Tepat pada hari natal, 106 tahun yang lalu, berdiri sebuah organisasi di Bandung yang bernama Indische Partij. Organisasi ini didirikan oleh tokoh Tiga Serangkai yaitu Tjipto Mangoenkoesoemo, Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara), dan Danurdirja Setiabudhi (Ernest Douwes Dekker). Indische Partij merupakan organisasi pertama yang secara tegas menyatakan berpolitik. Dengan demikian, Indische Partij adalah partai politik pertama di Indonesia. Tujuan dibentuknya IP ini adalah untuk memperbaiki keadaan kaum Indo. Pada masa itu kaum Indo menaruh dendam kepada bangsa Belanda dan segala sesuatu yang bercorak Belanda. Hal ini disebabkan kaum Indonesia seolah-olah menjadi “golongan yang dilupakan” oleh bangsa Belanda.

Indische Partij berhasil membuat 30 cabang dengan 730 anggota di tahun pertama berdirinya. Anggotanya terus bertambah sampai ada 6000 orang. Dalam anggaran dasar Indische Partij, disebutkan kalau mereka perlu membangun patriotisme bangsa Hindia ke tanah air, membuat kerjasama untuk meningkatkan ketertiban negara dan mempersiapkan kehidupan rakyat setelah merdeka.

Bagi pemerintah kolonial Belanda, keberhasilan Indische Partij merupakan suatu ancaman besar. Maka dari itu itu, pemerintah kolonial menyatakan bahwa Indische Partij adalah organisasi yang terlarang dan berbahaya di tahun 1913. Tiga serangkai segera diasingkan ke tempat yang berbeda, sebelum akhirnya mereka bertiga dibuang ke Belanda. 

Pengasingan Tiga Serangkai tidak hanya berdampak di Hindia Belanda saja, tetapi juga di Belanda. Di Hindia Belanda, keadaan mereka membuat para rakyat bumiputera semakin ingin memperjuangkan hak yang seharusnya milik mereka. Di sisi lain, perdebatan politik pun terjadi di golongan Dewan Perwakilan Rakyat Belanda yang mengatakan tentang pergerakan rakyat Indonesia. 

Di tahun 1914, Tjipto dipulangkan karena alasan kesehatan. Douwes Dekker kemudian dipulangkan di tahun 1917 dan Ki Hadjar Dewantara dipulangkan satu tahun setelahnya. Setelah Indische Partij bubar, organisasi itu berganti nama menjadi Insulide dan di tahun 1919 berubah nama lagi menjadi Nationaal Indische Partij atau NIP. Meskipun mengalami banyak masalah dalam masa pergerakannya dan usianya tidak lama, Indische Partij tetap menjadi organisasi yang tidak terlupakan dalam sejarah bangsa Indonesia.

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *