“Kesehatan selalu tampak berharga setelah kita kehilangannya”_Jonathan Swift

Banyak orang yang teramat menyadari pentingnya kesehatan, setelah kehilangannya. Dunia kesehatan kini menjadi prioritas hidup sebagian besar orang. Namun sejarah dunia kesehatan belum begitu awam bagi masyarakat Indonesia. Padahal, secara dialektis, dunia kesehatan yang berkembang sekarang merupakan akumulasi-sintesis dari perjalanan sejarah yang cukup panjang. Keterbatasan sumber pustaka yang mengkaji mengenai sejarah kesehatan di Nusantara, menjadikan sejarah kesehatan di Nusantara tidak sepopuler sejarah politik atau sejarah ekonomi. Sejarah kesehatan di Tanah Hindia, telah dimulai sejak masa VOC pada abad ke -17.

D. Schoute menuliskan sejarah pengobatan Eropa di Hindia Belanda, dalam tulisannya dijelaskan betapa para dokter Eropa berupaya keras, tetapi sia-sia sepanjang masa VOC (1602 – 1799 M) dalam menghadapi berbagai penyakit tropis.[1] Mereka tak berdaya menghadapi tingkat kematian yang sampai akhir abad ke-18 tetap tinggi. Pertumbuhan penduduk, khusunya di Jawa dengan kesejahteraan yang rendah sangat erat hubungannya dengan penyebaran penyakit menular. Sebagaimana dikatakan oleh Bram Peper bahwa jika keadaan kesejahteraan memburuk, maka kemungkinan akan terjangkitnya penyakit menular semakin besar.[2] Hal ini disebabkan pendapatan penduduk pribumi yang kecil, berimbas pada memburuknya kualitas makanan yang mereka makan. Menurut Peter Boomgaard, percepatan penyebaran penyakit disebabkan oleh semakin meningkatnya urbanisasi, pertambahan penduduk, dan hubungan pelayanan antar negara yang membawa produk dari dan ke negara-negara penerima dan juga sebaliknya.[3]

Berbagai penyakit di Asia Tenggara dan Nusantara telah ada dan dikenal semenjak berabad-abad yang lalu. Penyakit-penyakit itu adalah cacar, tifus, kolera, malaria, dan radang paru-paru. Pemberitaan mengenai adanya penyakit-penyakit tersebut terdapat dalam laporan-laporan milik Portugis, Spanyol, Jepang, VOC, dan bahkan dalam tulisan-tulisan asli dari masyarakat yang mengalami, seperti yang tertulis dalam Babad Tanah Jawa,  Undang-Undang Hukum Malaya, dan Hikayat Banjar. Selain itu terdapat dalam kisah-kisah lokal yang menceritakan tentang wabah yang terjadi di masa lampau yang kabur, beberapa abad sebelum orang mulai mencatat.

Penyakit menular di Tanah Hindia zaman Pemerintah Kolonial Belanda (Dok. Museum Kebangkitan Nasional)

Usaha Pemerintah Belanda baik pada masa VOC maupun masa Pemerintahan Kolonial telah dilakukan dalam memperbaiki tingkat kesehatan masyarakat Hindia. Disebutkan, misalnya di Batavia tahun 1622 sudah terdapat rumah sakit, sekitar tahun 1680 dokter Ten Rhyne (yang menaruh perhatian terhadap penyakit kusta) membuka tempat perawatan penderita kusta di Pulau Purmerend (Teluk Jakarta), kemudian dibuka rumah sakit di Banten dan Semarang, bahkan tahun 1769 dibuka rumah sakit jiwa di Jakarta. Menurut Lombard, semua itu lebih merupakan “pengurungan” daripada perawatan yang dari sudut mentalitas merupakan gagasan memisahkan penderita dari masyarakat umum, yang dampak terapisnya hampir tidak ada.[4] Maka dari itu, kualitas kesehatan masyarakat Jawa tidak pula berubah menjadi lebih baik.

Revolusi dalam dunia kesehatan di Hindia Belanda terjadi melalui tiga hal, yaitu diperkenalkan vaksin, kina dan ilmu kedokteran kolonial. Mengenai vaksin, telah disosialisasikan pada tahun 1779 melalui pamflet yang disusun oleh W. Van Hongedrop yang menganjurkan vaksinasi. Selain vaksin, hal penting dalam gerakan revolusi kesehatan di Hindia Belanda adalah pengenalan kina digunakan untuk  mengobati demam malaria. Pada masa itu, malaria menjadi penyakit tropis yang cukup membuat pemerintah Belanda cukup khawatir. Pada abad ke-19 Karesidenan Priangan merupakan pemasok terbesar kebutuhan kina dunia.[5] Kemudian pada 1896 di Bandung didirikan pabrik kina.

Ilmu kedokteran barat di Hindia Belanda, menjadi revousi sejarah kesehatan berikutnya. Revolusi ini ditandai dengan adanya penerapan fotografi kedokteran tahun 1842 oleh dr. J. Munnich, Penggunaan ether anestesi tahun 1848, penemuan vitamin untuk beri-beri oleh Eijkman, dan berdirinya sekolah kedokteran bumiputera yang pertama tahun 1851, di Batavia yang beranama Sekolah Dokter Djawa kemudian berganti menjadi STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Artsen) pada 1902.

Salah satu revolusi kesehatan di Hindia Belanda adalah dikenalnya ilmu kesehatan modern dan berdirinya STOVIA (Dok. Museum Kebangkitan Nasional)

STOVIA menjadi angin segar bagi sejarah kesehatan Hindia Belanda, sebab dokter lulusan STOVIA yang kemudian beberapa diantaranya memiliki spesifikasi penanganan penyakit tersendiri, disebar ke seluruh pelosok Hindia Belanda. Wabah penyakit yang selama berabad-abad menghantui kehidupan di Hindia Belanda, perlahan mulai teratasi. Ilmu kesehatanpun mulai diperhatikan, berbagai penemuan baru mulai dari obat-obatan, alat kesehatan, dan lain sebagainya.



[1] Denys Lombard, 1996, Nusa Jawa: Silang Budaya (Bagian 1: Batas-batas Pembaratan), (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama), h. 140

[2] Bram Peper, 1975,  Pertumbuhan Penduduk Jawa, (Jakarta: Bhatara), h. 36

[3] Peter Boomgaard, dalam “The Development of Colonial Health care in Java”, dalam Baha’Uddin, “Pelaynan Kesehatan Masyarakat Pada Masa Kolonial”, dalam Jurnal Sejarah Volume 2, No. 2, 2000, (Yogyakarta: Jurusan Sejarah, Universitas Gadjah Mada), h. 104

[4] Op. Cit., Lombard, h. 141

[5] Mumuh Muhsin Z, “Bibliografi Sejarah Kesehatan Pada Masa Pemerintahan Hindia Belanda”, Jurnal Paramita Vol 22, No. 2 – Juli 2012 [ISSN:0854-0039], (Bandung: Universitas Padjadjaran), h. 189

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *