Kita tentu sepakat tanggal 17 Agustus menjadi yang paling bersejarah bagi Bangsa Indonesia. Pada hari itulah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan setelah melalui perjuangan panjang dan pertumpahan darah. Akan tetapi, seberapa banyak dari kita yang tau bahwa hari itu juga bertepatan dengan bulan Ramadhan tepatnya pada hari Jumat tanggal 9 Ramadhan tahun 1334 hijriah. Serangkaian peristiwa mengawali momen penting tersebut, dimulai sejak sehari sebelum malam pertama di bulan ramadhan:

1 Ramadhan / 9 Agustus, Jepang dilumpuhkan oleh Sekutu dengan menjatuhkan bom di Kota Hiroshima dan nagasaki. Sehari sebelumnya, di Indonesia dilakukan Pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI),

2 Ramadhan / 10 Agustus, Soekarno, Moh. Hatta, dan Radjiman Widyodiningrat mendiskusikan kemerdekaan Indonesia dengan Marsekal Terauchi di Vietnam,

6 ramadhan / 14 Agustus, mendengar berita Jepang menyerah pada sekutu, golongan muda mendesak Soekarno, Moh. Hatta, dan Radjiman Widyodiningrat untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia namun ditolak oleh Soekarno. Golongan muda tetap bersikeras untuk memerdekakan Indonesia atas kekuatan sendiri, bukan dengan bantuan Jepang,

7 ramadhan / 15 Agustus, Wikana memimpin golongan muda untuk sekali lagi mendesak Soekarno untuk memproklamasikan kemerdekaan hari itu juga, namun desakan itu tetap dijawab dengan penolakan,

8 Ramadhan / 16 Agustus, Penolakan Soekarno mendorong golongan muda untuk melakukan penculikan terhadap Soekarno dan Moh. Hatta ke Rengasdengklok pada waktu dini hari. Dalam masa penculikan itulah, Soekarno meyakinkan golongan muda bahwa proklamasi kemerdekaan akan dilaksanakan pada 17 Agustus. Penculikan berakhir pada saat Mr. Achmad Soebarjo menjemput Soekarno dan Moh. Hatta setelah melalui negoisasi yang alot dengan tokoh pemuda.

9 Ramadhan / 17 Agustus,di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda, pukul 03.00 pada waktu sahur, teks proklamasi didiktekan oleh Bung Hatta dan ditulis oleh Soekarno. Akhirnya pada pukul 09.58, tanpa protokol, tanpa persiapan, proklamasi kemerdekaan Indonesia dideklarasikan di kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta.

 

Dipiliihnya tanggal 17 Agustus bukan tanpa alasan. Pemilihan tanggal tersebut berdasarkan rekomendasi dari kalangan tokoh agama kala itu yiatu K.H Abdoel Moekti dari Muhammadiyah, dan dengan dukungan K.H Hasyim Asy’ari kepada Bung Karno untuk tidak takut memproklamirkan kemerdekaan. Dalam peristiwa Rengasdengklok, Soekarni -salah satu tokoh golongan muda- menanyakan pemilihan hari tersebut. Soekarno menjelaskan,

“Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17”,

“Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua  berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. Tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Al-Qur’an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia”

Peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia memutar balik sejarah Bangsa Indonesia. Peristiwa terpenting dalam sejarah Indonesia ini bukanlah skenario golongan tua dengan PPKI atau skenario golongan muda saja, melainkan gabungan antar pemimpin senior Soekarno-Hatta dengan para pemuda tanpa intervensi Jepang. Bila rencana awal tetap dijalankan, Indonesia akan memperoleh kemerdekaan yang sudah dipersiapkan bersama-sama dengan Jepang. Indonesia akan diserahkan oleh Jepang kepada sekutu seolah-olah sebagai barang inventaris.

 

Demikianlah Ramadhan menjadi bulan yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Pada bulan ini detik-detik proklamasi kemerdekaan dideklarasikan. Peristiwa ini turut mengingatkan tentang titik balik menuju perubahan dari masa-masa kelam menuju perubahan yang lebih baik.

 

Kontributor Artikel:

Yusti Muslimawati, S.S.

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *