Upaya pemerintah untuk menghadapi wabah global virus corona adalah dengan memperbanyak rumah sakit sebagai tempat rujukan menangani virus Corona. Penambahan rumah sakit rujukan ini agar pasien mendapatkan penanganan yang lebih baik.

Tahukah kalian? beberapa nama rumah sakit yang menjadi rujukan wabah corona ini terinspirasi dari perjuangan dan pengabdian dokter-dokter lulusan STOVIA? Berikut ini merupakan uraian singkat tentang tokoh-tokoh dibalik nama rumah sakit tersebut.

1) RSUD Dr. Soetomo (Surabaya)

Rumah sakit ini berada di Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.6-8, Airlangga, Kec. Gubeng, Kota Surabaya, Jawa Timur. Nama rumah sakit ini diambil dari nama Raden Soetomo. Beliau masuk STOVIA pada 10 Januari 1903, dan lulus pada tanggal 11 April 1911. Seperti yang kita ketahui bersama, beliau merupakan salah satu tokoh pergerakan nasional yang sempat menjadi Ketua Organisasi Boedi Oetomo. Pada tahun 1919 sampai 1923, Soetomo mendapatkan beasiswa dan menlanjutkan studi spesialis kedokteran di Universitas Amsterdam. Selama kuliah, Soetomo ikut berkegiatan di Indische Vereeniging dan sempat dipilih menjadi ketua Indische Vereeniging periode 1921–1922.  

2) RSUD dr. Iskak (Tulungagung)

Rumah sakit ini berada di Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Kedung Taman, Kec. Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Pada akhir bulan Desember 1948 R. Moechtar Prabu Mangkunegoro, Bupati Tulungagung saat itu menunjuk dr. Iskak sebagai pimpinan baru rumah sakit. dr. Iskak adalah dokter kelahiran Tulungagung, beliau terdaftar masuk STOVIA pada 14 Maret 1898, dan lulus pada tanggal 28 Oktober 1905. 

3) RSUP Dr. Sardjito (Yogyakarta)

Rumah sakit  yang berada di Jl. Kesehatan No.1, Senolowo, Sinduadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta ini digagas oleh salah satu lulusan STOVIA yang bernama Dr. Sardjito. Beliau masuk STOVIA pada 3 Desember 1906  dan lulus pada tanggal 28 Juni 1915. Pada masa perang kemerdekaan, ia ikut serta dalam proses pemindahan Institut Pasteur di Bandung ke Klaten. Selanjutnya, ia juga menjadi Presiden Universiteit (sekarang disebut Rektor) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang pertama. 

4) RSUD Dr. Moewardi (Surakarta)

Moewardi adalah seorang dokter lulusan STOVIA, yang lulus pada tanggal 1 Desember 1933. Namanya diabadikan menjadi salah satu rumah sakit yang berada di Jl. Kolonel Sutarto No.132, Jebres, Kec. Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan spesialisasi THT. Pada masa belajar di STOVIA, Muwardi, menunjukkan minat yang besar terhadap pergerakan pemuda. Ia masuk Jong Java dan giat dalam kegiatan kepanduan. Pada masa-masa awal belajar di STOVIA Muwardi pernah menjadi anggota Nederlansch Indiche Padvinder Vereneging (NIPV).

5) RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro (Klaten)

Mas Soeradji masuk STOVIA pada 10 Januari 1903 dan lulus pada 1 Agustus 1912. Beliau-lah yang mengusulkan nama organisasi “Boedi Oetomo”.
Beliau ini pernah memberantas wabah busung lapar (hongerodeem) di Klaten. Selain aktif sebagai dokter, Soeradji juga ikut dalam perjuangan kemerdekaan serta peduli terhadap kemanusiaan dengan mendirikan PMI Klaten dan markasnya menempati rumah beliau. Oleh karena itu, namanya terpatri menjadi nama rumah sakit yang berada di Jl. KRT dr Soeradji Tirtonegoro No.1, Tegalyoso, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

6) RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo (Banyumas)

Prof. Dr. Margono Soekarjo adalah dokter pribumi pertama yang diakui oleh pemerintahan Hindia Belanda. Setelah lulus STOVIA, Margono melanjutkan sekolah di Belanda dan menjadi ahli bedah lulusan Universitas Amsterdam. Beliau merupakan salah satu adalah perintis pembedahan jantung di Indonesia. Nama beliau terpatri menjadi nama rumah sakit di tanah kelahirannya di Jl. Dr. Gumbreg No.1 Kec. Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

7) RSUD Dr. R. Goeteng Taroenadibrata (Purbalingga)

Raden Goeteng Taroenadibrata masuk STOVIA pada 1 Oktober 1887 dan lulus pada 10 Maret 1893. Beliau tercatat sebagai dokter pertama dari daerah kelahirannya Purbalingga. Oleh karena itu, nama beliau diabadikan menjadi nama rumah sakit yang berada di Jl. Tentara Pelajar No.23, Kembaran Kulon, Kec. Purbalingga, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

8) RSUD dr. R. Soedjono (Lombok Timur)

Raden Mas Soedjono masuk ke STOVIA pada 17 Juni 1889 dan lulus pada19 Januari 1897. Pada saat itu, R. Soedjono ditugaskan untuk memberantas penyakit kolera yang ada di daerah Selong Lombok Timur. Rumah Sakit Umum dr. R. Soedjono Selong dimulai dari sebuah praktik pribadi yang di dirikan oleh dr. R. Soedjono pada tahun 1912 yang kemudian berkembang menjadi poli layanan umum hingga tahun 1932. Saat ini, tempat tersebut telah berubah menjadi sebuah rumah sakit daerah yang berada di Jl. Prof. M Yamin SH No.55, Selong, Kab. Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

9) RSUD dr. Agoesdjam (Ketapang)

Mas Agoesdjam masuk STOVIA pada 10 Januari 1903 dan lulus pada tanggal 8 Maret 1913. Lulus sebagai dokter STOVIA, Agoesdjam pernah mengabdi di berbagai daerah, antara lain Pontianak, Singkawang, Sambas, dan perkampungan Dayak di pedalaman di Kalimantan Barat. Pada 1943, Agoesdjam meninggalkan keluarganya di Pontianak dan berangkat ke Ketapang untuk menggantikan menantunya, yakni dr Soeharso yang pergi cuti ke Jawa. Kemudian namanya dikenang menjadi salah satu rumah sakit yang berada di Jl. DI Panjaitan No.51, Sampit, Delta Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

 

10) RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou (Manado)

Roembajan Deil Kandou masuk ke STOVIA pada 13 September 1914 dan lulus pada tanggal 16 Mei 1925. Nama beliau diabadikan menjadi nama rumah sakit yang berada di Jl. Raya Tanawangko No.56, Kec. Malalayang, Kota Manado, Sulawesi Utara.

11) RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo (Makassar)

Wahidin Soedirohoesodo menyelesaikan Sekolah Dokter Djawa dalam waktu 22 bulan, kemudian beliau diangkat sebagai asistent leeraar Sekolah Dokter Jawa pada 1872. Wahidin Sudirohusodo sering berkeliling kota-kota besar di Jawa mengunjungi para bangsawan mengkampanyekan gagasan “studiefonds” atau “dana pelajar” untuk membantu pemuda-pemuda cerdas yang tidak dapat melanjutkan sekolahnya. Dedikasi beliau sebagai dokter dan pahlawan nasional diabadikan menjadi nama sebuah rumah sakit yang berada di Jl.Perintis Kemerdekaan Km.11, Tamalanrea, Makassar.

12) RSUP dr. J. Leimena (Ambon)

Dokter berdarah Ambon ini setelah lulus dari STOVIA pada 1930 juga mulai bekerja sebagai dokter, yakni di Rumah Sakit CBZ Batavia atau
yang kini menjadi RS Cipto Mangunkusumo. Dengan keaktifannya di Jong Ambon, ia ikut mempersiapkan Kongres Pemuda 28 Oktober 1928, yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Beliau merupakan tokoh politik yang paling sering menjabat sebagai menteri dan satu-satunya Menteri Indonesia yang menjabat selama 21 tahun berturut-turut tanpa terputus.Namanya diabadikan menjadi rumah sakit yang berada di Desa Rumah Tiga, Kecamatan Teluk Ambon, Ambon, Maluku.

Nah, itulah beberapa tokoh dokter yang namanya dikenang sebagai nama rumah sakit. Saat ini, rumah sakit tersebut merupakan rujukan bagi masyakarat dengan gejala virus corona. Setiap dari kita bisa membantu dan berkontribusi mengurangi laju wabah corona dengan tindakan-tindakan sederhana seperti menjaga kesehatan, kebersihan diri dan lingkungan. Selain itu, dengan kondisi saat ini social distancing sangat dianjurkan untuk dilakukan. Semoga pandemi ini segera berlalu dan dunia bisa beraktivitas kembali normal dan sehat seperti sebelumnya ya.

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *