Sekolah Kedokteran Bumiputera atau yang biasa dikenal dengan nama STOVIA, merupakan sekolah yang awalnya merupakan diperuntukkan untuk mendidik pelajar bumiputera untuk menangani wabah cacar di Pulau Jawa. Pelajar Dokter Djawa atau yang nantinya menjadi STOVIA, dituntut untuk mampu mengaplikasikan ilmu kesehatannya di masyarakat. Sosialisasi kesehatan di masyarakat terus dilakukan dokter baik lulusan Sekolah Dokter Djawa maupun STOVIA. Sosialisasi kesehatan dan kebersihan kepada masyarakat ini, yang mengharuskan mereka harus mampu menggambar organ tubuh dan mengajarkannya kepada masyarakat luas. Pelajaran menggambar ini mereka dapatkan dari pelajaran anatomi di sekolah.

Contoh gambar tangan pelajar STOVIA “Anatomi Sistem Sirkulasi Darah” (sumber: koleksi KITLV)

Contoh gambar tangan pelajar STOVIA “Topografi Organ Perut dan Penelitian Psikis” (sumber: koleksi KITLV)

Sejarah pelajaran anatomi di Indonesia khususnya di Sekolah Dokter Djawa telah dimulai sebelum tahun 1875 ketika pendidikan berlangsung 3 tahun. Pada saat itu, diberikan 27 mata pelajaran termasuk kosmografi, mineralogy, geologi, anatomi, dan fisiologi. Pelajaran ini menggunakan bahasa melayu dengan menggunakan acuan sebuah diktat yang ditulis oleh para pelajar. Pelajaran anatomipun hanya disampaikan secara garis besar dan dangkal. Pelajaran ini diajarkan oleh tiga orang perwira kesehatan, yang dibantu dua orang asisten dokter Djawa, dan seorang pengawas.

Setelah tahun 1875, terjadi perubahan dan reorganisasi kurikulum berserta lama waktu sekolah. Dalam hal pelajaran anatomi dan fisiologi reorganisasi sulit dilakukan, karena kurangnya preparat, kurangnya mayat, kurangnya waktu dan lain sebagainya. Jika di akademi besar Eropa terdapat banyak tenaga yang baik dan tersedia, masih saja mengalami masalah dengan pembuatan preparat, maka di Indonesia tantangannya menjadi berlipat karena iklim tropis. Iklim tropis membuat mayat cepat membusuk, dan pelajar kesulitan dalam menyesuaikan waktu untuk dapat membedah serta menganalisis semua bagian tubuh. Belum lagi, jika mayat harus didatangkan dari Eropa, yang tentunya tidak akan bertahan lama di daerah tropis.

Pada tahun 1902, pelajaran dicurahkan dalam 14 hari untuk mempelajari mayat dan menganatominya selama 4-5 jam dalam setiap harinya, dengan pertimbangan setiap hari semakin buruk keadaan mayat. Sementara, pada tahun-tahun sebelumnya pelajaran anatomi kadang-kadang dilakukan kadang-kadang tidak. Tergantung pada ketersediaan mayat yang ada. Padahal kebutuhan dokter bumiputera sangatlah mendesak, mengingat wabah penyakit di Pulau Jawa terus merenggut beratus-ratus nyawa.

Kemudian pada tahun ajaran 1904, seorang guru anatomi, fisiologi dan histology mengusahakan dengan gigih membuat percobaan-percobaan, salah satunya dengan menyuntik sistem pembuluh darah yang berguna untuk memadatkan mayat. Kemudian mayat, dibenamkan dalam larutan formalin (yaitu zat yang diketahui untuk mencegah pembusukan) yang telah ditipiskan. Setelah dua minggu, terbukti mayat masih berada dalam kondisi utuh, dengan tidak menimbulkan pembusukan sedikitpun. Dampak keberhasilan percobaan ini adalah setelah tahun 1904, pelajar STOVIA dapat belajar anatomi dengan tidak terburu-buru, dan lebih mendetail.

Kini latihan anatomi, fisiologi dan histology dapat dilakukan secara rutin dengan preparat dan mayat yang memadai sebagai bahan praktikum tanpa takut mayat segera membusuk. Hal yang lebih mendukung lainnya adalah adanya diktat tentang anatomi dalam Bahasa Belanda yang semakin membuat pelajar STOVIA memahami seluk beluk pelajaran anatomi manusia. Kemudian semakin berkembanglah ilmu bedah yang sungguh berdampak pada pengetahuan anatomi dokter lulusan STOVIA. Sejak tahun 1920, pendidikan anatomi memanfaatkan ruang-ruang khusus yang sekarang menjadi bagian dari kompleks STOVIA di Salemba.

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *