Minggu, 24 Mei 2020 - 02:39:02 WIB
Menilik Momen Idul Fitri Dulu dan Kini
Diposting oleh : Muskitnas
Kategori: Artikel - Dibaca: 301 kali

Bulan puasa Ramadan tahun ini telah usai, meskipun suasananya kali ini sangat berbeda dari sebelumnya, Umat Islam siap untuk menyambut hari kemenangan Idulfitri 1441H pada 24 Mei 2020.

Sebelumnya, sama seperti masa sekarang, perdebatan mengenai penentuan awal Ramadan juga telah ada sejak dulu kala. Pada masa sekarang, penentuan awal Ramadan ditentukan dengan perhitungan hisab dan rukyat yang dipimpin Kementerian Agama. Namun, pada masa penjajahan pihak yang menentukan awal Ramadan adalah Perhimpoenan Penghoelo dan Pegawainya (PPDP) atau lebih dikenal Hoofdbestuur. Meski demikian, ternyata dua organisasi Islam terbesar di Indonesia. Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU) memiliki Hoffdbestuur-nya sendiri. Lembaga itu juga memiliki peran besar terhadap penentuan awal Ramadhan.

Setelah momentum satu bulan puasa dilaksanakan, tibalah saatnya umat Muslim menyambut hari kemenangan yang begitu dinantikan. “Tahun Baru Pribumi (Inlands Niewjaar),” demikian orang Eropa dan pejabat Belanda di Hindia Belanda menyebut hari Lebaran. Mereka juga menganggap bulan Syawal selayaknya bulan Januari, yang penuh dengan perayaan. Hiruk-pikuk perayaan lebaran ini juga tak lepas dari pengamatan penasihat pemerintah kolonial, Snouck Hurgronje, mencatat kebiasaan saling berkunjung dan mengenakan pakaian baru pada hari Lebaran mirip dengan perayaan tahun baru di Eropa.

Momen spesial pertama saat Idulfitri adalah melaksanakan shalat Idulfitri bersama keluarga. Ketika itu Pemerintah Kolonial Belanda masih memiliki kontrol terhadap sistem pemerintah Indonesia. Walau demikian, umat Muslim di Indonesia masih diberikan keleluasaan dalam menjalankan ibadahnya sesuai dengan keyakinan. Pemerintah Kolonial baru mengizinkan shalat ied berjamaah secara terbuka untuk kali pertama pada 1927. Sebelumnya, umat Muslim melakukan shalat hanya berada di masjid kampung. Belanda masih membatasi ruang lingkup umat Islam, apalagi jika jamaah berkumpul dalam jumlah yang sangat besar.

Pihak Kolonial Belanda takut terhadap gerakan yang bisa memobilisasi massa, karena acara di tempat terbuka rentan mengancam pemerintah pada saat itu. Baru setelah 1929, Pemerintah Kolonial Belanda memberikan kelonggaran kepada umat Muslim untuk melaksanakan shalat ied berjamaah. Namun, Pemerintah Hindia Belanda yang memberikan tempat pelaksanaan shalat beserta jumlah jemaah. Ini dilakukan untuk mengawasi agar kegiatan ibadah tak berubah menjadi aksi perlawanan. Salat ied berjamaah di ruang terbuka diizinkan pertama kali di Koningsplein atau Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, yang kala itu masih bernama Batavia.

Kemudian dilansir pada koran Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie pada tahun 1939, bahwa shalat Ied bersama juga digelar di Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng) dengan imam Hadji Muhammad Isa yang saat itu menjabat Ketua Hooft voor Islamietische Zaken (Mahkaman Urusan Agama Islam) dan khatib Hadji Mochtar anggota Hooft voor Islamietishe Zaken. Untuk memudahkan mobilitas umat Islam menuju Waterlooplein, pemerintah kolonial  Belanda saat itu mengerahkan trem ekstra dari Meester Cornelis (kini Jatinegara) ke Benedenstad (Kota Tua).

Kini, meskipun Idulfitri tidak bisa kita rayakan semeriah biasanya, namun spirit dari hari raya ini harus tetap kita jaga. Seperti kata Bung Karno usai salat ied pada tahun 1943, “Tiada bangsa dapat mencapai kemenangan, kalau tiada tahan menderita. Inna ma’al usri yusro –kebahagiaan sesudah kesusahan! Bulan puasa diangggap sebagai medan latihan diri untuk tahan menderita. Marilah kita hadapi tahun yang baru ini sebagai satu bangsa, yang benar-benar telah terlatih tahan menderita dalam bulan Ramadan”. Mari kita sambut hari kemenangan ini dengan sucikan diri, bersihkan hati, dengan disertai doa yang tak henti agar pandemi ini segera berakhir. Terima kasih untuk Sobat Muskitnas sekalian yang sudah peduli menjaga diri dan sesama dengan tetap #DiRumahAja dan tidak mudik. Sekarang silaturahminya virtual dulu ya.

 

Kontributor: Zulfa Nurdina Fitri

Sumber:

Hurgronje, Snouck. 1973. Islam di Hindia Belanda. Jakarta: Bhratara.

Prattama, Aswab Nanda. (2019). Mengenang Ramadhan di Era Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. (https://nasional.kompas.com/read/2019/05/13/11104241/mengenang-ramadhan-di-era-pemerintah-kolonial-hindia-belanda, diakses pada 23 Mei 2020).



» Berita Terkait






Artikel (123)
Berita (24)
Kajian (7)
Kegiatan (0)
Publikasi (1)
Virtual Tour Muskitnas (1)