Keterbatasan bukanlah halangan, namun itu adalah tantangan dalam mencapai suatu tujuan

Dewi Sartika : Semangat Belajar di Tengah Keterbatasan Rumah Kepatihan Cicalengka

Pemberontakan para menak di Bandung yang berakhir dengan kegagalan mengakibatkan Raden Dewi Sartika harus keluar dari sekolah pada usia 9 tahun. Raden Dewi Sartika hanya mengenyam pendidikan formal hingga kelas III ELS. Pemerintah tidak memperbolehkan ”keluarga pemberontak” untuk mengikuti pendidikan pada sekolah formal.

Jembatan Cikapundung sebelum Peristiwa Dinamit Bandung

Sejak saat itu, Dewi Sartika dititipkan di rumah Raden Demang Aria Suriakarta Adiningrat (kakak kandung ibunya) yang saat itu menjabat sebagai Patih Afdeling Cicalengka. Cicalengka, sebuah kota kecil di sebelah timur Kapubaten Bandung, menjadi saksi bisu Raden Dewi Sartika ketika diperlakukan layaknya abdi dalem. Terlibatnya ayah Dewi Sartika dalam rekayasa politik pemberontakan, membuat dia diperlakukan berbeda di rumah Patih Cicalengka. Semua orang menganggapnya sebagai anak seorang pemberontak, dan menempatkannya layaknya seorang abdi dalem. Tak jarang Dewi Sartika harus menahan lapar dan memperbanyak sabar karena sikap kasar beberapa abdi dalem di rumah Patih Cicalengka.

 

Dewi Sartika kemudian putus sekolah formal, dan mengikuti pelajaran para anak perempuan Menak yang diajarkan oleh istri keempat Patih Afdeeling Cicalengka yaitu Nyi Raden Eni atau Agan Eni. Disinilah, ia belajar berbagai kepandaian memasak, menata makanan, cara bertutur kata, cara berdandan, memilih busana, dan berbagai kepandaian perempuan lainnya. Ia juga terus mengasah kemampuan membaca dan menulisnya, dengan membantu teman-temannya menulis surat.

Ilustrasi abdi dalem

Raden Dewi Sartika ditugaskan untuk mengantar sepupu-sepupunya ke rumah Nyonya Belanda untuk belajar membaca, menulis dan bahasa Belanda. Tetapi Dewi Sartika tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan. Sambil menunggu, diam-diam Dewi Sartika mengikuti kegiatan pembelajaran dengan cara menguping di balik pintu, sehingga Dewi Sartika menguasai bahasa Belanda yang menjadi bekal pada saat beliau memberikan pengajaran.

Ilustrasi abdi dalem

Sebagai seorang anak yang bisa membaca dan menulis, Dewi Sartika dipercaya oleh teman-temannya diantara anak-anak Menak untuk membaca dan menuliskan surat. Seringkali Dewi Sartika membacakan hal berbeda dengan apa yang tertulis di dalam surat, misal surat dari teman dekat seorang teman yang menyatakan putus hubungan, oleh Dewi Sartika digambarkan jika sang penulis surat sedang dilanda rindu dan ingin segera meminang. Hal-hal demikian yang sering menjadi hiburan Dewi Sartika, namun membuatnya prihatin dengan keterbelakangan kaum wanita.. Ia berpikir betapa mudah dibohonginya seseorang jika tidak dapat membaca dan menulis. Disini juga Dewi Sartika sering bermain sekolah-sekolahan dengan seolah-olah dia menjadi gurunya dan teman-temannya menjadi muridnya.

 

 

 

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *