“istri mah dulang tinande” (istri harus mengikuti suami)

“awewe mah heureut lengkah” (perempuan terbatas dalam melakukan aktivitas)

Mungkin jika anda adalah seseorang yang hidup 135 tahun yang lalu, anda akan sangat akrab dengan kalimat-kalimat di atas. 135 tahun yang lalu, seorang perempuan tidaklah layak mendapatkan pendidikan. Jangankan mendapatkan pendidikan, perempuan hanya boleh berada di dapur, sumur dan kasur. Pendidikan menjadi sesuatu yang utopis bagi kaum perempuan. Dari situlah kegelisahan salah seorang gadis berdarah Bandung membuncah sehingga meletupkan semangat untuk memajukan pendidikan. Dewi Sartika, nama yang kemudian menggaung di tataran Sunda karena kegigihannya mendobrak kungkungan nasib kaum perempuan pada masa itu.

Pendidikan menjadi angin segar bagi gersangnya nasib perempuan pada masa itu, menjadi lentera di tengah gelap gulita kehidupan yang tak terlihat ujungnya. Dewi Sartika memilih menjadi penawar dahaga pengetahuan atas gurun yang sekian lama menganga. Dewi Sartika merupakan sosok perempuan yang merdeka. Dewi Sartika memeperjuangkan emansipasi pendidikan bagi perempuan agar seorang perempuan memiliki kemerdekaan.  Menyadari kekuatan dan kelemahannya agar dapat melakukan tindakan atas kendali kesadaran dirinya sendiri tanpa tekanan dari pihak manapun, termasuk kaum pria. Namun, menjadi lentera terbaik bukanlah hal yang mudah, beliau harus mengalami berbagai tempaan hidup sejak kecil yang justru semakin menjadikannya perempuan tangguh.

Kegiatan perempuan bumiputera pada awal abad ke-19, hanya boleh mengenal sumur, dapur dan kasur

 

 

Masa Kecil Dewi Sartika: Gadis siga lalaki dalam Balutan Kebaya Sunda

Dewi Sartika lahir di Bandung, pada 4 Desember 1884 dari pasangan keluarga menak (bangsawan Sunda) Raden Rangga Somanagara dengan Raden Ayu Rajapermas. Raden Somanagara adalah putra dari seorang Hoof Djaksa atau Jaksa Kepala di Bandung Raden Demang Suriapraja, sedangkan Nyi Raden Rajapermas adalah putri Bupati Bandung R.A. Adipati Wiranatakusumah IV (1846-1874).

R.A. Adipati Wiranatakusumah IV (1846-1874)

Pada tahun 1891, setelah Uwi berusia tujuh tahun dan telah memiliki tiga orang adik, Raden Somanagara dimutasi ke Bandung menjadi Patih yang membantu pemerintahan Bupati R.A. Kusumadilaga. Uwi dan keluarganya kini menghuni rumah dinas yang besar dan berhalaman luas di Kepatihan Sraat. Rumah dengan model arsitektur yang dirancang Belanda namun masih bernuansa tradisional Sunda.

Kepatihan straat Bandung

Dikarenakan ayahnya menjabat sebagai Patih Bandung, maka Dewi Sartika disekolahkan di Eerste Klasse School bercampur dengan anak-anak Belanda, indo Belanda dan anak-anak kalangan ningrat lainnya. Selain mendapatkan pendidikan formal di ELS, Dewi Sartika juga mendapat pendidikan tambahan di rumahnya tentang etika atau budi pekerti sebagai wanita Sunda. Misalnya dalam bertutur kata, harus bias memasak, menjahit, dan sebagainya sebagai ciri atau identitas keningratannya itu.

Suasana belajar di Eerste Klasse School

Keseharian gadis kecil Uwi selalu menggenakan kebaya dengan rambut disanggul mungil, namun tidak menghalangi kelincahan dan kesigapan sikapnya. Uwi dikenal sebagai gadis yang tomboy karena perilakunya yang didominasi sifat kelelakian, perkataannya yang tegas dan terkadang bernada keras, serta sikapnya yang berani. Karena perilakunya yang tomboy itu, suatu ketika Uwi terjatuh saat bermain, dan tangan kanannya mengalami cedera patah tulang. Sejak saat itulah Uwi menjadi anak perempuan Menak yang berpembawaan kidal, yaitu tangan kirinya lebih akfif dari tangan kanan.

 

Ilustrasi permainan tradisional yang biasa dimainkan anak-anak bumiputera

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *