Perjuangan Dewi Sartika dalam mencerdaskan bangsa ini, tidak hanya cukup segenap raga dan jiwa, namun juga harta serta tahtanya

 

Akhir Hayat Dewi Sartika

Dewi Sartika banyak mengemukakan gagasannya tentang wanita dalam karangannya yang berjudul ”De Inlandsche Vrouw” (Wanita Bumiputera). Ia mengemukakan bahwa pendidikan penting untuk mendapatkan kekuatan dan kesehatan kanak-kanak baik secara jasmani maupun rohani yang dalam bahasa Sunda disebutnya  ”cageur bageur” (sehat rohani, jasmani dan berkelakuan baik) disamping pendidikan susila, maka pendidikan kejuruan penting bagi wanita. Dalam tulisan itu menghendaki pula adanya persamaan hak antara laki-laki dan wanita. Dewi Sartika pun mendapatkan medali emas kehormatan Orde van Oranje-Nassau oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1939 atas tulisannya tersebut.

Penghargaan yang diperoleh Dewi Sartika

Di saat Belanda menyerah kepada Jepang pada 1942, sekolah yang didirikan oleh Dewi Sartika dibubarkan oleh Jepang dan kemudian diganti dengan Sekolah Gadis. Pada 1946 saat terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api, gedung sekolah saat itu tak terhindar dari kobaran api. Dewi Sartika dan keluarganya pun saat itu meninggalkan Bandung untuk mengungsi ke Ciparay, di sebelah tenggara Bandung, Kemudian karena adanya pertempuran beliau berpindah lagi ke Garut, dan dari sini berpindah ke daerah pegunungan di sebelah selatan Tasikmalaya, yakni di Cineam.

Peristiwa Bandung Lautan Api

Sementara itu keadaan Dewi Sartika semakin lemah. Di Cineam ini ia menderita sakit keras dan dirawat di rumah sakit darurat Republik Indonesia sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya. Dewi Sartika meninggal dunia pada hari Kamis, 11 September 1947, pukul 09.00 pagi. Beliau dimakamkan di Pemakamam Umum Desa Cineam. Kemudian pada 1951 sisa-sisa jasadnya dipindahkan ke makam para Bupati Bandung di Kepatihan, menyatu dengan tanah para leluhurnya.

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *