Di tahun 1911 pemerintah kekurangan jumlah tenaga dokter. Berjangkitnya wabah penyakit di beberapa daerah, antara lain pest di Malang, mengakibatkan penugasan bagian pecu kelas 6 untuk menjadi dokter tanpa diuji terlebih dahulu. Ujian untuk mendapat gelar Inlandsch Artsen sejak tahun 1904 meliputi enam mata pelajaran: penyakit dalam, ilmu bedah, kebidanan, penyakit mata, kulit dan kelamin, ilmu perawatan, dokter kehakiman dan farmasi. Tahun 1913 organisasi STOVIA diperbaharui. Sistem pada bagian kedokteran ditingkatkan dan urutan mata pelajaran disempurnakan. Kerja praktikum diperbanyak. Salah satunya dengan praktek menggunakan alat bantu pernafasan. Sampai saat ini terdapat beberapa koleksi yang tersimpan di Museum Kebangkitan Nasional. Koleksi alat bantu pernafasan ini terdiri atas tiga tipe dan dengan jumlah alat sebanyak tiga. Alat tipe pertama terdapat di ruang pameran STOVIA III “Meningkat dan Berkembang”, tipe kedua dan tipe ketiga terdapat di ruang penyimpanan (storage) Museum Kebangkitan Nasional.

Alat Bantu Pernafasan Tipe 1

Alat bantu pernafasan dibuat oleh pabrik bernama C.F. Palmer di London, Inggris. Bahan yang dominan pada Alat tersebut ada dua, bahan pertama adalah logam dan bahan kedua adalah kayu. Warna yang dominan pada Alat tersebut adalah hitam. Alat yang memiliki ukuran dengan panjang 147 cm, lebar 70 cm, dan tinggi 170 cm itu dipamerkan di Ruang STOVIA III. Kondisi alat masih baik.

Alat itu diletakkan pada sebuah meja kayu yang berkaki empat. Dua kaki memiliki roda, sedangkan dua kaki lainnya tidak memiliki roda. Alat tersebut memiliki dua tiang berbahan logam. Kedua tiang tersebut dihubungkan dengan sebuah logam yang terletak secara horizontal. Tiang yang paling tinggi, memiliki sebuah tabung yang berukuran 30 cm. Tiang yang pendek juga memiliki tabung dengan ukuran yang lebih kecil. Di tengah kedua tabung, terdapat sebuah logam berbentuk lingkaran yang beronamen spiral yang berwarna emas. Kedua tabung terletak di atas logam yang diletakkan secara horizontal.

Alat Bantu Pernafasan Tipe 2

Alat bantu pernafasan tipe 2 terdapat di ruang storage MKN. Pabrik pembuat alat itu adalah F. Palmer di London Inggris. Alat tersebut berbahan logam. Warna dominan pada alat adalah hitam. Kondisi alat sudah mengalami korosi. Alat tersebut memiliki ukuran dengan panjang 134 cm, lebar 61 cm, dan tinggi 157 cm. Teknik pembuatan Alat tersebut adalah teknik cetak.

Alat bantu pernafasan itu berbentuk kereta dorong yang dilengkapi dengan alat pompa pernafasan. Alat tersebut dilengkapi dengan satu tuas berbentuk bulat dengan pegangan yang berfungsi untuk menggerakan alat pompa pernafasan itu. Tuas itu berfungsi menggerakan lima silinder. Silinder pertama terdapat di balok logam paling atas yang sejajar dengan tuas, silinder pertama yang berukuran besar merupakan silinder yang memiliki dua logam penyangga. Sementara di bawahnya terdapat empat silinder. Tiga silinder yang berukuran sedang sejajar dengan satu silinder yang berukuran besar. Balok logam yang paling bawah merupakan tempat mesin penggerak yang sejajar dengan satu silinder yang berukuran besar. Alat bantu pernafasan berfungsi untuk menggerakan atau mengalirkan oksigen ke dalam tubuh. Alat bantu pernafasan berperan dalam pengobatan penyakit paru- paru yang berjangkit di Batavia. Penyakit paru-paru tersebut antara lain adalah pneumonia dan tuberculose.

Alat Bantu Pernafasan Tipe 3

Alat bantu pernafasan tipe 3 terdapat di ruang penyimpanan MKN. Alat itu tidak memiliki label informasi dan tidak terdaftar dalam katalog milik MKN. Walaupun tidak memiliki informasi tertulis, namun alat tersebut memiliki kemiripan dengan alat pompa pernafasan tipe pertama. Akan tetapi, alat itu memiliki perbedaan yang cukup banyak dibandingkan dengan alat bantu pernafasan tipe 2. Alat tersebut sama-sama berbentuk kereta dorong dengan bagian paling atas terdapat sebuah balok logam. Perbedaan yang paling mencolok dari alat bantu pernafasan tipe 2 adalah tidak memiliki tuas untuk menggerakan roda pada alat tersebut. Kemudian di atas balok logam tidak terdapat benda apa pun.

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *