Muhammad Sulaeman, tokoh yang satu ini mempunyai ciri khas tersendiri. Dengan sifatnya agak pendiam, Sulaeman sering bergerak di belakang layar, namun sebenarnya ia seorang idealis. Aktivitas Sulaeman pada masa awal Budi Utomo (BU) amat kuat, dia terpilih sebagai wakil ketua BU. Wawasan hidup sederhana, menghormati orang lain, hormat kepada yang lebih tua maupun sesama, membuat Sulaeman bisa dekat dengan semua kalangan.

Muhammad Sulaeman, sosok yang sangat mengedepankan pendidikan bagi rakyat. Pendidikan untuk bersaing dengan bangsa Eropa dan memperjuangkan persamaan martabat dengan kekuatan sendiri merupakan tekad bulat kedua tokoh ini. Pemikiran yang jarang dimiliki orang di masa itu.

 

En lopende woordenboeken, Soelaiman (Sulaeman, si kamus berjalan)

Pemerintah kolonial membuka peluang untuk menempuh pendidikan gratis Eurepesche Lagere School (ELS) dan dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah dokter Jawa, dengan persyaratan priyayi, cerdas, dan bisa berbahasa Belanda. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Sulaeman. Meski belum genap tujuh tahun, Sulaeman kecil yang tumbuh di lingkungan keluarga priyayi, cukup mengerti bahasa Belanda. Meski rumahnya cukup jauh, Sulaeman berjalan kaki berangkat dan pulang sekolah atau menumpang gerobak warga.

Usia 16 tahun, Sulaeman lulus dari ELS. Sulaeman remaja menyadari, kungkungan masyarakat pribumi hanya dapat ditembus dengan peningkatan kualitas manusia melalui pendidikan, membuatnya mantab memasuki School Tot Opleiding van Indlansche Artsen (STOVIA) atau Sekolah Dokter di Batavia. Memasuki STOVIA membuat pengetahuan dan wawasannya bertambah luas. Sulaeman dikenal sangat cerdas, dia dijuluki en lopende woordenboek (sebuah kamus berjalan). Jika teman-temannya belajar bersama, Sulaeman tiduran saja, tetapi kalau ujian lulus dengan nilai yang tinggi. Tahun 1911, Sulaeman menjadi salah satu dari sembilan siswa terbaik yang dikirim untuk menangani wabah penyakit pes di pulau Jawa. Sembilan siswa ini langsung dilantik menjadi inlandsh arts (dokter pribumi) tanpa ujian.

Bertugas sebagai dokter pribumi yang membuatnya harus berpindah-pindah, mendekatkanya pada rakyat kecil dan kemanusiaan. Saat ditugaskan di Semarang, dia membuka praktek dokter di rumah yang dia tinggali dan rumah sebelahnya digunakan pula untuk anak-anak asuhnya.

Begitulah sosok seorang Sulaeman, yang walau sangat maju pikirannya tetap seorang yang bersahaja, tekun, pekerja keras, dermawan, merakyat, pendiam, tapi penuh strategi dan selalu berupaya memberikan pendidikan yang lebih baik bagi lingkungannya. Dia memberikan tempat tinggal dan menyekolahkan anak kurang mampu dimana pun dia bertugas. Sulaeman meyakini, pendidikan dan peningkatan kualitas anak bangsalah yang bakal memajukan negara. Ia berjuang untuk nasib rakyat kecil.

 

Kontributor Artikel:

Yusti Muslimawati, S.S

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *