Sejumlah Guru Besar dan alumni Universitas Indonesia (UI) mengunjungi Museum Kebangkitan Nasional, dalam rangka mendeklarasikan berdirinya Aliansi UI Toleransi pada Kamis, 30 Agustus 2018. Acara ini dihadiri oleh sejumlah Guru Besar UI seperti Prof. Dr. Saparinah Sadli, Prof. Riris Sarumpaet, M.Sc.Ph.D., Prof. Dr. Albertine Minderop, M.A., Prof. Dr. J.B. Sumarlin, Prof. Dr. Rahayu, S.H., dan Prof. Dr. Sulistyowati Irianto.

Gedung STOVIA yang kini menjadi Museum Kebangkitan Nasional merupakan cikal Fakultas Kedokteran UI. Ketua Presidium Aliansi UI Toleran Donny Gahral Adian mengungkapkan “Ini merupakan monumen sejarah dimana bahan baku Republik ini pertama kali dicetuskan, kita sebagai sebuah bangsa yang berbeda-beda suku, bahasa, dan agama berkumpul dan merasa menjadi sebuah bangsa. Jadi, tanpa ada STOVIA yang sekarang menjadi Museum Kebangkitan Nasional saya kira Republik ini tidak akan berdiri seperti yang kita saksikan sekarang ini.“

Foto Donny Gahral Adian (dok. Museum Kebangkitan Nasional)

Bangsa ini terdiri atas berbagai keragaman yang harus disatukan, dan cara menyatukan keragaman adalah dengan kesadaran. Kesadaran inilah yang pertama kali dibangun oleh dokter-dokter STOVIA, seperti dr. Wahidin, dr. Soetomo, dr. Tjiptomangunkusumo dan lain-lain. Merekalah founder kesadaran berdirinya Republik ini. Menginspirasi bangsa ini untuk melakukan perlawanan demi perlawanan dengan cara modern yaitu dengan organisasi.

Tanpa terlepas dari peran STOVIA dalam pembentukan kesadaran bangsa ini, Donny Gahral Adian mengatakan bahwa Museum Kebangkitan Nasional harus lebih dikenal masyarakat. Sosialisasi dengan seringnya diadakan acara yang mengajak kawan-kawan media dan perlu juga kita menjemput bola dengan mengunjungi sekolah-sekolah. Masyarakat perlu memahami betapa pentingnya museum ini dalam sejarah kesadaran nasional.  

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *