Raden Mas Suwardi Suryaningrat lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889, merupakan seorang keturunan dari keluarga Pura Pakualaman dengan ayahnya bernama Kanjeng Pangeran Haryo Suryaningrat putra dari Sri Paku Alam III, sedangkan ibunya ialah Raden Ajeng Sandiah yang berasal dari keluarga Kesultanan Yogyakarta. Berasal dari keluarga kerajaan Jawa membuat Suwardi Suryaningrat menikmati berbagai fasilitas yang sangat baik daripada masyarakat Indonesia pada waktu itu.

Setelah menyelesaikan pendidikan pesantrennya Raden Mas Suwardi Suryaningrat melanjutan pendidikannya di Europeesche Lagere School (ELS). Setamat dari ELS 7 tahun di Yogyakarta, Suwardi Suryaningrat meneruskan pelajarannya ke Kweekschool (Sekolah Guru Belanda) selama satu tahun, kemudian pindah ke STOVIA (School tot Opleiding voor Inlandsche Artsen atau Sekolah Dokter Jawa) di Jakarta. Jenjang pendidikan ini dijalani Suwardi Suryaningrat dengan baik dan berkat penguasaan bahasa Belanda yang fasih dan akademis yang bagus menyebabkan ia menerima beasiswa untuk masuk ke STOVIA. Pada saat itu memang pemerintah kolonial Belanda memberikan keistimewaan kepada anak bangsawan untuk mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah.

 Lima tahun Raden Mas Suwardi Suryaningrat menuntut ilmu di STOVIA, walau tidak sampai ditamatkannya. Beasiswa dari pemerintah yang dia terima tiap bulan dicabut dengan alasan sering sakit sehingga tidak naik kelas. Pencabutan beasiswa ini menyebabkan Raden Mas Suwardi Suryaningrat keluar dari STOVIA dan ia tidak melanjutkan lagi jenjang pendidikannya dan lebih memilih untuk bekerja.

Ada motif lain dibalik alasan pencabutan beasiswa ini dan hal ini berkaitan dengan mulai tertariknya Suwardi Suryaningrat dengan dunia politik. Pencabutan beasiswa ini dilakukan sesaat setelah Suwardi Suryaningrat mendeklamasikan sebuah sajak dalam sebuah pertemuan, sajak itu menggambarkan keperwiraan Ali Basah Sentot Prawirodirdjo, panglima perang andalan Pangeran Diponegoro. Raden Mas Suwardi Suryaningrat dituduh memancing semangat pemberontakan terhadap pemerintahan kolonial Belanda. Hal inilah penyebab dicabutnya beasiswa di STOVIA.

Pada tanggal 23 Februari 1928 setelah genap berusia 40 tahun kemudian gelar bangsawan “Raden Mas Suwardi Suryaningrat” berubah menjadi Ki Hadjar Dewantara, perubahan nama ini menjadi titik tolak besar dalam kehidupan beliau yang mencurahkan segenap jiwa dan raga untuk pendidikan. Nama awal yang mengandung unsur feodal sebagai jurang pemisah antara rakyat biasa dengan kalangan bangsawan telah dilepaskan. Ki Hadjar Dewantara menganggap sudah bukan saatnya kita memandang seseorang dari status sosial, sudah saatnya semua kalangan bersatu untuk menuju Indonesia merdeka dan dalam hal ini melalui dunia pendidikan.

 

Sumber:

Soekowati, B. 1989. Seratus Tahun Ki Hadjar Dewantara: Bapak Pendidikan. Jakarta: Pustaka Rini.

Purwanto, K. 2010. Ki Hadjar Dewantara Berjuang dan Berkarya (1889-1959). Yogyakarta: Perpustakaan Muuseum Dewantara Kirti Griya Taman Siswa.

Rahardjo, S. 2010. Ki Hadjar Dewantara: Biografi Singkat 1889-1959. Yogyakarta: Garasi.

 

Kontributor Artikel:

Zulfa Nurdina Fitri

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *