Bagi yang belum mengenal masyarakat Tengger, seringkali beranggapan jika masyarakat yang satu ini merupakan suku bangsa yang “primitif”, ‘terbelakang’, serta hidup secara eklusif. Anggapan tersebut perlu diluruskan, sebab masyarakat Tengger merupakan masyarakat yang maju, hidup dalam nuansa kedamaian, kearifan, kejujuran serta menjunjung suasana nyaman, aman, dan damai. Suasana yang serba harmoni tersebut ternyata juga dikagumi oleh Jenderal Stamford Raffles dan diungkapkan dalam bukunya The History of Java, pada masa lalu juga ketika Kerajaan Majapahit berkuasa, masyarakat Tengger terbebas daripenarikan pajak, karena wilayah ini dianggap istimewa dan disebut dengan titiliman.

Masyarakat Tengger merupakan masyarakat yang sangat menjunjung tinggi tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Berbagai tradisi bahkan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan, seperti Upacara Karo, Upacara Kapat, Upacara Kawulu, Upacara Kasanga, Upacara Kasada, dan Upacara Unan-Unan. Adapula tradisi masyarakat Tengger yang belum banyak diketahui oleh masyarakat, seperti tradisi khitan atau yang dikenal dengan Tetesan Merajakani.

Tetesan Merajakani adalah proses melukai alat kelamin anak laki-laki dengan menggunakan pisau dan kayu yang disebut sadaq. Sadaq digunakan untuk mengganjal kulit alat kelamin anak laki-laki (kulup) yang kemudian akan dilukai dengan menggunakan pisau. Dalam tradisi tetesan inikulit tidak di potong/dikelupas melainkan hanya dilukai yang mengakibatkan darah menetes langsung ke tanah (bumi). Pada saat darah menetes inilah seorang anak telah dianggap dewasa.

Pisau dan sadaq yang digunakan untuk melakukan tradisi tetesan merajakani (dok. Tim Kajian Museum Kebangkitan Nasional)

Tradisi Tetesan Merajakani sangat erat dengan pembacaan mantra pada setiap sesi ritual tetesan. Setiap mantra dibacakan sang dukun untuk memperlancar proses tetesan. Selain mantra, ritual ini juga mewajibkan keluarga yang berhajat untuk melakukan tetesan menyediakan sesajen. Memilih hari baik juga merupakan ritual wajib yang tidak boleh dilewatkan, hal ini berkaitan dengan tanggal lahir dan hari baik anak yang akan menjalani ritual tetesan. Sepeti yang telah diketahui masyarakat Tengger memiliki perhitungan penanggalan sendiri dan menggunakan penanggalan inilah, sang dukun tetesan menentukan hari baik bagi anak untuk menjalani Tetesan Merajakani.

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *