan Abdoel Patah.

Konsep yang dipresentasikan Leimena pada 1952 ini meliputi pembangunan rumah sakit pusat di kota, rumah sakit pembantu di kabupaten, poliklinik di kecamatan, dan pos kesehatan di desa terpencil. Menurutnya, jika ada warga yang sakit dan tidak teratasi di tingkat kecamatan, maka bisa dialihkan ke rumah sakit pembantu atau rumah sakit kota.Gagasan mereka membuat kesehatan masyarakat menjadi komponen wajib kurikulum ilmu kedokteran di Indonesia. Para dokter yang telah lulus kuliah, diminta bekerja di daerah terpencil selama tiga tahun agar terjadi penyebaran perawatan medis yang lebih merata di Indonesia.

Kekuasaan yang berganti ternyata tak mematikan gagasan yang dicetuskan oleh Leimena dan Abdoel Patah. Pada masa awal orde baru tepatnya di tahun 1968, gagasan Bandung Plan kembali dipresentasikan oleh Menteri Kesehatan, Gerrit Agustinus Siwabessy. Usulan tentang pembangunan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) pun diterima oleh Presideng Soeharto dan menjadi salah satu bagian program Pembangunan Lima Tahun (Pelita) Orde Baru.

Leimenna dan Abdoel Patah merupakan dua orang yang sama-sama lulus dari Sekolah Pendidikan Dokter Hindia atau School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA).

Abdoel Patah yang berasal dari Majalaya, Jawa Barat, merupakan senior Leimena yang lulus pada tahun 1921, kemudian melanjutkan pendidikan di Belanda pada tahun 1930-an. Patah lahir di Majalaya  pada 1898 dan tamat STOVIA pada 1921,  mendapatkan Indische Art di Surabaya, ditempatkan di Bangli, kemudian bekerja di Jeddah untuk menjaga kesehatan jamaah haji antara 1925-1932.   Dari Jedah,  Dr. Patah meneruskan pengetahuannya di Amsterdam menjadi Arts.  Pada 1935 mendapat gelar doktor dengan disertasi soal kesehatan jamaah haji.

Dr. Patah juga pernah menjadi Kepala Pendidikan Kesehatan Jawa Barat yang mendidik bidan, dan asisten apoteker.  Dr. Patah juga salah satu pendiri Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran bersama dr. Hasan Sadikin, dr. Djunjunan Setiakusumah, dr. Chasan Boesoiri serta sejumlah dokter lainnya.

Sedangkan Dr. Johannes Leimena lahir di Ambon, Maluku, 6 Maret 1905 dan lulus dari Sekolah School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) pada 1930. Setelah itu ia melanjutkan ke Sekolah Tinggi Kedokteran atau Geneeskundig Hooge School (GHS) pada 1939. Leimena pernah menjadi dokter zending di rumah sakit Immanuel Bandung. Selain menjadi dokter, ia merupakan tokoh politik yang paling sering menjabat sebagai menteri kabinet Indonesia dan satu-satunya Menteri Indonesia yang menjabat sebagai Menteri selama 21 tahun berturut-turut tanpa terputus. Leimena masuk ke dalam 18 kabinet yang berbeda, sejak Kabinet Sjahrir II (1946) sampai Kabinet Dwikora II (1966), baik sebagai Menteri Kesehatan, Wakil Perdana Menteri, Wakil Menteri Pertama maupun Menteri Sosial. Selain itu Leimena juga menyandang pangkat Laksamana Madya (Tituler) di TNI-AL ketika ia menjadi anggota dari KOTI (Komando Operasi Tertinggi) dalam rangka Trikora.

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *