Sabtu, 06 Juni 2020 - 08:35:56 WIB
Gejolak Api Sukarno Muda dalam Masa Pergerakan Nasional
Diposting oleh : Muskitnas
Kategori: Artikel - Dibaca: 239 kali

Hari ini, 119 tahun yang lalu Putra Sang Fajar lahir ke dunia. Tepatnya pada Kamis Pon tanggal 18 Sapar 1831 tahun Saka, bertepatan dengan tanggal 6 Juni 1901 di Lawang Seketeng, Surabaya. Ia adalah anak kedua dari kandungan ibu Idayu Nyoman Rai. Ayahnya bernama R. Soekemi Sosrodihardjo. Sukarno pada awal kelahirannya diberi nama Kusno Sosrodihardjo. Namun karena ia sering sakit, maka ketika beliau berumur lima tahun namanya diubah menjadi Sukarno. Nama tersebut diambil dari cerita pewayangan yakni seorang panglima perang dalam kisah Perang Bharata Yudha yaitu Karna. Nama "Karna" menjadi "Karno" karena dalam bahasa Jawa huruf "a" berubah menjadi "o" sedangkan awalan "su" memiliki arti "baik".

Sukarno menempuh pendidikan formal pertama kalinya di sekolah Frobel. Sekolah ini merupakan persiapan bagi anak-anak yang akan melanjutkan ke jenjang Europeesche Lagere School (ELS). Pada tahun 1908, Sukarno melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Angka Dua (Inlandsche School) di Sidoarjo. Pada usia 12 tahun, Sukarno oleh Raden Soekemi Sosrodihardjo dimasukkan ke sekolah Angka Satu di Mojokerto dan duduk di kelas enam. Kemudian, ia dipindahkan oleh orang tuanya ke sekolah Europeesche Lagere School (sekolah dasar Eropa) di Mojokerto. Keseriusannya dalam belajar telah menjadikannya masuk dalam lingkup anak-anak yang berprestasi dan lulus tepat waktu. Raden Soekemi kemudian mendaftarkan anaknya ke Hogere Burger School (HBS) di Surabaya, Jawa Timur. Pada tahun 1916, Sukarno resmi menjadi siswa kelas satu Hogere Burger School.

Sukarno untuk pertama kalinya mengenal dunia politik waktu in de kost di rumah H.O.S. Tjokroaminoto yang terletak di kota Surabaya. Beliau ini adalah seorang politikus nasional yang terkemuka dan memimpin organisasi Sarekat Islam. Di rumah beliau inilah, Sukarno berkenalan dengan tokoh aktivis politik pergerakan nasional seperti: K.H. Ahmad Dahlan, Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, Agus Salim, Suwardi Suryaningrat, Muso, Alimin, dan Darsono. Berkat pergaulannya dengan tokoh-tokoh aktivis politik telah mempengaruhi jiwa Sukarno dalam dunia politik. H.O.S. Tjokroaminoto juga merupakan mentor politiknya. Pada suatu hari, Sukarno mendapatkan kesempatan untuk berpidato menggantikan posisi H.O.S. Tjokroaminoto yang berhalangan hadir. Peristiwa ini merupakan pengalaman yang sangat berharga dalam dirinya dan ternyata orasinya berhasil mempengaruhi massa. Keberhasilannya dalam membangkitkan semangat rakyat ternyata menjadi daya pendorong bagi Sukarno untuk terjun dalam kancah organisasi pergerakan politik. Untuk pertama kalinya, ia masuk menjadi anggota perkumpulan politik yang bernama “Tri Koro Darmo”. Peran Sukarno dalam organisasi tersebut telah menjadikan dirinya semakin terkenal. Ia aktif melakukan sosialisasi nilai-nilai kebangsaan, membaktikan diri, mengembangkan kebudayaan asli (tarian Jawa dan gamelan), dan melakukan kerja sosial.

Pada bulan Maret 1921, Sukarno dengan berani melakukakan terobosan baru dengan mencanangkan supaya keanggotaan “Jong Java” tidak terbatas hanya bagi siswa-siswi sekolah lanjutan dan menengah. Di samping itu, ia juga menggagas penggunaan bahasa Melayu dan bukan bahasa Belanda dalam penerbitan surat kabar “Jong Java”. Ide tersebut ternyata menimbulkan perdebatan yang cukup sengit di kalangan anggota “Jong Java”. Sukarno tetap mempertahankan pendapatnya dan berargumen tentang nilai bahasa Melayu dengan penuh semangat. Sukarno yang semakin gelisah melihat rakyat yang kebanyakan menderita akibat penjajahan telah mendorongnya terjun dalam dunia pergerakan politik nasional. Ia masuk menjadi anggota Sarekat Islam sebagai tempat untuk menyalurkan aspirasi politiknya.

Ia begitu sadar akan realitas politik bangsanya yang sedang dijajah memilih melanjutkan studinya di Technische Hogeschool Bandung. Di kota inilah, Sukarno sering kali terlibat dalam demonstrasi politik Radicale Concentratie. Pada tahun 1926, Sukarno mendirikan Algemene Studie Club di Bandung yang merupakan hasil inspirasi dari Indonesische Studie Club oleh Dr. Soetomo. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada tahun 1927. Sukarno terpilih menjadi ketua dewan pengurus umum PNI yang pertama kali. Kedudukan Sukarno sebagai ketua dewan pengurus umum PNI kemudian segera menyusun program perjuangan partai.Adapun program dari PNI tertuang dalam pasal 2 anggaran dasarnya yang merumuskan tujuannya utamanya adalah kemerdekaan Indonesia sepenuhnya. Sedangkan pasal 3 berisikan tentang kerjasama dengan semua organisasi di Indonesia untuk mencapai tujuan yang sama yaitu Indonesia merdeka. Garis perjuangan PNI adalah nonkooperasi dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Dalam waktu yang singkat pengaruh PNI pimpinan Sukarno telah mempengaruhi pergerakan politik nasional.

Pada tanggal 27 sampai 30 Mei 1928, PNI mengadakan kongres yang pertama di kota Surabaya. Dalam kongres ini, Sukarno benar-benar menjadi medan magnet bagi massa yang hadir. Seribu orang simpatisan terbuai oleh orasi Sukarno. Sang ketua PNI ini menyerukan bahwa jiwa nasional akan melahirkan tekad nasional yang akan mendorong lahirnya usaha nasional. Kemudian PNI juga mengeluarkan keputusan menerbitkan majalah sendiri dengan nama “Suluh Indonesia Muda”. Sukarno juga menjadi salah satu redakturnya dalam majalah tersebut. Sukarno juga menjalin kerjasama dengan dengan Kwee Kek Beng.Ia adalah kepala redaktur surat kabar harian Cina yang bernama Sin Po. Pendek kata pena dan lidahnya selalu mendapatkan perhatian dan dukungan rakyat. Dimanapun, ia berorasi dan menulis tidak pernah lolos dari intaian pihak pemerintah kolonial Belanda. Sukarno benar-benar seorang politikus pergerakan nasional yang bertindak sebagai penyambung lidah rakyat dan bertindak selaku juru bicara rakyat Indonesia. Secara berangsur-angsur, Sukarno semakin terkenal dan PNI mulai mengakar dan terus berkembang di masyarakat. Kelihaiannya dalam berpidato dan membangun kesadaran rakyat membuat rakyat menjulukinya sebagai “Singa Podium”.

Seiring dinamisnya kegiatan PNI, pengawasan pemerintah kolonial pun semakin ketat. Para pemimpin PNI yang menggalang kekuatan tak hanya di kalangan partai, juga meluaskan perannya dengan mendirikan Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) yang menjadi motor berbagai pertemuan politik dan Sumpah Pemuda pada 1928. Iklim politik kembali memanas seiring kemunculan pemimpin-pemimpin politik yang baru itu. Ketegangan yang terjadi sejak berdirinya PNI akhirnya berujung pada penangkapan para pemimpin PNI. Pada 29 Desember 1929, Sukarno beserta Maskoen, Soepriadinata dan Gatot Mangkoepradja ditangkap di Yogyakarta usai menghadiri rapat umum yang diselenggarakan PPKI.

Pada tanggal 1 Desember 1930, Sukarno mengucapkan pembelaannya di pengadilan negeri Bandung. Sukarno menegaskan bahwa PNI berusaha menyadarkan rakyat bagi terciptanya perbaikan dengan melalui berbagai kursus-kursus yang kelak akan mendatangkan Indonesia merdeka. Aktivitasnya dalam PNI tidak melanggar hukum yang dituduhkan. Pembelaannya ini dikenal oleh rakyat dengan nama “Indonesia Mengugat”. Bagaimanapun usaha Sukarno yang sangat gigih ini ternyata tidak berhasil menyakinkan hakim pengadilan. Pada tanggal 22 Desember, ia dinyatakan bersalah oleh pengadilan negeri Bandung. Sukarno dijatuhi hukuman pidana selama 4 tahun penjara di lembaga pemasyarakatan Sukamiskin Bandung.

 

Kontributor:

Zulfa Nurdina Fitri

 

Sumber:

Adams, Cindy. 2014. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Jakarta: Yayasan Bung Karno.

Giebels, Lambert. 2001. Sukarno Biografi 1901-1950. Jakarta: Gramedia.

Kasenda, Peter. 2014. Sukarno Muda: Biografi Pemikiran 1926-1933. Jakarta: Komunitas Bambu.

Triyana, Bonnie. Riwayat Berdirinya PNI. (https://historia.id/politik/articles/riwayat-berdirinya-pni-PGj0V, diakses pada 5 Juni 2020).

Yatim, Badri. 1999. Sukarno, Islam, dan Nasionalisme. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.



» Berita Terkait






Artikel (123)
Berita (24)
Kajian (7)
Kegiatan (0)
Publikasi (1)
Virtual Tour Muskitnas (1)