Siapa sangka, tekad kuat seorang pejuang perempuan mencerdaskan kaum perempuan Sunda dari kalangan rakyat bawah, sungguh berdampak besar pada kemerdekaan berpikir perempuan Indonesia pada awal abad ke-20. Demikianlah Raden Dewi Sartika, pejuang pendidikan kaum perempuan Sunda. Tepatnya di Bandung, 4 Desember 1884 Raden Dewi Sartika atau akrab dengan panggilan Uwi dilahirkan. Uwi merupakan anak kedua dari pasangan Raden Rangga Somanagara dengan Raden Ayu Rajapermas. Raden Somanagara adalah putra dari seorang Hoof Djaksa atau Jaksa Kepala di Bandung Raden Demang Suriapraja, sedangkan Nyi Raden Rajapermas adalah putri Bupati Bandung R.A. Adipati Wiranatakusumah IV (1846-1874).

Meskipun masih keturunan menak atau bangsawan Sunda, tidak membuat Dewi Sartika menjadi besar kepala. Justru menguatkan tekadnya untuk memperjuangkan kemerdekaan kaum perempuan. Dewi Sartika merasa prihatin akan ketidakberdayaan perempuan-perempuan disekitarnya, termasuk ibunya sendiri. Tidak hanya itu, keadaan sosial perempuan pada masa itu masih terikat dengan adat istiadat yang mengikat anak perempuan untuk dipingit ketika menginjak usia 12 tahun. Dalam proses pingitan inilah, perempuan akan berlatih mempersiapkan diri untuk terampil di dapur, sembari menunggu disunting oleh seorang laki-laki. Hanya segelintir perempuan beruntung yang dapat megecap bangku sekolah dan merasakan kemerdekaan berpikir.

Menurut Dewi Sartika, seorang perempuan tidak boleh hanya bergantung dengan suami, keluarga atau orang lain. Perempuan harus mendapatkan pengajaran dan pendidikan sedemikian rupa sehingga ia mampu berdiri di atas kaki sendiri. Cita-citanya ia realisasikan dengan mendirikan sekolah yang diperuntukkan khusus bagi kaum perempuan. Atas bantuan Bupati Bandung, R.A.A. Martanegara yaitu pada tanggal 16 Januari 1904, Dewi Sartika mendirikan sekolah di Paseban Kulon, Kompleks Pendopo Kabupaten Bandung dengan nama “Sakola Istri” dan kemudian diganti dengan nama “Sakola Kautaman Istri”.

Tampak Depan Sakola Kautamaan Istri

Ketika berdiri murid Sakola Istri berjumlah 60 orang. Hanya selang setahun kemudian, jumlah murid yang mendaftar meningkat pesat. Akibatnya ruang kelas yang ada di Paseban Timur tidak mencukupi lagi dan sekolah kemudian dipindahkan ke Ciguriangweg. Setelah menempati lokasi yang baru, Sakola Istri pun semakin berkembang. Jumlah muridnya meningkat pesat. Kebanyakan dari para murid sekolah adalah anak-anak perempuan dari kalangan masyarakat biasa di Bandung. Besarnya minat anak perempuan untuk bersekolah menggambarkan betapa kuat keinginan orang Indonesia untuk maju. Kaum perempuan Indonesia ingin menjadi pintar dan berpengetahuan sebagaimana kaum perempuan bangsa-bangsa lain.

Dewi Sartika Bersama para Murid

Dalam menghadapi jumlah murid yang meningkat terus, bangunan Sakola Istri juga terus ditambah dan diperluas. Selain sarana fisik yang terus ditingkatkan, jumlah guru yang mengajar juga ditambah. Semua penambahan dan peningkatan kualitas sekolah dilakukan dengan swadaya, dalam arti atas inisiatif dan perjuangan Dewi Sartika dengan dibantu oleh teman-temannya, para guru, dan orang tua murid. Pemerintah kolonial sama sekali tidak campur tangan atau memberi bantuan kepada Sakola Istri. Dengan berjalannya waktu Sakola Istri menjadi semakin populer di Bandung. Anak-anak perempuan dari seluruh penjuru kota berkeinginan untuk menjadi murid sekolah tersebut. Bagi mereka yang sudah bersekolah di sana, ada rasa bangga karena bisa mengecap pendidikan di sakola Istri yang dipimpin oleh Dewi Sartika.

Dewi Sartika diantara para Murid

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *