Organisasi Boedi Oetomo didirikan oleh para pelajar STOVIA (Sekolah Dokter Pribumi) di pada 20 Mei 1908 yang hingga saat ini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Organisasi ini menjalankan kegiatan di bidang sosial, ekonomi dan kebudayaan, namun menjauhkan dari aktifitas politik yang dikhawatirkan menganggu kepentingan pemerintah kolonial Belanda.

Pada tanggal 7-9 Ramadan 1326 (3-5 Oktober 1908), Boedi Oetomo menggelar kongresnya yang pertama. Peserta kongres yang memenuhi gedung Sekolah Pendidikan Guru Yogyakarta itu berjumlah sekitar 300 orang dengan mayoritas dari kalangan priyayi.

Diawali dengan paparan Dokter Wahidin Sudirohusodo mengenai pentingnya pendidikan barat bagi kalangan priyayi, mendapat dukungan mayoritas peserta kongres. Sementara Radjiman Wediodipuro condong memuja budaya Jawa ketimbang budaya pendidikan Barat. Kedua pendapat ini mendapat tentangan keras dan frontal dari Tjipto Mangunkusumo.

Peserta kongres akhirnya terbagi menjadi dua kubu yang saling berseberangan. Kubu Tjipto Mangunkusumo dengan dukungan Sutomo, menyuarakan pentingnya pendidikan dari bawah. Sementara di sisi seberang, Wahidin Sudirohusodo dan Radjiman Wedyodiningrat teguh dengan pendidikan dari atas-nya. Meskipun perdebatan sengit itu dimenangkan oleh kubu Wahidin Sudirohusodo karena karena mayoritas STOVIA dan peserta kongres tidak tertarik dengan pendidikan dari bawah, perlawanan Tjipto telah menciptakan suasana panas dalam kongres, sehingga kerap dicap sebagai kongres paling demokratis dan paling berani menyuarakan masalah yang pada masa itu dianggap tabu. Pernyataan-pernyataan Tjipto yang vulgar menyinggung kekuasanaan raja dan kaum bangsawan melambungkan sosoknya sebagai pemuda “radikal” dengan pemikiran nasionalis yang terkemuka. Hal itu membut Tjipto diangkat sebagai salah satu Komisaris Boedi Oetomo. Keberadaannya menjadi kekuatan imbangan bagi kekuatan lain di dalam badan pengurus. Suara “radikal”nya diharapkan akan mewarnai keputusan-keputusan yang akan dikeluarkan badan pengurus Boedi Oetomo.

Perbedaan pendapat dalam kongres yang diangkat secara terbuka tanpa rikuh atau sungkan meskipun yang didebat adalah priyayi tinggi, mendorong Gubernur G.A.J. Hazeu menyatakan keterjutannya mengenai peristiwa ini :

Di Jawa, tidak ada sejarahnya menatakan pendapat sebebas itu. Karenanya pembukaan kongres ini mempunyai makna lebih penting dari apa pun lainnya”.

Sementara Van Deventer dalam salah satu pidatonya turut membahas mengenai suasana kongres tersebut :

“Barangsiapa membaca laporan itu (kongres pertama Boedi Oetomo) pasti akan terkejut oleh kefasihan bicara dan kemampuan mereka meyakinkan”

“(Siapa pun pasti juga) terkejut, khususnya dan hebatnya, oleh keterusterangan yang diserukan oleh rakyat kecil pada kaum bangsawan, demi dihapusnya rintangan sosial, yang tidak lain dapat dipandang sebagai peninggalam sisten kasta dari zaman Hindu dahulu.”

 

Kontributor Artikel:

Yusti Muslimawati, S.S

 

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *