Beredar postingan di media sosial menyebutkan bahwa salah seorang dokter spesialis paru yang menangani masalah COVID-19 adalah seorang dokter yang usianya sudah lanjut, 80 tahun (bernama dokter Handoko Gunawan) mendedikasikan dirinya untuk bekerja sampai jam 3 pagi.

Wabah penyakit dan dokter memang memiliki hubungan istimewa dari zaman dahulu hingga sekarang. Mulai dari pes, flu spanyol, MERS, SARS sampai yang paling baru COVID-19.

Dulu Pendidikan kedokteran atau pekerjaan sebagai dokter bukanlah sebuah pekerjaan prestisius atau bergengsi. Kenapa? Karena seorang dokter bertugas mengatasi wabah penyakit yang melanda suatu wilayah di Hindia Belanda. Akibat dari pekerjaannya ini mau tak mau seorang dokter harus bersentuhan langsung dengan penderita yang kebanyakan berasal dari masyarakat miskin.

Pendidikan kedokteran lahir atas kurangnya petugas medis atau dokter di Hindia Belanda. Jumlah dokter Belanda sangat sedikit jika ingin mendatangkan dokter dari Belanda pemerintah harus menggaji mereka dengan nominal yang tidak sedikit. Itu pun belum tentu mereka mau terjun langsung ke lapangan untuk mengobati para penduduk yang sakit. Hal ini erat kaitannya dengan stratifikasi masyarakat pada zaman penjajahan, bahwa penduduk bumiputera berada di lapisan paling bawah.

Jalan satu-satunya pemerintah harus mendidik pemuda bumiputera untuk menjadi tenaga medis. Meskipun peruntukan awal memang untuk mengobati para pekerja perkebunan dan bertugas melakukan vaksinasi kepada masyarakat. Dimulai dari diadakannya kursus mantri cacar kemudian berlanjut menjadi sekolah Dokter Djawa sampai akhirnya berkembang menjadi STOVIA. Banyak dokter lulusan STOVIA yang harus melanjutkan pendidikan ke Belanda agar secara posisi di masyarakat mereka dipandang sama dengan dokter Belanda. Padahal secara kualitas mereka tidak kalah hebat dari dokter lulusan Eropa.

Perlakuan diskriminasi ini tidak hanya datang dari golongan Eropa, tapi juga penduduk Bumiputera. Kedudukan dokter saat itu masih dipandang sebelah mata, bahkan dalam sebuah pertemuan resmi misalnya, seorang Dokter Djawa tidak bisa duduk di kursi bersama pejabat melainkan duduk di atas tanah atau tikar di lantai.

Banyak dokter lulusan STOVIA yang tidak menetapkan tarif atas jasa praktek yang mereka lakukan. Imbalan seikhlasnya bisa diberikan oleh pasien dengan cara memasukkan uang kedalam kotak yang diletakkan di depan pintu ruang praktek. Tak jarang jika pasien yang datang berobat sama sekali tidak memiliki uang, maka sang dokter menyuruh pasien tersebut mengambil uang yang ada di kotak itu untuk dibawa pulang guna mencukupi kebutuhan sehari-hari pasien.

Nurani dokter yang tumbuh bukan semata karena proses pendidikan, tetapi internalisasi nilai kemanusiaan ke dalam hati atas profesi yang diemban. Bukan mentereng dan silaunya tanda di depan nama, tetapi wujud cinta dan kasih terhadap sesama. Banyak pekerjaan mulia, tak terkecuali menyelamatkan nyawa manusia. Seperti pesan seorang Dokter Djawa, Raden Goeteng Taroenadibrata “Hargailah apa yang telah diberikan kepada kalian, hargailah kesempatan yang terbuka bagi kalian”. Maka dari itu, apresiasi sebesar-besarnya dari kami bagi para dokter, perawat, paramedis dan seluruh jajaran rumah sakit yang telah berdedikasi mengabdikan dirinya untuk menyelamatkan nyawa sesama manusia.

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *