Tahun 1937 adalah masa bersejarah bagi perkembangan media massa di  Indonesia. Pada saat itu sejumlah wartawan muda Indonesia yang memiliki kepedulian terhadap kemerdekaan Indonesia, ikut berjuang merebut kemerdekaan sesuai dengan keahlian yang mereka miliki, termasuk juga keahlian bidang tulis menulis. Mereka melakukan perjuangan melalui dunia pers kewartawanan.  Melalui dunia pers dan kewartawanan mereka memberikan pelayanan khusus untuk masyarakat dengan mengabarkan serta memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai berbagai masalah yang bergejolak dalam masyarakat Indonesia pada saat itu.

A.M. Sipatuhar, R.M. Soemanang, Adam Malik, Pandu Kartawiguna, dan Sanusi Pane mereka adalah orang-orang yang memiliki kepedulian tersebut. Dalam bekerja mereka bekerja sama mencatat kejadian-kejadian penting yang terjadi dalam masyarakat waktu itu, seperti rapat politik, siding Volksraad serta kegiatan-kegiatan penting kebangsaan lainnya. Tulisan-tulisan mereka ternyata dimuat pada surat kabar diluar Jakarta, seperti Suara Umum (Surabaya), Pewarta Deli (Medan) dan lain-lain.

Setelah melihat sambutan hangat dari media massa yang lain, akhirnya timbul gagasan pada mereka untuk mengembangkan dan menerbitkan administrasi usaha sendiri dalam bidang pers kewartawanan tersebut. Selanjutnya, berkumpulah Sipatuhar, Soemanang, Adam Malik, dan Pandu Kartawiguna untuk membicarakan masalah itu. Mereka berdiskusi membahas tentang prinsip-prinsip dasar dan juga nama yang akan diberikan bagi kantor berita itu. Mereka membuat usaha penerbitan berupa kantor berita, akhirnya diputuskan nama kantor berita yang akan didirikan itu bernama ANTARA, dari sanalah ANTARA lahir.

Nama ANTARA mereka sepakati bersama dengan harapan, sesuai arti dan sifatnya, yakni menjadi perantara masyarakat dengan pers dalam arti luas. Menurut siaran pers dan dokumentasi ANTARA tanggal 15 Juli 1941, hal yang melatar belakangi kantor berita ANTARA itu didirikan adalah karena keadaan serta kepentingan pers dan masyarakat Indonesia yang menginginkan suata badan perantara yang menghubungkan gambaran masyarakat dalam bentuknya yang luas dalam pers.

Pada saat berdirinya, pertama kali ANTARA mulai menerbitkan buletin yang disebarkan keseluruh pelosok tanah air. Tujuannya adalah untuk dikonsumsi oleh surat-surat kabar yang ada pada saat itu. Karena hampir semua surat kabar di luar Jakarta, buletin ANTARA banyak dibutuhkan oleh sebagian besar surat kabar di Indonesia, bahkan para pemilik serta penerbit Indonesia banyak berlangganan buletin ANTARA.

Pada pertama kali didirikan, yaitu tanggal 13 Desember 1939, awalnya Kantor Berita ANTARA hanya menempati sebuah ruangan kantor kecil di Buitentijgerstraat, sekarang Jalan Pinangsia Nomor 30 Jakarta, dengan peralatan sederhana berupa beberapa mesin tik dan sebuah stenstil. Kemudian pada tahun 1941, Kantor Berita ANTARA kemudian menempati kantor baru di Jalan Tanah Abang Barat Nomor 90 Jakarta. Namun, berselang satu tahun, tepatnya pada tahun 1942, Kantor Berita ANTARA pindah ke Jalan Antara Nomor 53 Jakarta. Hingga ketika tentara Jepang menduduki Indonesia, ANTARA diperbolehkan terus bekerja dengan nama Yoshima. Namun, pada rentang waktu tahun 1942 hingga 1945, Jepang melebur Kantor Berita  ANTARA menjadi Domei. Peleburan tersebut tidak bertahan lama. Pada masa puncak perjuangan, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945, Kantor Berita ANTARA berhasil menyelundupkan penyiaran teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia keseluruh dunia dari gedungnya di Jalan Antara Nomor 57-61 Jakarta. Padahal pada waktu  itu, Indonesia masih berada dibawah ancaman tentara Jepang. Namun dikarenakan pada tahun 1946 pemerintahan dan ibukota Republik Indonesia hijrah ke Yogyakarta, maka Kantor Berita ANTARA pun ikut pindah ke Yogyakarta. Agar dapat lebih efektif dalam melakukan proses penyiaran beritanya dari Yogyakarta, maka Kantor Berita ANTARA pun memasang sebuah pemancar kecil yang dibawanya dari Jakarta dengan cara diselundupkan.

 

 

Pada bulan Maret tahun 1947, Kantor Berita ANTARA mulai menyiarkan berita-berita ke luar negeri. Permulaan siaran ini dilakukan dengan upacara kecil yang dihadiri oleh Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia waktu itu.  Kedudukan ANTARA di kota Yogyakarta ternyata tidak lama, pada Agustus 1949, bersamaan dengan pindahnya kembali Ibukota Republik Indonesia ke Jakarta, maka Kantor Berita ANTARA pun membuka kembali kantornya di Jakarta.

Pada tahun 1962, Presiden mengambil alih pimpinan ANTARA dan menempatkan kantor berita ini dibawah PEPERTI (Penguasa Perang Tertinggi). Pimpinan redaksi pun diserahkan kepada Letkol Harsono. Pada tahun ini pula Presiden membubarkan yayasan ANTARA dan kemudian mendirikan Lembaga Kantor Berita Nasional ANTARA (LKBN ANTARA) yang berada dibawah Presiden sebagai Kepala Negara Republik Indonesia. Hanya berselang satu tahun tepatnya tahun 1963, Kantor berita PIA disatukan dengan LKBN ANTARA, sedangkan dua kantor berita lain yakni INPS dan APB dibubarkan. Sementara, para karyawannya ditampung dalam LKBN ANTARA.

LKBN ANTARA pun menjadi Kantor Berita tunggal di Republik Indonesia yang melayani semua surat kabar dan media massa Indonesia. Untuk membersihkan tubuh ANTARA dari sisa-sisa Gerakan 30 September, maka pada tanggal 2 Oktober 1965, LKBN ANTARA ditempatkan dibawah Penguasa Perang Daerah Jakarta Raya.

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *