20 Mei lalu, Bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-111 tahun. Hari dimana pernah terjadi sebuah peristiwa yang amat luar biasa maknanya. Hari yang menjadi awal kebangkitan rasa Nasionalisme dari para pahlawan. Cipto Mangunkusumo, Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), Sutomo, dan Muhammad Sulaiman, adalah beberapa tokoh pahlawan yang sudah sering kita dengar jasanya dalam membangkitkan nasionalisme di Indonesia. Namun, tidak banyak yang mengetahui kehidupan masa muda mereka yang mengantarkan pada kesadaran untuk memulai perjuangannya.

“Mijn levenstaak begint pas” -“Tugas hidup saya baru mulai”-, adalah sepenggal pesan telegram dari Cipto Mangunkusomo saat akan dipenjarakan Pemerintah Hindia Belanda karena kegiatan politik. Kalimat tersebut juga menggambarkan sebuah titik fase dimana para tokoh tersebut akhirnya menyadari pentingnya memulai perjuangan untuk membangkitkan rasa Nasionalisme bangsa Indonesia.

Tokoh-tokoh tersebut masuk menjadi siswa STOVIA atau Sekolah Pendidikan Dokter Bumiputera (sekarang menjadi Gedung Museum Kebangkitan Nasional) dalam usia yang sangat muda, antara 12-16 Tahun. Meski sikap dan pemikiran mereka telah terbentuk di usia belia, tidak membuat mereka berbeda dari anak-anak kebanyakan. Melanggar aturan dan mendapat sanksi dari sekolah, berkelahi, dan hubungan percintaan, juga pernah mereka alami.

Masih dalam suasana kebangkitan nasional ini, Muskitnas ingin menyajikan kilas balik kehidupan masa remaja para tokoh alumni STOVIA ini yang mungkin tidak akan kita temukan di dalam buku sejarah di sekolah. Bagaimana awal mula jiwa dan pemikiran mereka terbuka untuk berjuang demi rakyat dan bangsanya.

***

1. Cipto Mangunkusumo                                  

Si Anak Rakyat yang Pembangkang

Pada masa awal abad ke-20, siswa STOVIA masih menggunakan pakaian tradisional. Hal ini disebabkan kebijakan pemerintah kolonial yang diskriminatif. Aturan tersebut juga sebagai alasan untuk memaksa siswa STOVIA tetap berada di dalam lingkungan dan puas dengan gaji kecil yang diterimanya. Aturan cara berpakaian itu menimbulkan ketidakpuasan pada diri Cipto Mangunkusumo.

Cipto yang pada saat terdaftar sebagai siswa STOVIA masih berusia 12 tahun, sudah dibuat gelisah pikirannya dengan aturan berpakaian yang diskriminatif tersebut. Sebagai simbol perlawanan, Cipto memilih menggunakan baju kromo. Baju ini memiliki corak lurik sederhana berwarna kelam dengan ikat kepala batik yang dipakai secara sederhana. Itu adalah pakaian petani, pakaian rakyat jelata. Ia sendiri mengaku dirinya anak rakyat.

Dari Pembangkang mejadi Radikal

Sifat pembangkang seorang Cipto menjadi semakin “radikal” tampak pada saat Kongres Budi Utomo (BU) pertama pada tanggal 3-5 Oktober 1908. Cipto secara frontal menentang pernyataan Wahidin Sudirohusodo dan Radjiman Wediodipuro yang menurutnya hanya mementingkan pendidikan kalangan priyayi. Perlawanan Cipto tersebut menciptakan suasana panas dalam kongres, sehingga kerap dicap sebagai kongres paling demokratis dan paling berani. Pernyataan-pernyataan Cipto yang vulgar melambungkan sosoknya sebagai pemuda “radikal” dengan pemikiran nasionalis yang terkemuka. Hal itu membuatnya diangkat sebagai Komisaris BU. Keberadaannya menjadi kekuatan imbangan bagi kekuatan lain di dalam badan pengurus.

Rawe-rawe Rantas, Malang-Malang Putung (Segala Penghalang Putus, Semua Rintangan Patah)

Seperti semboyan yang diciptakannya, tidak ada halangan yang dapat membuatnya terancam. Watak pembangkang Cipto lewat tulisan-tulisannya yang berani dan frontal mengkritik pemerintah menjadi momok menakutkan bagi pemerintah kolonial. Beberapa kali Cipto mendapat ancaman dan mengalami pengasingan. Namun dimana pun dia ditempatkan, justru menjadi kesempatan untuk membagi pemikiran-pemikirannya dan menjalin relasi politik. Di bawah tekanan pemerintah tersebut dia mengenal E.F.E Douwes Dekker, dan bersama dengan Suwardi Suryaningkat mereka bertiga mendirikan Indische Partij, Partai pertama yang bersifat politik dalam arti sesungguhnya.

 

Kontributor:

Yusti Muslimawati, S.S.

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *