Museum Kebangkitan Nasional menyimpan berbagai macam koleksi, baik itu seputar perjalanan organisasi Boedi Oetomo dan sejarah lahirnya pendidikan nasional. Salah satu koleksi yang menarik perhatian pengunjung ialah koleksi peninggalan pelajar School Tot Opleiding Van Indische Artsen (Sekolah Pendidikan Dokter Hindia) atau STOVIA, yaitu biola milik Raden Maryono (Raden  Mardjono). Beliau merupakan salah satu lulusan STOVIA dan juga seorang Asisten Guru yang bertugas dari 1920 sampai dengan 1921 yang sangat gemar memainkan biola ketika waktu luang. Biasanya, R. Maryono memainkan biola tesebut di halaman gedung STOVIA di bawah pohon Jawi-Jawi, memang Biola merupakan alat musik yang sangat populer pada masyarakat Hindia Belanda dari pengaruh kesenian dari Eropa. Kini, koleksi biola tersebut berada di Ruang Asrama Museum Kebangkitan Nasional. 

                              (Ilustrasi pelajar STOVIA memainkan biola)

Ada banyak cara yang digunakan para siswa untuk mengisi waktu istirahat di halaman gedung STOVIA. Para pelajar yang tinggal di asrama dan jarang sekali keluar dari lingkungan STOVIA apalagi menyempatkan waktu untuk pulang bertemu dengan keluarganya di kampung halaman, mereka para pelajar STOVIA mengisi waktu luang serta mengusir kejenuhan dengan berbagai kegiatan seperti hal nya R. Maryono memainkan biolanya di tengah taman. Serta ada berbagai macam kegiatan antara lain membaca buku di ruang rekreasi (kini menjadi aula Museum Kebangkitan Nasional), berlatih kesenian Jawa (wayang orang dan gamelan) serta berdiskusi di tengah taman.

(Kegiatan diskusi para pelajar STOVIA  di halaman )

STOVIA adalah sekolah untuk pendidikan dokter pribumi di Batavia pada zaman kolonial Hindia-Belanda. Sekolah ini didirikan pada 1851. Sebenarnya langkah untuk menuju ke arah pendidikan kedokteran sudah dimulai sejak permulaan abad XIX. Pada 1811, beberapa orang bumiputra dilatih untuk menjadi juru cacar. Mereka dididik oleh para dokter dari Eropa. Pendidikan itu dilakukan secara intensif ketika penyakit cacar menjadi ancaman dan epidemi bagi masyarakat bumiputra waktu itu. Maka perlu adanya pendidikan kedokteran secara matang dengan rentang waktu yang lama, sehingga pelajar dapat mampu menguasai berbagai macam ilmu kedokteran dan kesehatan.

Adapun para pelajar berasal dari berbagai macam daerah di tanah Jawa dan di luar Pulau Jawa. Namun, sebagian besar pelajar berasal dari daerah-daerah di Pulau Jawa. Selain itu, hanya kalangan tertentu saja yang dapat mengikuti pendidikan di sekolah ini. Dan menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi beberapa golongan masyarakat bumi putera hindia belanda masuk kesekolah ini.

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *