Ditemani hawa terik kota pelabuhan di timur Pulau Jawa, seorang pemuda bertanya pada seorang Kyai Paripurna yang begitu besar pengaruh dan legitimasinya di hadapan para ulama. Dengan cara inilah, seorang pemuda tersebut ingin menegaskan kembali makna mempertahankan Republik Indonesia yang baru berusia beberapa minggu pada waktu itu, khususnya dari perspektif agama. Melalui jawaban mantap Sang Kyai tersebutlah, pemuda yang bernama Soekarno tersebut semakin mantap dan kukuh dalam mempertahankan kemerdekaan sebuah negara yang baru lahir pada saat itu.

Setelah menjawab pertanyaan Soekarno, Kyai besar KH. Hasyim Asy’ari tersebut mengeluarkan fatwa jihad, 17 September 1945.[1] Fatwa ini antara lain berbunyi:

1)      Hukumnya memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan kita sekarang ini adalah fardlu’ain bagi tiap-tiap orang Islam;

2)      Hukumnya orang meninggal dalam peperangan melawan NICA serta kompotannya adalah mati syahid;

3)      Hukumnya orang yang memecah persatuan kita sekarang ini adalah wajib dibunuh.[2]

Berpijak pada fatwa inilah, kemudian para ulama se-Jawa dan Madura mengukuhkan Resolusi Jihad dalam rapat yang digelar pada tanggal 21-22 Oktober 1945 di kantor Pengurus Besar Nahdatul Ulama (NU) di Bubutan, Surabaya. Dalam tempo singkat, fatwa Resolusi Jihad Fi Sabilillah ini disebarkan melalui masjid, mushala, dan gethuk tular (dari mulut ke mulut). Atas pertimbangan politik, Resolusi Jihad tidak di siarkan melalui radio dan surat kabar.

Pengaruh Resolusi Jihad yang disahkan tepat hari ini pada 73 tahun yang lalu, nyatanya sangat luas. Selain Hizbullah dan Sabilillah, anggota kelaskaran lainpun berbondong-bondong ke Surabaya. Melalui corong radionya, pidato Bung Tomo semakin “menggila” dalam menggelorakan semangat rakyatnya, setelah terbitnya Resolusi Jihad. Atas saran KH. Hasyim Asy’ari sewaktu Bung Tomo sowan ke Pesantren Tebuireng, pekik takbir harus senantiasa mengiringi pidato Bung Tomo.

“…Ribuan rakyat yang kelaparan, telanjang, dan  dihina oleh kolonialis, akan menjalankan revolusi ini. Kita kaum ekstermis. Kita yang memberontak dengan penuh semangat revousi, bersama dengan rakyat Indonesia, yang pernah ditindas oleh penjajahan, lebih senang melihat Indonesia banjir darah dan tenggelam ke dasar samudera daripada dijajah sekali lagi. Tuhan akan melindungi kita. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!…”

Kenyataanya, Resolusi Jihad menjadi pegangaan spiritual bagi para pemuda pejuang bukan hanya di Surabaya, melainkan di kawasan Jawa dan Madura.[3] Rakyat Surabaya yang telah diultimatum Inggris, nyatanya malah menunggu pecahnya pertempuran. Dibarengi dengan kesatuan pemuda yang berbondong-bondong ke Surabaya. Ultimatum tersebut sama sekali tidak meruntuhkan mental pejuang dan rakyat Surabaya. Malam tanggal 9 November hingga dini hari 10 November tidak ada satupun penduduk kota Surabaya yang tidur. Semua memasang barikade penutup jalan untuk menghambat gerakan musuh.

Namun, di tengah ketegangan malam itu, ratusan pejuang menyemut di Kampung Baluran Gang V. Mereka antre bergiliran menunggu pemberian air yang telah didoakan oleh ulama yang berasal dari Banten, KH. Abbas Djamil.[4]Para ulama juga menjadi garda depan pertempuran di Surabaya.

Potret semangat jihad pada pertempuran Surabaya 10 November 1945 (sumber gambar: pendidikanzone.blogspot.com)

Prediksi Inggris meleset jauh, dukungan logistik yang melimpah, alutsista yang modern serta ribuan serdadu ternyata kesulitan menaklukan Surabaya. Prediksi Surabaya dapat dikuasai dalam waktu 3 hari, ternyata pontang-panting Inggris baru bisa merangsek masuk setelah 100 hari pertempuran. Perang tersebut sangat mengerikan, jauh dari yang dibayangkan pihak Sekutu. Arek-arek Surabaya menjadi sangat brutal dan ganas dengan pekikan Allahu Akbar. Persatuan pemuda ini tidak dapat dilepaskan akibat adanya Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, yang kini diperingati sebagai Hari Santri Nasional. Demikianlah, sejarah kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari peranan para ulama, santri, dan semangat juang Resolusi Jihad.



[1] Ringkasan fatwa jihad dimuat di Harian Kedaulatan Rakjat, 20 Nopember 1945, lihat Rijal Mummaziq, Resolusi Jihad dan Pengaruhnya dalam Kemerdekaan RI, dalam KH. Hasyim Asy’ari Pengabdian Seorang Kyai untuk Negeri, (Museum Kebangkitan Nasional, 2017)

[2] Zainul Milal Bizawie, Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad: Garda Depan Menegakkan Indonesia (1945-1949), (Jakarta: Pustaka Compass, 2015), 205

[3] Ibid., 210

[4] Agus Sunyoto, Fatwa dan Resolusi Jihad: Sejarah Perang Rakyat Semesta di Surabaya, 10 November 1945, (Jakarta: Lesbumi PBNU dan Pustaka Pesantren Nusantara, 2017), 205

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *