Sekolah Dokter Djawa di Hindia Belanda terus-menerus mengalami perbaikan dan penyempurnaan kurikulum. Pada tahun 1889 namanya diubah menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Geneeskundigen atau Sekolah Pendidikan Ahli Ilmu Kedokteran Pribumi, kemudian pada tahun 1898 diubah lagi menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Artsen atau Sekolah Dokter Pribumi.

STOVIA menjadi lembaga pendidikan pertama yang menjadi tempat berkumpulnya para pelajar dari berbagai wilayah di tanah koloni belanda ini, karena pemerintah Hindia Belanda memberi kesempatan yang sama untuk menjadi pelajar STOVIA kepada semua anak bumi putera yang memenuhi syarat. Pelajar STOVIA umumnya memiliki kecerdasan yang cukup tinggi, karena persyaratan untuk masuk menjadi pelajar STOVIA harus melalui proses yang sangat ketat dan selektif.

Tanah yang digunakan untuk membangun gedung STOVIA yang baru ini setelah dipindahkan sebelumnya didalam kawasan Rumah Sakit Zeni Militer Belanda, berbentuk persegi panjang yang tidak sempurna yang merupakan bekas taman kompleks zeni militer belanda. Bangunan di bagian timur dimanfaatkan untuk kantor direktur, kantor dewan pengajar, tata usaha, poliklinik dan ruang kelas. Bangunan di bagian utara, barat dan selatan dimanfaatkan sebagai asrama yang dilengkapi dengan kamar mandi. Pada bagian tengah halaman terdapat tiga bangunan yang dimanfaatkan untuk praktek fisika dan kimia, kegiatan senam (gymnastic) dan ruang rekreasi.

 

(Wastafel di setiap sudut kelas)

Ada hal unik lainnya yang sayang sekali sudah menghilang di bekas gedung STOVIA ini yang kini menjadi Museum Kebangkitan Nasional, Apa itu? Keberadaan wastafel kuno yang didatangkan langsung dari eropa ditempatkan segala sudut area gedung STOVIA. Konon keberadaan wastafel ini terkait dengan wabah kolera yang pernah melanda di Batavia hampir sebagian besar korbannya adalah warga Eropa sehingga permerintah Hindia Belanda berusaha keras mengubah kebiasaan kotor dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Hindia Belanda.

Penyakit yang mulai dikenal pada 1821 ini menyerang usus besar dengan ditandai gejala muntah-muntah dan buang air besar yang sangat hebat. Penyakit ini menyebabkan kepanikan luar biasa di kalangan orang Eropa. Pasalnya, wabah kolera menyebar lebih cepat dibandingkan penyakit epidemi lainnya semisal malaria, tifus, atau disentri. Pada 1864, kolera merenggut nyawa sebanyak 240 orang Eropa. Persebaran bakteri kolera biasanya menular lewat air minum, makanan, dan kontak langsung.

 

(Wastafel disediakan disetiap sudut sekolah)

Selain itu para siswa STOVIA ini diwajibkan mencuci tangan setelah dan sesudah beraktivitas setiap harinya dengan tertib mengantri pada wastafel yang sudah disediakan, sehingga para siswa terbiasa pada pola hidup sehat dan ketika lulus nanti dapat mengajarkan kepada mayarakat ditanah koloni akan pentingnya hidup sehat, yang sebelum nya masyarakat pribumi sangat tidak memperdulikan kondisi kebersihan dan kesehatan pada dirinya masing-masing.

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *