Mungkin hampir seluruh masyarakat Bogor sudah tidak asing lagi dengan Rumah Sakit dr. H. Marzoeki Mahdi. Mereka pasti akan menunjuk ke arah sebuah rumah sakit yang berlokasi di Jalan Dr Semeru No 114 Kota Bogor. Akan tetapi, belum tentu warga Bogor tahu siapa itu dr. H. Marzoeki Mahdi. Dr. Marzoeki Mahdi adalah seorang dokter pejuang. Ia merupakan seorang putra minang yang lahir di Kota Gadang, pada 14 Mei 1890.

Marzoeki Mahdi merupakan dokter lulusan STOVIA. Ia masuk STOVIA pada 9 November 1908 dan lulus pada 23 Mei 1918. Marzoeki Mahdi dikenal sebagai pelopor Gerakan Kesehatan Jiwa di Indonesia. Bahkan, namanya tercatat pernah memimpin Rumah Sakit Jiwa Bogor. Sebanyak dua kali ia bekerja di RSJ Bogor, yakni 1924 dan 1932. Pada 1942, ia menjadi direktur RSJ Bogor dan pada 1945 menjadi inspektur kesehatan RSJ Bogor.

Selain aktif di bidang kesehatan, Marzoeki Mahdi juga tercatat sebagai tokoh pergerakan nasional Indonesia. Pada 1926 ia pernah dipercaya sebagai ketua Boedi Oetomo cabang Semarang. Setelah menjadi ketua Boedi Oetomo cabang Semarang, dr. Marzoeki Mahdi selanjutnya aktif menjadi tokoh pergerakan nasional di Bogor. Hal ini terjadi setelah ia bermukim di Bogor dan bekerja di Rumah Sakit Jiwa Bogor. Terlebih pula karena ia merupakan dokter lulusan STOVIA yang pelajarnya sudah terkenal kritis dan aktif dalam politik masa pergerakan nasional. Marzoeki Mahdi juga akrab dengan salah satu tokoh Betawi yakni M.H. Thamrin. Pada saat M.H. Thamrin meninggal, Marzoeki datang untuk melayat.

Tidak hanya pada masa pergerakan nasional saja, Marzoeki Mahdi juga aktif pada masa perjuangan kemerdekaan. Pada surat kabar Gelora Rakjat terbitan 29 Desember 1945 diceritakan tentang peristiwa pertempuran di Bantenweg yaitu sekitar rel kereta api Stasiun Bogor yang melukai Kapten Tubagus Muslihat, seorang pejuang lokal. Tubagus Muslihat yang saat itu terluka parah diselamatkan oleh dr. Marzoeki Mahdi, meski pada akhirnya nyawanya tidak tertolong karena kehabisan banyak darah. Tubagus Muslihat pun meninggal disaksikan langsung oleh dr. Marzoeki Mahdi. Nama Marzoeki Mahdi juga tercatat sebagai anggota Tyuo Sang In (Badan Penasihat Pemerintah Pusat Bala Tentara Jepang).

Untuk mengenang jasa-jasa dr. Marzoeki Mahdi, pada peringatan 120 tahun berdirinya Rumah Sakit Jiwa Bogor, Menteri Kesehatan RI pada 2002 mengeluarkan keputusan untuk merubah nama dari Rumah Sakit Jiwa Bogor menjadi Rumah Sakit dr. H Marzoeki Mahdi. Marzoeki Mahdi sendiri wafat pada 27 Mei 1967. 

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *