Minggu, 28 Juni 2020 - 11:42:33 WIB
HISTORY TODAY: Hari Lahir RM. Goembrek (Pendiri Boedi Oetomo)
Diposting oleh : Muskitnas
Kategori: Artikel - Dibaca: 314 kali

Goembrek lahir pada 28 Juni 1885, sesuai dengan perhitungan tarikh Jawa. Ayahnya bernama R.M. Padmokoesoemo dan ibunya Raden Ajeng Marsidah. Nama goembrek berasal dari salah satu wuku dalam kalender Jawa, yaitu wuku ke-6 yang biasa disebut gumbreg. Masa kecil Goembrek hingga menjelang sekolah dihabiskan di Kebumen. Ia mengikuti ayahnya yang diangkat menjadi Wedana Kebumen (1886-1897). Karena Sekolah Dasar Eopa ELS (Europeesche Lagere School) hanya terdapat di ibukota Karesidenan Purworejo, maka ia mondok di tempat pakdenya, Bupati Purworejo R.M.T. Tjokronegoro III. Pada 1901 Goembrek menyelesaikan ELS.

Semula ayahnya menginginkan Goembrek menjadi pangreh praja, karena saat itu pendidikan dokter tidak menjadi favorit bagi orang tua kalangan pangreh praja. Apalagi letak geografis sekolah yang cukup jauh, yakni di Batavia. Biaya sekolah termasuk pemondokan yang tinggi serta ketidakpastian akan kesuksesan di masa depan, menjadi bahan pertimbangan ayah Goembrek. Sementara untuk menjadi pangreh praja, tinggal mengikuti ujian klein ambtenaar (pegawai rendah) setelah tamat ELS, bagi anak cucu keturunan bupati dan status sosial terjamin.

Sejak muda Goembrek sering menentang pendirian orangtuanya. Ia lebih memilih mengikuti jejak kakaknya yang masuk STOVIA pada 1900. Goembrek sendiri mengikuti ujian matrikulasi dan masuk STOVIA pada 25 Januari 1902. Di STOVIA Goembrek merasakan sistem kekolotan suksesi bupati berdasarkan keturunan. Ia tidak tinggal diam, bergabung dengan kelompok Soetomo yang masuk STOVIA setahun kemudian. Mereka sering berdiskusi masalah kebangsaan.

Pada rentang waktu, dari pembentukan sampai menjelang kongres I Boedi Oetomo, para pelajar STOVIA sibuk mengorbankan diri dan mencari dukungan bagi gerakan. Dengan latar belakang dari keluarga besar keturunan bupati, Goembrek berperan penting dalam melakukan pendekatan dengan bupati-bupati yang sejalan dengan perjuangan untuk mendukung Boedi Oetomo.

Setelah dilantik menjadi dokter bumiputera pada 11 April 1911, Goembrek mengikuti program ikatan dinas. Program tersebut harus dijalaninya paling kurang selama sepuluh tahun pada pemerintah Hindia Belanda. Goembrek pernah bertugas di 34 kota. Tercatat ia pernah menjadi anggota V.I.G (Vereeniging voor Inlandsche Artsen, Perserikatan Dokter Bumiputera) yang didirikan pada 29 September 1911. Ketika bertugas di Banten yang dijangkiti penyakit malaria, banyak korban meninggal dunia. Masyarakat menganggap bahwa hal itu merupakan perbuatan setan. Usaha pengobatan yang akan dilakukannya ditentang banyak orang. Bahkan Goembrek dilempari batu, hingga akhirnya menyelamatkan diri dengan bersembunyi dalam gorong-gorong.

Goembrek menikah pada 22 Februari 1920 dengan R. Adjeng Samsidah. Setelah menikah Goembrek bertugas di Wonosobo (1925), Semarang (1925-1926), Kendal (1926-1941), selanjutnya pensiun dan kembali ke daerah Banyumas. Tugas utama Goembrek adalah pemimpin pemberantasan penyakit cacing pita dan propaganda kesehatan higienis. Kedudukannya di Kendal digantikan oleh dr. Angka yang baru dimutasi dari Boyolali.

Saat Jepang berkuasa, pada 1943-1948 dr. Goembrek diangkat menjadi pegawai negeri Karesidenan Banyumas sebagai pemimpin PPPOK (Poesat Pertjontohan dan Pendidikan tentang Oesaha Kesehatan). Setelah penyerahan kedaulatan Belanda pada 1950, dr. Goembrek melaksanakan pengabdian lagi kepada Pemerintah RI. Sejak 1 Desember 1950 ia ditetapkan sebagai pegawai upah bulanan Dokter Kelas 1 Sementara di Sanatorium Karangmangu, Banyumas.

Sebagai dokter yang tidak berpraktek swasta, ia tidak dapat menolak pasien berobat di luar jam dinas tetapi menolak dibayar. Goembrek secara resmi pensiun per 1 Agustus 1948 pada usia 62 tahun. Di era 1950-an ia aktif kembali dan ditunjuk memimpin Sanatorium Karangmangu (1952-1957) dan merangkap jabatan sebagai Pemimpin RSU Banyumas (1955- 1956). Sejak 1 Oktober 1964 dalam usia 78 tahun, ia berhenti sebagai dokter pengawas LP Banyumas. Goembrek wafat pada 19 Januari 1968 pada usia 82 tahun di Banyumas tanpa meninggalkan keturunan. Ia dimakamkan di Pasarean Dawuhan Banyumas. Kini namanya diabadikan sebagai nama jalan di Banyumas.



» Berita Terkait






Artikel (128)
Berita (24)
Kajian (7)
Kegiatan (0)
Virtual Tour Muskitnas (1)