Di Indonesia, pasangan berbeda keyakinan sulit untuk menikah. Ada beberapa interpretasi terkait UU Perkawinan, tetapi pada umumnya Kantor Catatan Sipil menolak mencatat pernikahan beda agama. Akhirnya, banyak pasangan yang berbeda agama memilih menikah di luar negeri. Namun, di zaman dahulu ternyata urusan cinta beda agama tidak serepot seperti sekarang. Banyak tokoh sejarah Indonesia yang memiliki pasangan berbeda keyakinan. Ada yang pindah agama saat menikah, ada juga yang tetap menganut agamanya masing-masing. Salah satunya adalah kisah cinta dr. Soetomo, sang pendiri Boedi Oetomo. Soetomo mempersunting seorang janda yang bekerja sebagai suster bernama Everdina Bruring. Ia adalah perempuan keturunan Belanda dan beragama Kristen. Everdina menjadi perempuan penting dalam hidup Soetomo. Soetomo tak akan lupa bagaimana pertemuan mereka, ketika ia menjemput Suster Everdina, yang baru datang untuk membantunya, di sebuah stasiun di kota Blora. “Romannya yang pucat, geraknya yang kurang berdaya itu, telah menarik hati saya…” tulis Soetomo dalam Kenang-kenangan Dokter Soetomo (1984) yang disunting Paul van der Veur. Soetomo pun mulai memahami kesedihan perempuan Belanda itu. Kedatangan Everdina ke Hindia Belanda adalah untuk menghibur diri setelah kematian suami terdahulunya. Kemudian keduanya pun akrab dan mulai berpacaran. Meski berdarah Belanda, Everdina tak menghalangi Soetomo melawan politik kolonial bangsanya. Mereka pun akhirnya menikah pada 1917. “Pernikahan ini telah menggoncangkan dunia yang berkepentingan,” tulis Soetomo. Pernikahan itu pun tak disetujui kakak perempuan Everdina, yang mengakibatkan retaknya hubungan antara keduanya. Kisah cinta mereka kemudian harus berakhir dengan kematian Everdina pada 1934. Soetomo begitu terkenang pada istri yang beda agama dan beda bangsa namun rela hidup susah bersamanya ini. Soetomo pun menyusul Everdina pada 1938. 

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *