Meskipun diperuntukkan bagi bumiputra agar dapat mengenyam pendidikan kedokteran ala barat, pengelolaan STOVIA tidak jauh dengen ritme militer. Sewaktu namanya masih menjadi Sekolah Dokter Djawa, sekolah ini berlokasi di kompleks rumah sakit militer di Weltevreden (sekarang RSPAD Gatot Soebroto). Setelah pindah pun gedung barunya dirancang oleh zeni militer. Bahkan beberapa pengajarnya juga berstatus perwira militer. Dengan demikian, satu sikap yang sangat identik dengan dunia militer juga diterapkan disini: disiplin.

Bak akademi militer, kehidupan dalam kampus STOVIA adalah kehidupan asrama. Kesemuanya dilakukan dalam jadwal yang ketat, mulai sejak bangun tidur hingga tidur kembali. Ritme hidup yang seperti itu mungkin tidaklah cocok bagi semua orang, terlebih bagi kaum sipil bumiputra yang belum pernah merasakan didikan ala militer sebelumnya. Untuk menjaga kondisi agar semua siswa mematuhi segenap peraturan sekolah, maka ditunjuklah seorang pengawas, atau yang dalam bahasa Belanda disebut sebagai suppoost.

Suppoost adalah jabatan staf yang dijabat oleh  orang Belanda. Tugasnya terdengar sederhana, kalau tidak menjemukan: mengawasi siswa-siswa STOVIA dan mencatat mereka-mereka yang melanggar aturan. Berhubung mereka yang melanggar aturan sudah pasti akan dikenai hukuman, jelas saja kalau para siswa STOVIA merasa ngeri pada sang suppoost, yang mereka samakan sebagai “algojo”.

Adapun kesan mengenai pekerjaan suppoost didapat dari memoar Jacob Samallo, seorang dokter bumiputra lulusan STOVIA:

“.. Saat itu, tiap jurusan memiliki penjaga pintu sendiri. Seorang mantan militer mengawasi penerapan tata tertib, kebersihan dan kerapian kamar tidur dan keheningan selama belajar. Pendeknya, dia seperti pemburu pencuri… Kadang-kadang kita diam-diam mengutuk penjaga itu.”

Dari semua suppoost yang mengabdi sepanjang sejarah STOVIA, setidaknyak kita memiliki sedikit data terkait tiga orang di antaranya: Jansen, La Fountaine, dan Jennae. Ketiganya bertugas di STOVIA sewaktu masih berlokasi di hospitaalweg yang saat ini menjadi Museum Kebangkitan Nasional. Yang menarik adalah, ketiga suppoost di atas nampaknya memiliki karakter yang berbeda-beda. Jansen  misalnya, dikenang sebagai seorang yang baik. La Fontaine dikenal sebagai “algojo” karena sangat ketat dan disiplin, namun dihormati karena dirinya tidak pernah menghukum karena pelanggaran-pelanggaran remeh. Sebaliknya, Jennae yang ditunjuk sebagai suppoost untuk menggantikan Jansen tidak begitu disukai karena suka mencatat pelanggaran-pelanggaran remeh. Akibatnya, pernah pada suatu waktu dirinya dilempari bantal oleh para siswa.

 

Kontributor Artikel:

Swa Setyawan Adinegoro

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *