“…adalah tidak bertanggung jawab membiarkan beribu-ribu orang jatuh jadi korban pes dengan harapan wabah itu akhirnya menjadi bosan sendiri minta korban orang Jawa. Tidak. Kita tidak boleh lengah!” (Tjipto, 1924)

Maut Hitam, menyebar mengikuti hembusan angin. Menikam tanpa pandang bulu. Setiap orang akan bergidig mendengarnya, bahkan di Eropa kemunculan si Maut Hitam mampu mengubah struktur sosial masyarakat. Pada abad ke-14, sepertiga penduduk Eropa tewas dilalap si Maut Hitam. Jika digabung dengan peristiwa serentak di India, Timur Tengah, dan Tiongkok, jumlahnya mencapai 75 juta nyawa. Maut Hitam merupakan pandemi hebat yang disebabkan oleh bakteri Y. Pestis yang dibawa oleh hewan pengerat (tikus). Penyakit ini ditandai dengan pembengkakan kelenjar getah bening di leher korban, ketiak, atau pangkal paha. Bentuknya akan sebesar telur atau menyerupai apel. Si Maut Hitam disebut juga wabah pes.

Sementara di Hindia Belanda, pada 1910 wabah pes mulai melanda Pulau Jawa, terutama di Malang. Pada akhir 1910, kondisi pangan di Jawa Timur memang sedang dilanda kegagalan panen. Kondisi ini mengakibatkan pemerintah Hindia Belanda mengimpor beras dari Tiongkok, Singapura, Bengal, Rangoon (Burma), Thailand, dan Saigon. Pada 1910-1911, impor beras dari Rangoon-lah yang paling dominan di Hindia Belanda. Impor beras menggunakan jalur laut melalui Tanjung Perak, Surabaya. Kemudian disalurkan ke daerah daerah yang kekurangan pangan melalui jalur kereta api.

Ternyata, pada 10 November 1910, jalur kereta api Malang dan Wlingi terputus. Kereta yang seharusnya berangkat ke Wlingi, harus tertahan di Malang. Beras yang terlalu lama ditahan tersebut, mulai diindikasi tikus yang membawa penyakit pes. Daerah Turen, tepatnya di Dampit merupakan daerah pertama yang terindikasi penyakit pes yang kemudian menyebar ke daerah-daerah lainnya.

Meski sedang dalam bahaya, dokter-dokter Eropa menolak turun ke Malang untuk mengobati para bumiputera. Jangankan mengobati mereka, berkomunikasi saja mereka akan menjaga jarak dengan para bumiputera dalam interaksi sehari-hari. Sebab pada masa itu permasalahan rasisme masih menjadi hal yang diutamakan. Sementara itu, Pemerintah Hindia Belanda terus kehilangan para pekerja kasar di perkebunan, pertambangan, dan jalanan. Kematian demi kematian pekerja bumiputera akibat wabah ini terus menggerogoti keuntungan Pemerintah Hindia Belanda.

Kemudian, seorang dokter lulusan STOVIA yang lahir di Jepara tepat pada hari ini 133 tahun yang lalu, 4 Maret 1886. Adalah Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Onze Tjip merupakan panggilan akrabnya, dan “Tjipto si dokter rakyat” merupakan julukannya. Tanpa memakai masker atau penutup hidung dan mulut, Dr. Tjipto tanpa gentar memasuki pelosok-pelosok desa di Malang guna membasmi pes. Ia sudah menyerahkan dirinya kepada nasib.

Berkat usahanya membasmi pes di Malang, Kerajaan Belanda memberikannya “Bintang Emas” penghargaan Ridder in de Orde van Oranje Nassau pada 15 Juli 1912. Setahun  kemudian, wabah yang sama melanda Solo, sehingga ia menginginkan terjun untuk turut membasmi wabah, namun ditolak oleh Belanda. Kemudian bintang emas dikembalikan ke Pemerintah Hindia Belanda. Sebagai ungkapan kekecewaan, bintang emas di taruh di dekat pantatnya dengan cara diduduki. Sehingga jika serdadu yang harus hormat dengan anugerah Ratu Belanda Wihelmina, maka serdadu harus hormat pula pada pantat Tjipto.

Tjipto juga dikenal sebagai seorang yang pernah lelah berjuang untuk bangsa ini. Ia mendirikan Indische Partij (IP) bersama dua kawannya. Ia juga aktif menulis dan menerbitkan surat kabar. Tulisan Tjipto dikenal kritis dan kerap membuat Pemerintah Hindia Belanda meradang. Penjara dan pengasingan merupakan bagian tak terpisahkan dari keping perjuangan seorang Pahlawan Maut Hitam Tanah Hindia.

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *