Kebangkitan Nasional merupakan sebuah momentum perubahan dari suatu titik ke suatu titik cita-cita perjuangan. Ciri utama dari “kebangkitan” ini adalah mengambil pemikiran Barat dan mempertimbangkan perubahan sosial ekonomi yang dibawa oleh kolonialisme untuk menyerukan diakhirinya kolonialisme tanpa kembali kepada tatanan prakolonial (Cribb & Kahin, 2012: 322). Kebangkitan nasional merupakan bagian dari zaman Pergerakan Nasional di Indonesia, masa dimana bentuk perjuangan politik dengan organisasi modern pada abad ke-20.

Terdapat lima karakteristik kepemimpinan periode Pergerakan Nasional ini. Pertama, kepemimpinan pemuda masa Pergerakan Nasional selalu diliputi rasa ingin merdeka, lepas dari segala bentuk penjajahan dan kolonialisme. Kedua, kepemimpinan kaum muda pada mas Pergerakan Nasional selalu bereksperimen dengan berbagai ideologi yang masuk ke Indonesia pada masa tersebut memengaruhi pola pikir tokoh-tokoh pergerakan. Ketiga, kepemimpinan lebih menampilkan watak bersifat radikalisme daripada kooperatif. Keempat, kepemimpinan menampilkan wajah kooperatif dari berbagai perbedaan ideologi, jika memiliki tujuan yang sama yaitu kemerdekaan Indonesia. Kelima, kepemimpinan selalu memiliki blue print Indonesia masa depan. Terlepas apakah cetak biru tentang Indonesia yang dicita-citakan berlandaskan kepada keyakinan ideologi yang dianutnya (Hasibuan, 2008: 25).

Menurut Sudiyo (2002: 74) peran organisasi Boedi Oetomo tidak hanya dalam pendidikan dan kebudayaan melainkan melalui persatuan dan konsep cinta tanah air. Persatuan yang diungkapkan oleh organisasi Boedi Oetomo ini terlihat dari beberapa cabang yang berhasil didirikan diberbagai daerah.Walaupun masih dalam cakupan wilayah Jawa, dan Madura namun mampu mewadahi aspirasi persatuan untuk mewujudkan kemerdekaan dengan melawan Belanda secara diplomasi. Hal ini dikarenakan setelah adanya organisasi Boedi Oetomo masyarakat Indonesia mulai memiliki pemikiran bahwa melawan Belanda itu seharusnya dilakukan dengan cara yang berpendidikan yaitu diplomasi tidak dengan konfrontasi. Selain itu ada faktor lain yang mempengaruhi pola pikir masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa yaitu adanya Hukum Desentralisasi 1903 yang memberi peluang bagi Bumiputera memiliki wakil di Dewan Lokal. Seperti yang dijelaskan Hudiyanto (2016: 3) the political decentralization has affected to intellectual life, particularly among indigenous people in Java. The political consciousness grows faster than elsewhere in Java. Kesadaran politik yang bertumbuh sangat pesat dari kalangan Bumiputera inilah yang mengubah kehidupan sosial serta pola pikir perlawanan terhadap Belanda.

Boedi Oetomo bukan hanya dikenal sebagai salah satu organisasi nasional yang pertama di Indonesia, tetapi juga sebagai salah satu organisasi yang terpanjang usianya sampai dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Memang, Boedi Oetomo mempunyai arti penting, meskipun kalau dihitung jumlah anggotanya hanya 10 ribu, sedangkan Sarekat Islam mencapai 360 ribu (Adam, 2007: 24). Selanjutnya, Bung Hatta mengingatkan ditinjau dari masa itu, Boedi Oetomo sudah mengandung “kecambah semangat nasional”. Bung Hatta lantas menegaskan, Boedi Oetomo dapat dipandang sebagai pendahuluan kepada pergerakan kebangsaan yang muncul dalam tahun 1912-1913 dengan lahirnya Indische Partij dan Sarekat Islam (Swantoro, 2002: 327). Boedi Oetomo lah yang menjadi penyebab berlangsungnya perubahan-perubahan politik sehingga terjadinya integrasi nasional, maka wajarlah kalau kelahiran Boedi Oetomo tanggal 20 Mei disebut sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Menurut Suhartono (1994: 32) lahirnya Boedi Oetomo menampilkan fase pertama dari nasionalisme Indonesia. Fase ini menunjuk pada etnonasionalisme dan proses penyadaran diri terhadap identitas bangsa Jawa (Indonesia).

Menurut sejarawan Hilmar Farid, penentuan Hari Kebangkitan Nasional terkait dengan politik historiografi atau politik penulisan sejarah dari pemerintah, bukan sejarah itu sendiri. Pemerintah memerlukan sebuah organisasi yang mewakili kepentingan nasional karena saat itu terjadi krisis politik internal yang sangat serius, ditambah lagi agresi militer Belanda. Selain itu, ada kebutuhan untuk memberi legitimasi historis pada perjuangan melawan kolonialisme dengan menelusuri asal-usul atau akar perjuangan tersebut. Boedi Oetomo dipilih karena ia organisasi yang paling moderat, nasionalis, jalan tengah, dan yang paling penting tidak berhasil secara politik, karena kalau berhasil secara politik, orang akan melacak asal usul dirinya kepada organisasi ini.

Ki Hadjar Dewantara dalam Dari Kebangunan Nasional sampai Proklamasi Kemerdekaan menjelaskan bahwa inisiatif itu datang dari Sukarno. “Hari itu (20 Mei 1908) menurut beliau adalah hari yang patut dianggap hari mulia oleh bangsa Indonesia, karena pada hari itu perhimpunan kebangsaan yang pertama, yaitu Boedi Oetomo, didirikan dengan maksud menyatukan rakyat, yang dulu masih terpecah-belah, agara dapat mewujudkan suatu bangsa yang besar dan kuat,” tulis Ki Hadjar.

Sukarno kemudian menugaskan Mr. Asaat, ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) untuk mengadakan pertemuan dengan berbagai perwakilan golongan dan partai. Hasilnya tersusun panitia pusat dipimpin oleh Ki Hadjar Dewantara dengan anggota: Tjugito (tokoh PKI mewakili FDR), A.M. Sangadji (Masyumi), Sabilal Rasjad (Partai Nasional Indonesia), Ny. A. Hilal (Kongres Wanita Indonesia), Tatang Mahmud (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia) dan H. Benyamin (Gerakan Pemuda Islam Indonesia).

Melihat komposisi kepanitiaan tersebut, menurut Rusdhy, penyelenggara acara Hari Kebangkitan Nasional lebih dimotori masyarakat ketimbang pihak pemerintah. Ini terlihat di mana penyelenggaraan lebih banyak dipimpin oleh pihak KNIP yang ketuanya Mr. Asaat, dan sebagai ketua panitia penyelenggara bukan pejabat pemerintah tapi tokoh masyarakat yaitu Ki Hadjar Dewantara, pimpinan Taman Siswa. Para anggotanya juga bukan menteri atau eselon di bawahnya, tapi tokoh masyarakat dari berbagai kekuatan sosial politik.

Perayaan Hari Kebangkitan Nasional berhasil diselenggarakan dan menghasilkan “Dokumen Kesatuan Nasional,” yang ditandatangani partai-partai politik, serikat buruh dan tani, organisasi pemuda, dan golongan masyarakat baik yang berdasarkan keagamaan, kebudayaan, kerguruan, kewanitaan, perekonomian, kepanduan, persuratkabaran, kesenian dan sebagainya. Dokumen tersebut “menetapkan hari 20 Mei 1908 ini sebagai saat permulaan menggalang kesatuan sikap program dan tindakan.

Sumber:

Adam, A. 2007. Seabad Kontroversi Sejarah. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Cribb, N & Kahin, A. 2012. Kamus Sejarah Indonesia, (Terjemahan Gatot Triwira). Depok: Komunitas Bambu.

Hasibuan, MUS. 2008. Revolusi Politik Kaum Muda. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Historia. 2015. Asal Usul Peringatan Hari Kebangkitan Nasional. (https://historia.id/politik/articles/asal-usul-peringatan-hari-kebangkitan-nasional-vqrkZ) diakses pada 17 Mei 2019.

Hudiyanto, R. 2016. Nationalism from The Oosthoek The Contribution of Gemeenteraad Malang on The Empowering of Indonesia Local Politician (1920-1941). Patrawidya, (Online), 17 (3): 1-11 , (http://www.patrawidya.kemdikbud.go.id/), diakses pada 16 Maret 2018.

Sudiyo. 2002. Pergerakan Nasional. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Suhartono. 1994. Sejarah Pergerakan Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Swantoro, P. 2002. Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Jadi Satu. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).

 

Kontributor Artikel:

Zulfa Nurdina Fitri

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *