Sejarah mencatat sistem operasi memang sudah dikenal sejak masa lampau. Suku Romawi kuno telah mengenal sistem operasi kuno atau primitive surgery untuk merawat luka. Cara ini dilakukan dengan cara venesection (melakukan sayatan pada pembuluh darah), pembekaman, dan bonesetting (proses operasi yang berhubungan dengan tulang), serta beberapa proses pembersihan nanah pada bisul. Suku-suku di Afrika Timur, Afrika Utara, dan penduduk kepulauan Pasifik bahkan memiliki kemampuan yang lebih maju seperti mengenal amputasi dan operasi tengkorak.[1]

Sementara itu, bukti arkeologi yang paling istimewa dalam dunia kesehatan merupakan trepanation atau trepanasi, yaitu pemotongan bagian tertentu pada tulang dalam tengkorak yang bertujuan untuk mengurangi tekanan di dlaam otak yang disebabkan oleh retaknya tulang pada tengkorak, atau untuk menyembuhkan sakit kepala dan epilepsi. Tengkorak yang telah dilubangi ditemukan di Amerika Tengah dan Amerika Selatan, Afrika, Asia, Eropa dan Timur Tengah pada masa mesolithikum (12.000 tahun yang lalu).

Pada abad ke-5 M, Hippocrates (seorang dokter pada masa itu) menuliskan pelajaran kedokteran yang kemudian digunakan berabad-abad setelahnya. Dalam tulisan Hippocrates dapat dilihat bahwa dokter-dokter pada masa lampau telah mengetahui cara untuk membuka, mengeringkan, dan membersihkan luka/infeksi.[2] Selain itu ada Abu ‘Ali al-Husayn bin ‘Abd Allah bin Sina (980-1037 M) yang menulis “The Canon of Medicine” atau Kanon Obat-obatan. Kanon meliputi penjelasan, penyebab, dan diagnosa beberapa kondisi penyakit.

Perkembangan ilmu kedokteran juga sampai ke Batavia pada abad ke-19. Kedokteran sangat dibutuhkan pada masa itu, karena berjangkit berbagai penyakit yang menjadi momok yang menakutkan, tidak hanya bagi penduduk bumiputera tetapi juga pemerintah kolonial Belanda. Menjadi alasan didirikannya STOVIA (School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen) atau sekolah kedokteran bumiputera yang pertama pada 1902. Berbagai ilmu kedokteran modernpun mulai dikenalkan pada pelajar STOVIA, salah satunya adalah ilmu bedah.

Guru ilmu bedah didatangkan dari Belanda, yang rata-rata merupakan lulusan Universitas Amsterdam. Kekagetan dan kekecewaan banyak muncul dari para dokter pada awal mengajar ilmu bedah, salah satunya adalah dokter TJ. Wieberdink.

“Saya tidak akan pernah melupakan rasa kecewa yang melanda saya ketika melihat barak-barak pasien yang terbuat dari bambu berkapur ditempat saya harus mendidik para dokter bumi putera yaitu di daerah Molenvliet (sekarang Glodok).”[3] Ungkapnya.

Dokumentasi Museum Kebangkitan Nasional

Wajar saja jika para guru sekolah kedokteran ini belum terbiasa, pasalnya mereka telah terbiasa di barak-barak poliklinik Universitas Amsterdam yang modern, seketika mereka harus berhadapan dengan poliklinik yang sangat sederhana di Hindia Belanda. Tidak ada lantai, melainkan hanya bambu belah selebar jari diantara bebatuan, tidak ada dinding berkaca melainkan hanya bingkai bambu beranyam, dan tidak ada dipan besi putih. Tidak ada pula antrian pasien dalam poliklinik tersebut, melainkan hanya para pekerja paksa yang siap diperintah kapanpun oleh sang mandor. Mereka siap membersihkan sisa-sisa makanan pasien yang tak jarang untuk memenuhi keroncongan perut mereka pula.

Ruang bagian dalam ruang operasi (bekas poliklinik Glodok), dokumentasi Museum Kebangkitan Nasional

Materi bedah pasien yang diberikan kepada pelajar STOVIA, teridiri atas beberapa orang pelacur, dan para pekerja paksa yang tengah dipenjara. Padahal ketakutan pasti menjalari tubuh mereka, namun dengan menjadi pasien bedah, mereka akan terbebas dari rantai yang menjerat leher dan kaki mereka untuk sementara dan mendapat makanan layak. Tak jarang setelah mereka akan dilakukan operasi mereka akan memohon pengampunan untuk tidak dioperasi. Ketakutan akan keawaman penduduk bumiputera terhadap kata “operasi” sangat terasa di tahun pertama didirikan poliklinik ini. Pada tahun pertama, 200 pasien operasi telah ditangani yang sebagian besar terdiri dari pelacur, pekerja paksa, atau korban perkelahian yang dikirimkan oleh polisi. Banyak juga mereka dari korban kecelakaan trem uap Molenvliet yang pada saat itu masih cukup buruk sistemnya, sehingga sangat sering terjadi kecelakaan.

Bangsal untuk pasien bedah aseptis di RSUP Salemba 1926 (Dok. Museum Kebangkitan Nasional)

Setelah mereka merasakan manfaat dari operasi dalam penyembuhan luka, dalam tahun-tahun berikutnya pasien poliklinik bukan lagi pekerja paksa kiriman polisi, namun merupakan orang bumiputera yang kaya, Cina, Arab, dan Eropa. Pendidikan kedokteran khususnya pelajaran bedah juga terus ditingkatkan kualitasnya sehingga tahun 1926, Rumah Sakit baru di Salemba mulai digunakan. Dengan jumlah pasien yang semakin meningkat, sistem operasi pelajar STOVIA-pun semakin berkualitas.

 


 

[1] John Kirkup, The Evolution of Surgical Instruments: An Illustrated History from Ancient Times to the Twentieth Century, 2005, United Statesof America: Library of Congres Caraloging-in-Publication Data, h. 9

[2] Sarah K Yeomas, (1995), Medicine in the Ancient Word. 20 Maret 2012, Bibical Archaeology Review. http://www.bib-arch.org/e-features/medicine-in-the-ancient-world.asp

[3] Ir. J.F. van Hoytema, dkk, Perkembangan Pendidikan Kedokteran di Weltevreeden: 1851-1926, terjemahan dari Ontwikkeling van het Geneeskunding Onderwijs te Weltevreeden, 1851-1926, (2014), h. 185

 
Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *