STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen) atau Sekolah Dokter Bumi Putera, menjadi tempat berkumpulnya pemuda pribumi yang cerdas dan kreatif, karena untuk menjadi pelajar STOVIA melalui serangkaian ujian yang sangat selektif. Mereka yang diterima menjadi pelajar STOVIA harus tinggal dalam asrama berdasarkan tingkat kelasnya yang memiliki peraturan sangat ketat, sehingga penghuninya dituntut untuk hidup disiplin dan bertanggung jawab. Dalam satu ruangan asrama diisi oleh para siswa dari berbagai suku bangsa

Kehidupan dalam asrama STOVIA yang penuh dengan suka dan duka menimbulkan rasa persaudaraan diantara sesama penghuninya, karena interaksi yang terjalin secara rutin dalam suatu tempat dan dalam waktu yang lama akan memunculkan rasa kebersamaan. Perbedaan suku, bahasa, agama dan budaya yang ada dalam diri pelajar STOVIA melebur menjadi kesadaran akan persamaan nasib yang kemudian terus berkembang menjadi kesadaran bersama sebagai satu bangsa.

Kesadaran sebagai satu bangsa inilah yang membuat sebagian pelajar STOVIA memilih untuk bersikap radikal terhadap pemerintah kolonial meskipun resiko yang harus ditanggungnya cukup besar. Pelajar STOVIA mulai merumuskan bentuk perjuangan baru untuk membebaskan masyarakat dari penderitaan, karena perjuangan yang dilakukan selama ini masih mengalami kegagalan.

Perjuangan dengan menggunakan kekuatan pemikiran dinilai sebagai cara baru yang tepat untuk mengusir penjajahan, karena perjuangan yang dilakukan bisa berkesinambungan dan tidak bergantung pada satu orang pemimpin. Tanggal 20 Mei 1908 pelajar STOVIA dibawah pimpinan Soetomo mendirikan organisasi Budi Utomo sebagai wadah perjuangan untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera.

Kelahiran Boedi Oetomo dianggap sebagai sebuah keajaiban, masyarakat pribumi yang selama ini dianggap terbelakang mampu merumuskan bentuk perjuangan baru yang mampu menggentarkan sendi-sendi sistem pemerintahan kolonial yang sudah sangat mapan. Soetomo, Soeleman, Soewarno, Goenawan Mangoenkoesoemo, Angka Prodjosoedirdjo, M. Soewarno, Muhamad Saleh, Soeradji dan Goembreg, merupakan sembilan orang pelajar STOVIA dengan usia muda yang mampu membuat gempar pemerintah kolonial.

1.    Soetomo

Soetomo lahir pada tanggal 30 Juli 1888 di Desa Ngepeh, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Selesai sekolah di Europesche Lagere School (Sekolah Dasar Eropa) di Bangil, Soetomo melanjutkan pendidikannya ke STOVIA pada tanggal 10 Januari 1903. Pelajar STOVIA mengenal Soetomo sebagai pribadi cerdas, baik dan disiplin, sehingga gagasannya untuk mendirikan perkumpulan Boedi Oetomo mendapat dukungan dari mayoritas pelajar STOVIA. Tahun 1911 Soetomo bersama dengan 8 pelajar STOVIA lainnya dinyatakan lulus STOVIA tanpa ujian, mereka langsung ditugaskan untuk memberantas wabah penyakit pes di Malang. Tahun 1917 Dokter Soetomo menikah suster dari Belanda yang bernama Everdina Bruring. Meskipun aktif dalam kegiatan politik, Dokter Soetomo tetap membuka praktek pengobatan dengan tidak memasang tarif. Pasien yang mampu dengan kesadaran sendiri akan membayar biaya pengobatan sesuai dengan kemampuannya, sedangkan bagi pasien yang tidak mampu tidak dikenakan biaya bahkan mereka mendapatkan bantuan uang atau kebutuhan hidup.

 2.    Goenawan Mangoenkoesoemo

Goenawan Mangoenkoesoemo merupakan anak ketiga dari keluarga besar Mangoenkoesoemo yang lahir pada tahun 1888 di Jepara. Masuk STOVIA pada tanggal 10 Januari 1903,  beliau dinyatakan lulus tanpa ujian pada tanggal 11 April 1911 setelah bersama delapan pelajar STOVIA lainnya berhasil memberantas wabah penyakit pes di Malang. Pada tahun yang sama Goenawan menikah dengan R. Ay. Sriyati, adik kandung Dokter Soetomo sahabat karib dan teman seperjuangannya. Goenawan Mangoenkoesoemo dikenal sangat tegas dan piawai dalam menulis artikel tajam yang ditakuti oleh lawan tapi disukai oleh kawan seperjuangannya.

 3.    Moehamad Saleh

Moehamad Saleh lahir pada tanggal 15 Maret 1888 di Desa Simo, Kabupaten Surakarta, Jawa Tengah. Moehamad saleh masuk STOVIA pada tanggal 10 Januari 1903 dan berhasil lulus pada tanggal 11 April 1911. Pelajar STOVIA mengenalnya sebagai pribadi yang pendiam, teliti, pekerja keras dan setia kawan, karena itu secara aklamasi Moehamad Saleh ditetapkan menjadi komisaris organisasi Boedi Oetomo. Keterlibatannya dalam pendirian organisasi Boedi Oetomo tidak banyak yang tahu, karena beliau tidak pernah bercerita pada orang lain termasuk pada anaknya sendiri. Moehamad Saleh merupakan salah satu pelajar STOVIA yang berhasil memberantas wabah penyakit pes di Malang. Pengabdiannya dalam dunia kesehatan dilanjutkan di Probolinggo-Jawa Timur sampai akhir hidupnya. Masyarakat mengenal Dokter Moehamad Saleh sebagai dokter yang selalu melayani masyarakat tanpa pamrih, bantuan yang diberikan kepada masyarakat mencakup bantuan kesehatan, pendidikan dan bantuan ekonomi.

 4.    Mohamad Soelaiman

Mohamad Soelaiman lahir di Garabag, Purworejo, Jawa Tengah pada tahun 1886. Sejak kecil bersama kedua adiknya dibesarkan oleh Ibu, karena Bapaknya terlebih dahulu meninggal dunia. Tahun 1893 mulai mengikuti pendidikan Europesche Lagere Shool (Sekolah Dasar Bangsa Eropa) dan dilanjutkan dengan masuk menjadi pelajar STOVIA pada tanggal 10 Januari 1903. Soelaiman dikenal sangat cerdas sehingga mendapat julukan enlopende woordenbook (kamus berjalan), kalau teman-temannya belajar bersama, ia tiduran saja, tetapi saat ujian nilainya selalu paling tinggi. Soelaiman juga terlibat aktif dalam dalam diskusi kebangsaan dan pergerakan di STOVIA, sehingga pada saat pendirian organisasi Boedi Oetomo ditunjuk untuk menjadi wakil ketua.

 5.    Gondo Soewarno

Gondo Soewarno lahir di Boyolali, Jawa Tengah pada tahun 1887. Setelah menamatkan pendidikan Europesche Lagere Shool (Sekolah Dasar Bangsa Eropa) memilih untuk melanjutkan pendidikan di STOVIA. Tanggal 25 Januari 1902 Soewarno diterima sebagai pelaja STOVIA dan dinyatakan lulus pada tanggal 20 September 1910. Soewarno dikenal sebagai pelajar STOVIA yang pendiam dan mahir menulis dalam bahasa Belanda. 

  

 6.    R. Angka Prodjosoedirdjo

Angka Prodjosoedirdjo lahir di Madukara, Banjarnegara, Jawa Tengah pada tanggal 13 Desember 1887. Pendidikan formalnya dimulai dari Holland Indische School (HIS) dengan nilai yang baik sehingga diizinkan untuk mengikuti pendidikan di Hoogere Burger Schoo (HBS), kemudian dilanjutkan masuk STOVIA pada tanggal 4 Januari 1904. Angka merupakan pribadi yang sangat hati-hati, sehingga dalam pembentukan pengurus Boedi Oetomo didaulat untuk menjadi bendahara. Pada tanggal 30 Juli 1912 Angka mampu menyelesaikan pendidikannya di STOVIA dengan predikat cumlaude. Berkat prestasinya tersebut STOVIA memberikan hadiah jam saku berantai dengan gantungan terbuat dari emas dan kuku macan.

  7.    Soeradji Tirtonegoro

Soeradji Tirtonegoro lahir di Uteran, Ponorogo, Jawa Timur pada tahun 1887. Sejak kecil terbiasa untuk selalu belajar keras, sehingga dengan mudah bisa menyelesaikan pendidikan di Europesche Lagere School (Sekolah Dasar Eropa). Pendidikannya dilanjutkan di STOVIA pada tanggal 25 Januari 1902, dan berhasil mendapatkan gelar Inlandsche Arts pada tanggal 30 Juli 1912. Soeradji Tirtonegoro terlibat aktif mendirikan STOVIA sejak awal, nama organisasi Boedi Oetomo merupakan salah satu usulnya yang kemudian disetujui oleh peserta rapat.   

 8.    Soewarno

Data dan keterangan tentang Soewarno masih sangat terbatas sekali, karena setelah lulus dari STOVIA melanjutkan pendidikan kedokteran di Belanda. Berdasarkan arsip STOVIA Soewarno lahir pada tahun 1886 di Kemirie. Masuk STOVIA pada tanggal 6 Februari 1901 dan lulus pada tanggal 10 September 1910. Soewarno terlibat dalam pendirian organisasi Boedi Oetomo, dalam kepengurusan dipercaya sebagai komisaris.

 9.    Goembrek

Goembrek lahir dari keluarga bangsawan di Kebumen, Jawa Tengah pada tanggal 21 Juni 1886. Kedudukannya sebagai anak bangsawan memudahkan Goembrek untuk masuk Europesche Lagere School (Sekolah Dasar Eropa) di Purworejo yang diselesaikannya pada tahun 1901. Orang tuanya menginginkan Goembrek untuk menjadi pegawai pangreh praja (pegawai pemerintah), pendidikan dokter pada masa itu belum menjadi kebanggaan orang tua karena letak sekolahnya jauh dan belum menjamin kesuksesan di masa depan. Goembrek masuk STOVIA pada tanggal 25 Januari 1902, dan berhasil lulus pada tanggal 11 April 1911. Keterlibatannya dalam pendirian organisasi Boedi Oetomo, menjadikannya dipilih sebagai komisaris organisasi tersebut.

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *